counter free hit unique webKaries Gigi Pada Anjing dan Kucing. Mengapa? – dental.id
Ilmiah

Karies Gigi Pada Anjing dan Kucing. Mengapa?

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

 

Michael sangat merawat Kuro, anjing peliharaannya yang berwarna hitam lebat. Ia juga mempunyai Shiro, kucingnya yang berambut putih tebal dan lucu. Sebagai pecinta binatang, Michael sangat memperhatikan kesehatan binatang kesayangannya. Mulai dari kebersihan rambut, kandang, nutrisi makanan hingga kondisi psikis.

Namun ada satu hal yang kurang diperhatikan Michael, yaitu kebersihan rongga mulut (oral hygiene) hewan peliharaannya (domestic animals). Apakah anjing dan kucing juga membutuhkan perawatan kesehatan rongga mulut layaknya manusia?. Pertanyaan yang tak kalah menarik lagi adalah, apakah penyakit rongga mulut seperti karies gigi juga dapat terjadi pada anjing dan kucing?.

Manusia sederajat dengan anjing dan kucing, dalam taksonomi biologi. Mereka berada dalam satu kingdom animalia, filum chordata dan kelas mamalia. Dari sudut pandang ini, ketiganya pun memiliki kebutuhan biologis dasar yang sama, yaitu sama-sama butuh makan. Rongga mulut dan gigi geligi adalah komponen krusial bagi semua makhluk hidup dalam memenuhi kebutuhan alami untuk makan. Oleh sebab itu, kesehatan rongga mulut pun tentu sangat penting bagi semua makhluk hidup.

Dalam Journal of Clinical Infectious Diseases and Practice yang berjudul Dental Caries: A Microbiological Approach (2017) disebutkan bahwa penyakit karies gigi merupakan penyakit kronis yang tak hanya menjangkiti spesies manusia. Karies gigi juga dijumpai pada beruang, hewan liar dan umumnya pada hewan peliharaan (domestic animals) (Gorrel C, 2006).

Karies Gigi dan Manusia

Secara historis, penyakit karies gigi telah ditemukan sejak zaman kuno. Peradaban Sumeria dan Cina Kuno pada 5000-2500 SM pertama kali mengemukakan bahwa penyebab karies gigi adalah “cacing gigi”.

Seiring berkembangnya zaman, pra-anggapan ini berubah. Pada abad ke-18, seorang ahli bedah berkebangsaan Prancis, Pierre Fauchard, menolak bahwa karies gigi disebabkan oleh cacing gigi (Hoffman, 1981). Tahun 1890, barulah W.D Miller mengemukakan bahwa bakteri menghasilkan asam dan mengurai struktur gigi dengan adanya karbohidrat yang difermentasi lewat proses kimiawi menjadi sebab karies gigi (Kleinberg, 2002).

Pada manusia, karies gigi merupakan penyakit mulut yang sering menghantui. Ia sering dijumpai pada gigi anak-anak dan orang dewasa. Kata karies berasal dari bahasa latin yang berarti busuk. Karies gigi adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh interaksi lengkap antara mikroorganisme oral pada plak gigi (agent), diet makanan (substrat), kondisi gigi (host) dan intensitas waktu (Bader et al. 2001).

Biasanya, secara awam karies gigi disebut dengan gigi berlubang. Gigi berlubang pada tingkat yang lanjut dapat mengakibatkan nyeri akut dan sakit yang menusuk. Agar lebih mudah dipahami, lihat ilustrasi berikut:

Sejauh ini, para ilmuwan sepakat bahwa keempat faktor itu merupakan penyebab terjadinya karies pada gigi manusia. Oleh sebab itu, karies gigi juga sering disebut sebagai penyakit multifaktorial. Ketika keempat faktor tersebut terjadi dalam waktu yang bersamaan, maka karies akan tercipta. Bagaimana penjelasannya?.

Sebagai host, gigi manusia terdiri jadi 4 jenis; gigi insisif (Insisivus), gigi taring (caninus), gigi geraham kecil (premolar) dan gigi geraham besar (molar). Variasi gigi ini disebabkan oleh evolusi manusia dalam beradaptasi terhadap jenis makanan sehingga manusia tergolong makhluk omnivora. Karena manusia adalah makhluk omnivora, maka kondisi gigi geliginya tergolong variatif (heterodont).

Jenis dan pola makanan tentu sangat berpengaruh, bandingkan dengan buaya misalnya. Buaya adalah makhluk karnivora, oleh karena itu kondisi gigi geliginya pun menyesuaikan dengan kebutuhan alaminya itu. Jenis gigi taring akan banyak banyak dijumpai pada buaya sehingga mereka tergolong sebagai homodont.

5_Teeth_B_copyright_Nicholls_2014_904x881

Jenis gigi manusia yang variatif pun membuat bentuk gigi memiliki karakteristik tersendiri, gigi geraham besar (molar) misalnya. Pada gigi molar, akan dijumpai lekukan dalam berupa parit yang disebut dengan istilah pit dan fissure. Di tempat ini, sisa-sisa makanan akan mudah terselip sehingga dapat menyebabkan bakteri mudah berkembang biak. Tak heran, jika gigi molar merupakan jenis gigi yang paling sering mengalami karies.

fd4f852405ed43c72a863d2f6e4a0fdb--dental-anatomy-dental-laboratory

Gambar Permukaan Gigi Geraham Manusia

Substrat atau diet adalah faktor penting yang mempengaruhi proses terjadinya karies. Karbohidrat (gula) merupakan asupan pokok bagi manusia. Karbohidrat ada bermacam-macam, dan yang dapat menyebabkan karies gigi adalah karbohidrat golongan sukrosa. Sisa-sisa makanan yang terselip pada permukaan gigi akan menjadi bahan bakar bagi bakteri untuk melakukan proses fermentasi dan menghasilkan asam.

Di dalam rongga mulut, banyak dijumpai mikroorganisme golongan bakteri. Normalnya, keberadaan bakteri ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan rongga mulut (oral environment). Namun, pada kondisi tertentu, tingkat keseimbangan itu dapat terganggu disebabkan oleh aktivitas bakteri yang abnormal. Dalam konteks karies gigi, pertumbuhan bakteri jenis Streptococcus mutans sangat berlebihan sehingga membuat suasana lingkungan mulut (oral environment) menjadi asam.

Pembusukan sisa makanan oleh bakteri terjadi secara kimiawi. Proses kimiawi ini akan menghasilkan fermentasi asam. Jika kondisi lingkungan mulut (oral environment) terus berada dalam kondisi asam dengan intensitas waktu terus menerus, lama-kelamaan akan mengikis permukaan gigi dan terciptalah lubang. Mineral pada permukaan email gigi berupa kristal hidroksiapatit akan terurai dan mengakibatkan proses demineralisasi.

Jika karies sudah bersarang di gigi, maka perawatan kuratif mencakup penambalan atau perawatan endodontik untuk karies yang sudah dalam harus dilakukan.

Lalu, bagaimana karies gigi dapat terjadi pada hewan, anjing dan kucing khususnya?.

Karies Gigi Pada Anjing dan Kucing

Fraser A. Hale dalam The Canadian Veterinary Journal yang berjudul Dental Caries In The Dog (2009) menyatakan bahwa karies gigi juga dapat terjadi pada anjing walaupun angka kejadiannya lebih rendah daripada manusia. Insidensi kejadian karies gigi pada anjing ditemukan sekitar 5,25%. Walaupun begitu, anjing tetap membutuhkan perawatan kesehatan rongga mulut mencakup preventif dan kuratif layaknya manusia.

Hal serupa juga berlaku pada kucing. Sebab, kucing juga berada dalam ordo yang sama dengan anjing, yaitu ordo karnivora. Sebagai sesama karnivora, keduanya memiliki kemiripan struktur dasar gigi dan mulut.

cat_teeth

Secara umum, formasi dasar rongga mulut hewan peliharaan seperti anjing dan kucing tak jauh berbeda dengan manusia. Rongga mulut mereka sama-sama tersusun atas jaringan lunak dan jaringan keras. Namun, bentuk, ukuran dan jumlah jenis gigi mereka berbeda dengan manusia

Jenis gigi anjing dan kucing sama dengan manusia. Ia terdiri atas gigi insisif (incicivus), taring (canine), geraham kecil (premolar) dan geraham besar (molar). Normalnya, anjing dewasa memiliki jumlah 42 gigi tetap, kucing 30 gigi tetap dan manusia 32 gigi tetap.

Dalam hal bentuk, gigi anjing dan kucing lebih mengerucut tajam disebabkan adaptasi kebutuhan makanan sebagai hewan karnivora. Sebagai makhluk omnivora, manusia lebih mengoptimalkan bentuk yang lebar seperti gigi geraham dalam proses pengunyahan makanan. Walaupun terlihat sepele, bentuk-bentuk gigi sangat berperan besar dalam proses terjadinya karies.

Kemiripan struktur rongga mulut ini membuat keduanya juga memiliki faktor risiko terkena penyakit yang sama. Dalam konteks penyakit karies gigi, proses patogenesis keduanya pun mirip. Walaupun, insidensi kejadian karies gigi pada anjing dan kucing lebih kecil. Komponen seperti host, agent, substrat dan waktu juga merupakan pilar utama dalam patogenesis karies gigi pada anjing dan kucing.

Namun, ada beberapa hal pembeda yang perlu diperhatikan. Zambori et. al dalam jurnal yang berjudul Biofilm Implication in Oral Diseases of Dogs and Cats (2012) mengemukakan penjelasan mengapa insidensi karies gigi pada anjing dan kucing lebih rendah.

Pertama, bentuk gigi yang lebih kerucut dan jarak antar gigi yang lebih jauh, membuat sisa-sisa makanan tidak mudah terselip sehingga mencegah terjadinya proses fermentasi asam oleh bakteri. Kedua, karbohidrat bukan asupan pokok bagi anjing dan kucing. Ketiga, tingkat keasaman (pH) lingkungan rongga mulut anjing dan kucing lebih tinggi daripada manusia. Normalnya, tingkat keasamaan (pH) rongga mulut mereka rata-rata 7,5 sedangkan manusia rata-rata 6,5.

Unik memang, manusia justru cenderung berisiko terkena karies gigi daripada domestic animals. Apakah kita bisa belajar cara alami merawat rongga mulut dari hewan-hewan?.

***

Ternyata banyak fakta menarik dibalik kejadian karies gigi antara hewan dan manusia. Banyak pertanyaan lanjutan yang bisa dikembangkan, misalnya mengapa kondisi rongga mulut hewan lebih bersifat basa?. Bagaimana hewan liar di alam merawat rongga mulutnya secara alami? dan lain-lain.

Pada titik ini, studi perbandingan rongga mulut antara hewan dan manusia seharusnya dilakukan. Studi itu mencakup anatomi, patofisiologi hingga pola perilaku dalam merawat kesehatan rongga mulut.

Tampaknya, hal ini lah yang masih jarang dijumpai di Indonesia. Bagaimana? Apakah tertarik untuk menciptakan ruang diskusi lintas ilmu kedokteran gigi, eh maaf, ilmu kedokteran rongga mulut?. Hubungi saya di gifaryger@gmail.com.

Berikan Komentar Disini
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *