website statistics
Home > Sosok > Reiny Agustina : Dokter Gigi Cantik Yang Mengabdi Di Basarnas

Reiny Agustina : Dokter Gigi Cantik Yang Mengabdi Di Basarnas

Advertisement
Advertisement

Dokter cantik kelahiran Jambi, 7 Agustus 1977 ini tak pernah menyangka akan mendapat kesempatan menolong anggota Badan SAR Nasional (Basarnas). Istilahnya kini ia menolong penolong. Sejak 2012, dalam sehari Reiny Agustina bisa melayani hingga 10 anggota Basarnas di klinik gigi yang terletak di bagian bawah gedung. Keramahan pun senantiasa terpancar dari senyuman dan perkataannya.

“Mereka itu kan tugasnya menolong orang lain, sampai sering lupa sama kondisi diri sendiri. Sekarang tugas kami paramedis menolong mereka. Kami bantu merawat kondisi fisik mereka, terutama kesehatan gigi yang sering terlupakan. Mereka rawan sekali terkena penyakit saat bertugas di lapangan. Jangan sampai masalah gigi mengganggu kinerja mereka,” tutur dokter yang akrab disapa Reiny ini.

Di balik kiprahnya selama dua tahun terakhir di Basarnas, Reiny telah lebih dahulu mengabdi di klinik PT Garuda Indonesia selama sembilan tahun. Selain itu ia aktif mengedukasi masyarakat tentang kesehatan gigi di Pepsodent Dental Expert Center. Lulusan Kedokteran Gigi Universitas Trisakti ini memang sejak awal ingin bergiat dalam kegiatan-kegiatan sosial di samping membangun karier sebagai dokter gigi.

SENANG KEGIATAN SOSIAL

Tinggal berpindah-pindah di masa kecil mengikuti dinas orang tua membuat Reiny kecil sering berinteraksi di masyarakat dalam budaya dan permasalahan berbeda. Dari sini mulai timbul keinginan berkegiatan sosial yang tinggi. Sebab, ia merasakan kebahagiaan tersendiri jika bisa membantu banyak orang yang membutuhkan.

“Dari kecil saya ingin bisa bermanfaat dan menolong banyak orang. Maka setiap ada event bakti sosial, saya senang jika diajak. Kalau di dunia kesehatan, kepuasan itu datang ketika melihat orang yang sakit, kemudian membaik. Senang bisa menyaksikan keajaiban penyembuhan dari Tuhan berulang kali,” jelas putri sulung pasangan Mugni Sbarna (69) dan Lia Amelia (58) ini.

Di tengah kesibukan bekerja di RS Siloam dan RS Ibu dan Anak Kemang misalnya, Reiny mengabdikan diri di Dental Expert Center pada akhir minggu. Di sana ia memberikan konsultasi gratis pada masyarakat yang mengecek kondisi giginya.

Baca Juga : Ika Dewi Ana : Penelitian 15 Tahun Temukan Serbuk Penambal Tulang Dan Gigi

“Sebenarnya di Dental Expert Center itu lebih pada kegiatan edukasi. Saya membantu memeriksa kondisi gigi sebelum dilakukan perawatan. Agar tindakan perawatan gigi yang dilakukan sesai dengan kebutuhan dan kondisi gigi yang perlu diobati. Jadi bisa hemat biaya perawatan juga. Lebih baik menyelamatkan daripada kehilangan gigi karena dicabut,” jelas dokter ahli rehabilitasi dan estetika gigi ini.

Reiny sering sekali menyayangkan tindakan gegabah mencabut gigi tanpa sebelumnya memeriksakan kondisi gigi pada spesialis konservasi gigi. Pasalnya, kehilangan gigi ke depannya bisa mengakibatkan berbagai permasalahan serius seputar rahang.

image from http://majalahkartini.co.id/
image from http://majalahkartini.co.id/

PASIEN ADALAH TEMAN

Melayani dengan ramah menjadi kunci utama Reiny. Apalagi beberapa orang sering kalimemiliki ketakutan saat berobat ke dokter gigi. Reiny memperlakukan pasien saat perawatan gigi dengan lembut, sabar diiringi canda ramah.

Reiny bahkan tak segan mendengar curahan hati dan keluh kesah pasiennya. Ibaratnya bukan hanya merawat fisik saja melainkan juga psikologis pasien. Keramahan dan canda ringan darinya mendukung Reiny saat harus menghadapi pasien sulit, misalnya pasien yang skeptis atau malah ketakutan saat berobat sakit gigi.

“Saya memosisikan diri sebagai teman mereka, supaya mereka merasa nyaman dan rileks. Saat menjalani perawatan pun akan lebih mudah, dan mengurangi rasa takut pasien pada alat-alat pemeriksaan gigi.”

“Apalagi pasien di sini kebanyakan laki-laki kan. Mereka sering terlihat kaku sebelum pemeriksaan. Mungkin pertahanan diri mereka supaya tidak kelihatan takut. Maka saya sering ajak mereka mengobrol dulu agar rileks. Dokter gigi juga sebaiknya menguasai trik komunikasi personal. Pasien seperti teman. Saya memperlakukan mereka seperti saya ingin diperlakukan,” lanjut ibu dari Rafa Akbar Darmawan (5) ini.

Tak jarang Reiny bersenandung riang saat merawat gigi pasien, sambil membersihkan karang gigi atau merawat akar gigi yang bisa memakan waktu lebih dari satu jam, Reiny menyanyi lembut.

MERAWAT PENOLONG

Anggota Basarnas dianggap sebagai penolong masyarakat. Ketika bertugas di lapangan sering kali mereka mengabaikan kondisinya sendiri demi menolong orang lain. Kisah-kisah haru perjuangan mereka sering kali terlontar saat sesi perawatan gigi bersama Reiny. Dari sana bisa dibayangkan bagaimana kondisi anggota Basarnas saat bekerja. Hal sederhana seperti mandi dan menyikat gigi tentu sering terlewat saat kondisi gawat.

“Saya sering berbincang dengan anggota Basarnas, khususnya Special Group yang menjadi garda depan di daerah bencana. Melihat kondisi gigi mereka, saya bertanya apakah saat di gunung atau tempat bencana mereka sempat sikat gigi atau tidak? Jawabannya tidak. Boro-boro sikat gigi, mandi dan makan saja tidak sempat. Alasannya kesulitan air atau fokus mencari korban. Kondisi kesehatan gigi mereka pun jadi mengkhawatirkan.”

Mayoritas anggota Basarnas yang ditanganinya mengalami masalah nyeri gigi. Keluhan gigi sering kumat saat bertugas di daerah ekstrem, mendaki gunung atau saat menyelam ke dasar laut. Reiny merasa miris, kasihan jika para penolong itu harus merasakan nyeri gigi ketika mereka sedang bertugas. Konsentrasi pun akan terganggu.

“Kasihan mereka kalau sakit gigi saat bertugas. Di sela-sela bekerja pun belum tentu banyak waktu untuk pergi keluar merawat gigi. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan merawat mereka. Keluhan mereka sebagian besar ya nyeri. Makanya kami dokter di sini intens membantu mengobati dan minta mereka menjaga kesehatan gigi.”

Hebatnya, dari berbincang-bincang saja, Reiny bisa mengetahui masalah gigi pasiennya. Gusi bengkak bisa menyebabkan aroma napas yang kurang sedap. Dan gusi bengkak umumnya disebabkan adanya karang gigi. Pasiennya pun tidak merasa malu saat diperiksa. Rin juga mensyukuri kerja sama baik yang terjalin antara dirinya dengan pasien Klinik Basarnas. “Mereka inisiatif menjaga kesehatan giginya, meringankan kerja saya juga,” ujar Reiny terkekeh.

Terinspirasi dari Basarnas, Reiny juga mulai melakukan program Dental Record, yaitu pencatatan rekan medis gigi tiap pasiennya. Pekerjaan anggota Basarnas yang penuh risiko dan bahaya, menuntut perlunya ada medical record. Identifikasi mayat paling mudah dilakukan melalui pemeriksaan gigi. Sehingga saat terjadi hal yang tidak diinginkan, anggota bisa dengan mudah dikenali.

Baca Juga :

PERNAH CEDERA JARI

Pasien kanak-kanak merupakan salah satu pasien favoritnya. Selain kerusakan gigi masih mudah ditangani tanpa takut risiko komplikasi. Ia takjub dengan antusias anak-anak di daerah saat dilakukan pemeriksaan gigi.

“Saya suka anak-anak. Tapi kadang agak paranoid juga. Pernah saat saya bertugas di klinik terjadi kecelakaan. Ada anak tidak sengaja menggigit jari tengah saya saat perawatan gigi. Jari saya sampai mati rasa selama satu bulan. Setelahnya saya harus berobat ke dokter saraf dan minum beberapa obat untuk memulihkan saraf jari saya,” kenang Reiny yang pernah terjun langsung di Bakti Sosial Korban Gempa Padang Pariaman pada 2010 ini.

Reiny juga merasakan mudahnya memberi edukasi pada anak-anak untuk menjaga kesehatan gigi. Anak-anak memilikir asa ingin tahu yang besar. Hal itu membantu Reiny setiap kali menjelaskan perlunya merawat gigi. Apalagi saat diadakan bakti sosial kesehatan gigi di daerah luar Jakarta, anak-anak tak segan ertanya perihal kesehatan gigi. Edukasi seperti inilah yang menjadi agenda rutin Reiny.

image from http://majalahkartini.co.id/
image from http://majalahkartini.co.id/

EDUKASI BAHAYA KARANG GIGI

Mengapa Reiny intens mengedukasi mengenai kesehatan gigi? Sebab berdasarkan pengalamannya sebagai dokter gigi selama ini, masalah utama yang dihadapi adalah karang gigi. Karang gigi sering dianggap sepele. Padahal dari karang gigi bisa bermuara di penyakit-penyakit berat lainnya perawatan yang umum dilakukannya adalah pembersihan karang gigi, lalu berlanjut pada pengobatan gigi lainnya.

“Sayang karang gigi dianggap sepele. Sampai gusi bengkak dan berdarah pun tidak diperhatikan. Padahal di karang gigi banyak bakteri dari sisa-sisa makanan. Jika bakteri itu terbawa masuk ke pembuluh darah hingga bermuara ke jantung, bisa membuat plak dan menyebabkan katup jantung rusak. Saat daya tahan tubuh rendah, bakteri dari karang gigi itu juga bisa menyebabkan meningitis (radang selaput otak),” tutur istri dari seorang bankir, Fajar Dharmawan (41) ini.

Bahaya dari karang gigi yang dianggap sepele ternyata akibatnya bisa sejauh itu. Oleh karena itu Reiny tak henti menyebarkan informasi bahaya karang gigi dan pencegahannya. Menjaga gigi pun bisa dimulai dari hal mudah, yaitu menyikat gigi saat bangun dan akan tidur. Kemudian konsultasi enam bulan sekali ke dokter gigi. Layanan perawatan gigi pun sudah semakin mudah diakses di puskesmas dan klinik.

“Saya tidak mau lagi ada yang menganggap remeh masalah gigi akan selesai ketika gigi hancur dengan sendirinya. Mereka harus ingat kalau proses hancur atau patahnya gigi akan menyebabkan infeksi. Infeksi itu akan menyakitkan tubuh dan membuat tidak nyaman. Makanya saya akan terus berbagi info supaya masyarakat tidak lagi takut berubah ke dokter gigi,” tutup Reiny.

Baca Juga : Yustika Chrysandra : Dokter Gigi Yang Hobi Ngoper Gigi Motorsport

Sumber tulisan dan image :

http://majalahkartini.co.id/inspiratif/profil/dokter-gigi-reiny-agustina-perawat-gigi-anggota-basarnas

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0
admin
Admin website http://dental.id