web tracker Yakin Mau Jadi Dokter? Ini Lho 9 Hal Yang Menghalangimu Jadi Dokter - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Yakin Mau Jadi Dokter? Ini Lho 9 Hal Yang Menghalangimu Jadi Dokter

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn7
Ads
Advertisement

Dokter bisa dibilang merupakan salah satu profesi yang paling diidamkan. Adalah mimpi setiap orang tua bila bisa mengkuliahkan anaknya di fakultas kedokteran. Bagaimana tidak, profesi dokter sering diidentikkan dengan pekerjaan mulia yaitu memyembuhkan orang sakit. Jika diri kita atau orang tua menderita sakit, bahkan sakit parah, kita akan sangat berterima kasih dan mungkin kagum dengan dokter yang telah melakukan pekerjaannya. Selain itu, tidak bisa dipungkiri, dokter identik dengan penghasilan besar dan hidup mewah; barangkali ini merupakan faktor terbesar yang mendorong orang banyak untuk kuliah kedokteran.

Meskipun demikian, perjalanan untuk menjadi dokter sangatlah tidak mulus; bisa dikatakan cukup berat. Setelah menjadi dokter pun, belum tentu ekspektasi yang diharapkan bisa terpenuhi. Intinya, menjadi dokter tidaklah seindah yang dibayangkan kebanyakan orang yang tidak memahami profesi tersebut.

Kamu ingin menjadi dokter? Atau kamu ingin anak-anakmu menjadi dokter? Berikut adalah hal-hal yang harus diketahui sebelum benar-benar membulatkan tekad memilih profesi tersebut

Sekolah yang Lama

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa perjalanan menjadi dokter tidaklah ringan. Di fakultas lain masa studi bisa diselesaikan dalam 4 tahun—bahkan ada yang 3,5 tahun bagi mereka yang pintar—namun untuk menjadi dokter waktu yang dibutuhkan minimal adalah 5 tahun. Malah, masih ada beberapa fakultas kedokteran (FK) di beberapa universitas yang masih menerapkan pendidikan 6 tahun.

Jenjang pendidikan kedokteran secara umum dibagi 2, yaitu tahap sarjana kedokteran dan pendidikan profesi yang lebih dikenal sebagai tahapan koas. Tahap sarjana bisa ditempuh minimal selama 3,5 atau 4 tahun, tergantung kebijakan masing-masing FK. Perlu diketahui, jika di fakultas lain mungkin ada program percepatan, maka di FK tidak ada. Tiga setengah atau empat tahun benar-benar waktu fix yang harus dilalui. Setelah diwisuda menjadi sarjana kedokteran (S.Ked), calon dokter pun langsung menjalani pendidikan profesi di rumah sakit.

Jika dihitung-hitung, saat mahasiswa fakultas lain rata-rata sudah lulus, berpenghasilan, punya istri dan anak, mahasiswa FK sedang jaga malam di RS :p

Proses Pendidikan yang Berat

Tidak hanya lama, pendidikan kedokteran juga dikenal sebagai pendidikan yang tidak mudah. Tanyakanlah kepada para mahasiswa fakultas lain yang bertetangga dengan fakultas kedokteran; mereka akan mengatakan bahwa teman-teman di FK menjalani pendidikan yang berat. Itu baru fase S.Ked; di masa koas, proses pendidikannya pun menjadi jaluh lebih menantang.

Kuliah kedokteran identik dengan banyaknya materi yang harus dipelajari. Tidak seperti kuliah teknik atau sains yang banyak bermain logika, orang yang mempelajari ilmu kedokteran dituntut untuk banyak membaca. Jika tidak banyak membaca, otomatis tidak akan banyak tahu dan dijamin ketika ujian pun bingung. Memang banyak yang harus “dihapal” layaknya pelajaran biologi ketika SMA, namun juga harusdipahami agar benar-benar bisa mengerti dan ilmunya tidak hilang begitu saja. Alhasil, pekerjaan mahasiswa FK ialah banyak membaca.

Sekarang hampir semua (atau semua ya?) FK sudah menerapkan sistem kurikulum yang menuntut mahasiswa untuk “belajar sendiri”, atau disebut dengan kurikulum problem based learning (PBL). Pada sistem ini, kuliah amat minim…di FK saya sendiri kuliah tentang ilmu kedokterannya hanya sekitar 6 jam per minggu. Sisanya dipelajari dalam kelompok diskusi PBL, yang notabene tiap mahasiswa harus mencari dan belajar sendiri. Bagaimana ketika diskusi bingung dan mentok? Jangan berharap bertanya ke dosen; mungkin ada dosen berhati malaikat yang mau menjawab, namun kebanyakan akan menjawab, “Baca sendiri, ya!” Begitulah, mahasiswa benar-benar harus membaca sendiri textbook.

Bentuk ujian di FK pun tidak hanya berupa ujian tulis. Ada bentuk ujian yang meminta mahasiswa untuk mempraktekkan keterampilan klinik, apakan itu berupa wawancara medis, pemeriksaan fisik, atau tindakan bedah. Ujian ini dikenal dengan OSCE. Keterampilan tersebut diujikan ke standard patient atau ke manekin, langsung di hadapan penguji, dan peserta rata-rata hanya diberi waktu 10 menit. Setelah selesai, peserta keluar ruangan dan berpindah ke ruangan selanjutnya untuk mempraktekkan keterampilan yang berbeda, tergantung soal. Dan, bagi yang pernah merasakannya, seperti naik roller coaster J.

Yahh, menurut saya pribadi, ujian OSCE “tidak seberapa” dibandingkan ujian SOOCA. Tidak semua FK menerapkan jenis ujian ini. Intinya, ada 15 kasus yang mesti dipelajari oleh mahasiswa. Saat ujian, kasus tersebut akan diundi, dan peserta diberi waktu 20 menit mempresentasikannya di hadapan 2 penguji. Bagi yang pernah mengalaminya, rasanya seperti jatuh dari gedung tinggi :p

Tahapan Koas yang Melelahkan

Koas atau “dokter muda” merupakan tahapan pendidikan profesi yang dijalani di rumah sakit. Peserta didik akan mengitari setiap departeman yang ada di RS, seperti depaertemen penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, bedah, kebidanan dan kandungan, dst. Proses ini ditempuh selama 1,5 atau 2 tahun. Di tahapan ini, ilmu yang dipelajari di masa sarjana diterapkan di tiap bagian…walau kebanyakan sih “belajar lagi dari awal” karena apa yang ada di saat mahasiswa sudah dilupakan :p. Tidak heran kalau koas selalu dimarah-marahi oleh konsulen (dokter spesialis pengajar).

Sama seperti ketika sarjana, jangan berharap ada kuliah atau ada konsulen yang mau mengajarkan atau menjawab pertanyaan. Jika ada koas bertanya, kebanyakan akan ditanya balik, dan ujung-ujungnya disuruh belajar sendiri…dan benar-benar harus dipelajari karena keesokan hari sang konsulen bisa menagihnya. Ya karena itulah, penting untuk berdoa supaya dapat konsulen yang baik, heheh.

Kemudian, pamungkas dari tahap koas ialah jaga malam. Frekuensi jaga tergantung bagian, ada yang seminggu sekali, seminggu dua kali, dua minggu tiga kali…dan setelah selesai jaga malam, paginya langsung lanjut bertugas hingga sore. Jadi, masuk dari pagi dan baru pulang besok sorenya. Ya masih bisalah curi-curi waktu tidur. Berdoa saja residen (dokter yang sedang menempuh pendidikan dokter spesialis) baik hati dan tidak banyak menyuruh-nyuruh. Jadi tidak perlu heran setelah bertugas satu setengah hari nonstop kebanyakan koas menjadi zombie.

Usai Pendidikan Selama 5-6 Tahun, Dihadapkan dengan Uji Kompetensi Nasional

Ujian ini dulu dikenal dengan Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sekarang berganti nama menjadi Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter (UKMPPD). Setelah selesai masa koas, calon dokter belum bisa menjadi dokter jika belum lulus ujian ini.

Terdiri dari 2 bentuk, yaitu ujian tulis dan ujian OSCE, ujian ini diselenggarakan secara nasional dan standar soalnya pun skala nasional, seperti UN. Jika belum lulus ujian, calon dokter mesti menunggu 3 bulan berikutnya untuk ujian ulang. Dalam setahun, uji kompetensi diselenggarakan empat kali. Kalau belum lulus juga, terus saja ujian ulang sampai lulus. Saya dengar, ada yang ikut sampai belasan kali tapi belum lulus juga :O.

Ujian ini penting untuk menjaga kualitas dokter Indonesia. Saat ini ada 73 atau lebih FK di negeri ini dan belum semuanya terakreditasi. Ilmu kedokteran tidak berhubungan dengan mesin, benda mati, atau hewan; ia diaplikasikan untuk manusia hidup. Tentu mengerikan bukan jika kita atau keluarga kita diobati oleh dokter yang kualitasnya tidak jelas? Karena itulah, calon dokter benar-benar harus belajar keras menghadapi ujian ini, terlebih nilai minimal untuk lulus ialah 68. Weewww….

Lalu Setelah Disumpah Menjadi Dokter, Wajib Mengikuti Program Penempatan Selama Setahun dengan Pemasukan di Bawah Gaji Standar Buruh

Program ini dikenal dengan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) atau lebih dikenal dengan internsip. Program ini ialah syarat agar dokter yang baru lulus tersebut bisa menjalankan praktek. Kalau belum menjalani internsip, maka ia belum berhak untuk bekerja atau praktek.

Internsip dijalankan secara nasional dengan wahana kerja yang menyebar dari Sumatera hingga Papua. Jika beruntung, bisa dapat wahana kerja yang tidak jauh dari rumah, tapi jika kalah cepat, siap-siap untuk pergi ke daerah. Selama setahun, dokter internsip bekerja di puskesmas dan rumah sakit layaknya dokter, namun masih dalam bimbingan dokter senior. Yahh tergantung wahananya. Di daerah yang kekurangan dokter, peserta internsip akan bekerja layaknya dokter tetap.

Hal yang cukup disesalkan dari program ini ialah penghargaan kurang bagi dokter internsip. Gaji bagi mereka ialah 2.5 juta/bulan, sebelum dipotong pajak. Padahal, banyak dokter internsip yang bekerka layaknya dokter umum dan bahkan banyak juga yang sangat diberdayakan karena jumlah dokter yang kurang. Memang setiap wahana memiliki kebijakan apakah mau memberikan insentif tambahan, tapi banyak juga yang tidak memberikan apa-apa. Bisa dibayangkan bagi yang mesti ke daerah, berarti harus menyewa kostan dan mencari makan sendiri: gaji 2.5 juta tidak akan cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Bagi saya, cukup menyedihkan sudah bergelar dokter namun untuk kebutuhan hidup sehari-hari masih harus disuport orang tua….

Ke Depannya, Tahapan yang Harus Dilalui untuk Menjadi Dokter Sepenuhnya Terancam Menjadi 9 Tahun

Di Undang-Undang Pendidikan Kedokteran sudah tertuang apa yang disebut dengan Dokter Layanan Primer (DLP) untuk memenuhi kebutuhan era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di peraturan disebutkan bahwa dokter yang ingin bekerja di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS di tingkat pertama (seperti puskesmas, klinik pratama, dll) WAJIB menempuh pendidikan tambahan selama 3 tahun untuk menjadi DLP (setelah menjalani internsip). Artinya, jika ingin menjadi dokter umum yang praktek di klnik atau puskesmas, tahapan yang harus ditempuh ialah 5 tahun kuliah kedokteran, 1 tahun internsip, dan 3 tahun pendidikan DLP—total 9 tahun!

Bagaimana jika ada dokter yang tidak mau menempuh DLP? Dokter tersebut tidak berhak untuk praktek. Pilihan baginya ialah menjadi peneliti atau dosen (yang tidak praktek), ambil sekolah spesialis (yang rata-rata lama pendidikannya 5 tahun), atau jadi pedagang. Apakah selama sekolah DLP digaji? Ooo…tentu tidak. Jadi setelah capek-capek kuliah 5 tahun, sudah bergelar dokter, bagaimana caranya menghidupi diri dan anak istri? Yahh, silahkan pikir sendiri.

Siap-Siap Sering Digambarkan Miring oleh Media atau Dituntut Hukum

Seberapa sering laman media kita dipenuhi dengan berita-berita miring tentang dokter atau rumah sakit? Berita tentang pasien ditolak dokter atau rumah sakit selalu menarik minat pembaca. Setelah ditelusuri lebih jauh, kebanyakan berita tersebut memberikan informasi salah: bukan pasien ditolak, tapi kamar rawat inap penuh, atau pasien belum melengkapi berkas Jamkesmas/BPJS, atau tidak memenuhi kriteria perawatan menurut standar BPJS, dll. Tapi media ga mau tahu: pokoknya dokter dan rumah sakit menelantarkan pasien.

Terbaru ialah pemberitaan dari Tempo tentang suap dokter. Kewajiban setiap dokter untuk update ilmunya dengan mengikuti berbagai kegiatan ilmiah…dan untuk menyelenggarakan atau mengikuti acara ilmiah tersebut butuh biaya. Apakah negara mau membiayai? Jangan harap. Lalu dari mana lagi pembiayaan selain dari sponsor yaitu perusahaan farmasi? Namun sponsorship kegiatan ilmiah diartikan media sebagai gratifikasi.

Masih ingat kasus dokter Ayu spesialis kebidanan dan kandungan? Tidak ada prosedur yang dilanggar oleh dokter Ayu; kematian pasien terjadi akibat hal yang tidak diduga oleh dunia medis yaitu emboli paru. Tidak ada yang bisa memprediksi hal tersebut dan prosedur tetap sudah dijalankan oleh sang dokter. Tapi keberpihakan jarang kepada dokter. Media dan masyarakat lebih senang jika mendengar bahwa dokter melakukan malpraktik.

Jika menjadi dokter, bersiaplah untuk menghadapi hal-hal seperti ini.

Waktu untuk Pribadi dan Keluarga Harus Rela Dikorbankan Demi Pasien

Menurut saya, dokter ialah orang yang paling bisa memberikan excuse jika minimnya waktu yang diberikan untuk keluarga. Seorang pebisnis atau pegawai kantor banyak mendapat nasihat untuk mengutamakan keluarga karena mereka lebih berharga daripada pekerjaan. Tapi bagaimana dengan dokter? Bisakah menelantarkan orang sakit yang butuh bantuannya demi keluarga?

Dengan menjadi dokter, maka harus siap memiliki waktu yang sedikit untuk pribadi dan keluarga. Pun jika memiliki suami/istri/orang tua dokter, tidak perlu heran mereka pergi sangat pagi dan pulang sangat malam setiap harinya. Jaga malam, on call, dipanggil ke sana ke sini, operasi mendadak, kehangatan makan malam yang harus terganggu karena ada telepon dari RS, dll.

Jangan Pernah Berpikir Ingin Menjadi Dokter Supaya Kaya

Kenyataan tidak seindah apa yang dibayangkan. Dokter internsip hanya bergaji 2.5 juta/bulan (belum dipotong pajak). Dokter umum, jika buka praktek pribadi atau bekerja di RS, pemasukannya standar gaji pegawai kantoran

Penghasilan lebih besar bisa didapat jika menjadi dokter spesialis. Kesan elegan dan berduit mungkin melekat pada dokter spesialis. Tapi tidak juga. Di era BPJS ini, jasa medis sangat sangat kecil untuk dokter spesialis. Biaya operasi yang normalnya memakan biaya belasan atau puluhan juta, hanya dihargai tidak sampai sepuluh juta oleh BPJS. Jika JKN teraplikasi sepenuhnya, maka praktek dokter spesialis ga akan laku: semua pasien harus ke praktek umum dulu dan meminta rujukan untuk menghadap dokter spesialis. Kalau mendapat pasien, ya tadi, jasa medis amatlah jauh dari ekspektasi. Kita belum berbicara proses sekolah dokter spesialis yang mahal, lama, dan sangat berat….

Percayalah, jika niatnya supaya banyak uang, lebih baik menjadi pengusaha. Sangat disayangkan jika seluruh tantangan di atas dihadapi hanya demi uang.

Jika telah membulatkan tekad ingin menjadi dokter, niatkan lah karena memang memiliki passion di profesi kesehatan, atau karena memiliki niat beramal sesuai dengan profesinya, atau karena ingin melihat senyum pasien yang telah berhasil diobati.

Jika memiliki niat mulia, maka kesulitan-kesulitan seperti yang disebutkan di atas, insyaAllah, akan dapat dilewati dengan senyuman.

Sumber tulisan :

http://sayyidhakam.com/

 

 

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Ini Lho 9 Alasan Kamu Harus Jadi Dokter Gigi
views 8202
Mungkin selama ini orang pada males yah lanjutin sekolah ke perguruan tinggi apalagi jadi DOKTER GIGI. Udah gitu orang juga makin males berhubungan sa...
Berapa Lama Sih Biar Jadi Dokter Gigi?
views 52550
Seorang dokter gigi lahir setelah mengikuti pendidikan jenjang S-1 dan jenjang Profesi. Banyak mahasiswa kedokteran gigi menyebut jenjang S-1 tersebut...
10 Suka Dukanya Kalo Kamu Jadi Mahasiswa Dokter Gi...
views 10361
Menjadi dokter gigi adalah cita-cita yang sangat mulia. Untuk meraihnya pun perlu perjuangan yang tidak mudah. Ada begitu banyak rintangan yang harus ...
Dokter Gigi Profesi Mulia? Benarkah?
views 1523
image from http://www.scholesperio.com/ditulis oleh : Fadila Khairani Mahasiswa Fakultas kedokteran Gigi Universitas Indonesia di blog http...
Apa Ya Dokter Gigi Dinomorduakan?
views 8942
“Kok nggak ambil jurusan Kedokteran yang beneran aja?”Ah, pertanyaan itu lagi. Kuhela nafas panjang. Senyum di wajah harus tetap terkembang. And...
Mimpi Anak Penjual Apem Menjadi Dokter Gigi
views 2484
Siapa sangka, anak penjual kue apem asal Salatiga, tidak lama lagi akan menggapai mimpinya untuk menjadi Dokter Gigi.Saat ini, Setyaningsih, 22 ta...
#UKDGI 4 : drg. Belinda : Ini Cerita UKDGI ku, Man...
views 1897
Setelah menunggu laptop diservis, akhirnya jadi juga. Saya ingin cerita soal UKDGI (Ujian Kompetensi Dokter Gigi) OSCE bulan Oktober yang lalu. OSCE k...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn7