web tracker Ika Dewi Ana : Penelitian 15 Tahun Temukan Serbuk Penambal Tulang Dan Gigi - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Ika Dewi Ana : Penelitian 15 Tahun Temukan Serbuk Penambal Tulang Dan Gigi

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook152Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn3
Ads
Advertisement

Ika Dewi Ana, drg., PhD. adalah  seorang dokter gigi dan dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Indonesia yang menemukan formula obat baru bernama Gama-CHA sebagai serbuk penambal tulang dan gigi.

Ika Dewi Ana lahir di Yogyakarta, 16 September 1968. Menurut Ika penemuannya berhasil setelah melakukan penelitian selama 15 tahun. Perjuangannya tidak mudah. Agar sampai bisa diproduksi, produk ini pernah diuji pada hewan kecil hingga hewan besar. Sampai akhirnya diuji pada manusia.

Wanita yang sudah bisa disebut sebagai pakar ini pertama kalinya memamerkan karyanya di Hotel Borobudur Jakarta, Senin (18/8) yang dihadiri Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, Wamenkes Ali Ghufron Mukti, dan Dirut Kimia Farma Rusdi Rosman.

Hasil penelitian Dosen Fakultas Kedokteran Gigi, drg. Ika Dewi Ana, Ph.D., sudah melewati uji laboratorium dan uji klinis, serta mendapatkan registrasi dari Kementerian Kesehatan sehingga bisa diproduksi massal oleh Kimia Farma.

image from http://ugm.ac.id/
image from http://ugm.ac.id/

Keunggulan Gama-CHA

keunggulan Gama-CHA dibandingkan produk lainnya adalah secara klinis terbukti menjadi perancah tulang yang baik pada operasi regeneratif. Bahkan, Gama-CHA memungkinkan dokter gigi, ahli bedah mulut, periodontist, dan ahli ortopedi menggunakannya dalam terapi mempercepat pertumbuhan tulang yang hilang tanpa harus mengambil tulang pasien yang masih sehat. Apalagi, menggunakan tulang dari pasien yang sudah meninggal dari bank jaringan.

Teknologi CHA ini, memungkinkan perbaikan rahang pasca pencabutan gigi, perbaikan fraktur tulang rahang, dan mempecepat penyembuhan luka pada jaringan tulang. Pasalnya, Gama-CHA mengandung unsur karbonat, kristalinitas, dan polimer yang disesuaikan dengan komposisi tulang. Kolagen yang dipakai secara imunologis bisa diterima tubuh, sehingga mempercepat remodeling tulang.

Pengembangan Teknologi CHA-Nanokomposit untuk Rekayasa Jaringan dan Pelepasan Terkontrol

Suatu terapi yang berbasis potensi penyembuhan alamiah (natural healing potential) dengan bantuan perancah (scaffold) untuk mengatur organized patterning hingga skala nanometer pada pasien menjadi pilihan di masa depan. Terapi tersebut dikenal sebagai terapi regenerasi jaringan, yang dilakukan dengan cara menginduksi regenerasi jaringan atau organ menggunakan lingkungan buatan yang sesuai dengan kondisi biologis dan mampu memacu proliferasi dan diferensiasi sel ke arah regenerasi jaringan atau organ target. Istilah rekayasa jaringan mulai dikenal ketika pada tahun 1997 BBC menayangkan film dokumenter tentang “Vacanti Mouse”, yang diadopsi dari publikasi Cao dkk. (1997). Sejak saat itu, istilah rekayasa jaringan (tissue engineering) menjadi istilah yang dikenal oleh jutaan masyarakat dunia.

Baca Juga : Prof Bundi : Penemu Bahan Baru untuk Gigi Yang Tidak Pernah Praktek Dokter Gigi

Peneliti mengembangkan teknologi CHA (carbonate apatite) melalui metode disolusi-presipitasi mineral, sebagai suatu sistem perancah dalam rekayasa jaringan (Paten 1). Teknologi CHA yang disintesis dengan metode biomimetis tersebut saat ini telah dikembangkan menjadi komposit dengan dispersi ukuran nano untuk memfasilitasi pertumbuhan tulang (Paten 2) dan saat ini telah memasuki tahap komersialisasi, dengan PT GMUM (Gama Multi Usaha Mandiri), perusahaan milik UGM, dan beberapa BUMN yang bergerak dalam bidang Farmasi dan Obat-obatan. Saat ini CHA-nanocomposite tersebut (Paten 3 dan 4) telah dimanfaatkan pula untuk regenerasi saraf tepi, penghantaran obat, RNA sebagai vaccine adjuvant, dan microenvironment untuk memacu pertumbuhan dan diferensiasi sel punca ke arah pertumbuhan yang diinginkan.

Beberapa fakta serbuk penambal tulang dan gigi karya drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D.

1. Bisa perbaiki jaringan tulang dan gigi – Saat memamerkan serbuk karyanya itu, Ika menegaskan, obat yang dinamakan Gama-CHA itu mampu memperbaiki jaringan tulang dan gigi hingga identik seperti sedia kala. Identik maksudnya: produk-produk ini memakai campuran keramik dan polimer. Gama-CHA, diproses sesuai suhu tubuh. Kristalisasinya sesuai dengan tulang. Produk ini seperti bubuk.

2. Dijual Rp 500 ribu dan bisa digunakan para dokter gigi – Ika yang juga berprofesi sebagai dokter gigi itu juga ingin menerapkan obat buatannya kepada para dokter gigi seluruh Indonesia. Bahkan obat yang berupa serbuk ini akan dijual dengan harga yang terjangkau, yakni Rp 500 ribu.

3. Lebih cepat memacu perkembangan sel dalam tubuh – Ika menjelaskan, produk temuannya ini lebih cepat memicu berkembangnya sel. Sebab, selama dua bulan sudah bisa terbentuk. menurutnya, kalau penelitian ini, dua bulan sudah terbentuk asli. Memicu regenerasinya lebih cepat.

4. Belum temukan efek samping pada tubuh – Selama penelitian, obat ini sudah diuji coba kepada binatang dan manusia. Maka dari itu, Ika Dewi Ana, drg., PhD yakin tidak ada efek samping dalam produknya ini.

5. Ingin menembus target penjualan Rp 5 miliar perbulan – Menurut Ika, rencananya obatnya itu akan dipasarkan oleh perusahaan BUMN Kimia Farma. Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis Kimia Farma, Rusdi Rosman mengatakan, pihaknya optimistis dan menargetkan penjualan hingga Rp 5 miliar per bulan.

6. Sudah halal dan diminati sampai negara di Timur Tengah – Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis Kimia Farma, Rusdi Rosman mengatakan bahwa produk ini sudah diminati banyak negara di Timur Tengah. Sebabnya, negara-negara Arab tersebut meyakini kadar halal dalam produk temuan Ika ini.

Baca Juga : Dr. Irna Sufiawati, drg., Sp.PM : Tekun Teliti Infeksi HIV di Rongga Mulut

Sumber tulisan :

https://blogpenemu.blogspot.co.id

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook152Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn3