Sebuah Perjalanan: Karies Gigi dan Kedokteran Gigi (I)

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

DOKTER gigi profesional tak pernah meremehkan karies gigi (tooth decay). Sebab, karena karies gigilah ilmu kedokteran gigi dan profesi dokter gigi bisa lahir dan berkembang seperti sekarang.

Kalau ibaratnya perjalanan, mengapa penjelasan karies gigi dan ilmu kedokteran gigi bisa sampai sejauh ini? Apa sih yang membentuk ilmu kedokteran gigi hari ini? Peristiwa penting apa saja yang dilalui? Dan gimana sih kira-kira masa depan penyakit karies gigi dan ilmu kedokteran gigi?.

Sebelum jauh diulas, perlu me-remind jika karies gigi merupakan penyakit jaringan keras kronik purba (ancient chronic disease).

Manusia (Homo sapiens) sudah sejak lama menderita sakit gigi. Sementara ini, bukti arkeologis dan antropologis menunjukan jika karies gigi menjangkiti manusia sejak 13.000 tahun lalu. Ya kira-kira berarti kurang lebih sejak 11.000 SM.

Sekadar info, dalam jurnal berjudul Dental Caries: A Microbiological Approach (2017) disebut penyakit karies gigi merupakan penyakit kronis yang tak hanya menjangkiti spesies manusia. Karies gigi juga dijumpai pada beruang, hewan liar dan umumnya hewan peliharaan (domestic animals) (Gorrel C, 2006).

Sepanjang sejarah, frekuensi karies gigi semakin tinggi sejak manusia memasuki era revolusi agrikultur (agricultural revolution). Revolusi agrikultur adalah era peradaban manusia pertama kali melakukan aktivitas pertanian. Manusia mulai mendomestikasi tanaman semacam kacang, jagung, gandum dan padi. Ini terjadi sekitar 9.000-8.500 SM.

Alejandra Ortiz, peneliti dari Universitas New York, mengatakan saat manusia hidup dalam masa berburu (hunter-gatherers), persentase karies gigi dalam sebuah populasi mencapai 6-8%. Menginjak masa agrikultur, terjadi lonjakan drastis hingga 80-85%. Mengapa hal ini bisa terjadi?. Persoalan ini akan diulas pada kesempatan lain.

Baik, mari agak maju sedikit. Sekitar 5.000-1.000 SM, manusia telah berikhtiar mengungkap misteri karies gigi dan cara mengobatinya. Ini terbukti dari tablet peninggalan bangsa Sumeria. Tablet itu berisi teks mengulas soal sebab karies gigi.

Bersamaan dengan itu, usaha mengobati penyakit gigi juga terekam dalam Papyrus Eber peninggalan bangsa Mesir Kuno. Mereka masih menggunakan obat-obatan alami dari tumbuhan agar meredam nyeri gigi.

Papyrus adalah kertas yang digunakkan peradaban kuno untuk menulis berasal dari tanaman Cyperus papyrus. Ya ibaratnya kertas Papyrus kalo zaman sekarang jadi semacam jurnal gitu lah.

Papyrus Eber adalah salah satu jenis catatan papyrus dari sekian jenis catatan papyrus.

Nah, sebagian orang dulu kalau ada kasus suka menulis dan menggambar di Papyrus itu. Jadi, kebiasaan kita nulis jurnal sebenarnya dilakukan sejak dahulu. Hanya saja cara dan mediumnya berbeda.

Berdasarkan catatan-catatan itu, cacing dianggap sebagai biang kerok terjadinya karies gigi. Istilahnya jamak dikenal sebagai ‘Legend of The Worm‘.

Lho kok bisa gitu?. Kenapa orang dulu bisa menganggap cacing sebagai etiologi karies gigi?.

Ada dua alasan. Pertama, karena kepercayaan. Mereka menganggap cacing gigi sebagai implementasi dari Dewa Anu –dewa yang menciptakan alam semesta–. Anggap mereka, dewa Anu lah yang memberi makan sehingga penyakit gigi hanyalah jelmaannya yang berwujud cacing.

After Anu created the Heavens

The Heavens made the earth,

The earth made the rivers,

The rivers made the canals,

The canals made the marsh,

The marsh made the worm…

Begitu kurang lebih potongan teksnya.

Singkat kata, mereka menjelaskan sebab karies gigi masih secara metafora banget ya. Tidak ada basis sistematik, objektif, observasi dan rasional yang ketat.

Dan persis, inilah yang menjadi alasan kedua: ketiadaan metode ilmiah yang sistematik, rasional, observasional, eksperimental serta nihil teknologi pendukung. Kepercayaan jadi satu-satunya pegangan dalam menjelaskan semua fenomena. Baik penyakit secara umum dan karies gigi secara khusus.

Sampai akhirnya, tibalah era Yunani Kuno. Kondisi di Yunani tak jauh beda: mereka percaya penyakit dan pengobatan datangnya dari dewa. Hanya saja dewa di Yunani namanya Ascleipus.

Kemudian, semua berubah dengan kemunculan Hippocrates sekitar 460 SM.

Ia tegas menolak bahwa semua penyakit hanya bisa dijelaskan dengan kepercayaan semata. Ada alasan-alasan rasional dan prinsip alam dibalik semua kejadian penyakit. Pengobatan juga bisa kita kembangkan sendiri tanpa berharap pertolongan pada Tuhan.

Walaupun ya tidak semua penjelasannya akurat, Hippocrates berhasil membawa ilmu kedokteran secara umum jauh lebih maju berdasarkan sudut pandang dan metode yang ia rintis.

Pandangan Hippocrates jadi cikal bakal lahirnya metode ilmiah berlandas konsep sistematis, rasional, observasional dan eksperimental bagi ilmu kedokteran abad selanjutnya.

Metode yang ia rintis membuat ilmu kedokteran berdiri sendiri. Berpisah dari filsafat dan teologi. Akibatnya, munculah konsep bernama Etika Medis (Medical Ethics) yang terumuskan dari dalam Sumpah Hippocrates (Hippocratic Oath) di kemudian hari. Inilah alasan mengapa ia disebut sebagai Bapak ilmu kedokteran barat (father of western medicine).

Bagi Hippocrates, penyakit muncul karena dipengaruhi ketidakseimbangan cairan tubuh, diet makanan, lingkungan dan kebiasaan hidup.

Lantas, bagaimana pandangan Hippocrates dalam menjawab fenomena karies gigi?.

Secara umum, ia menganggap masalah sakit gigi dan mulut adalah salah satu akibat lemahnya tubuh. Dalam catatan medis klasik Yunani, Peri Arthron, Hippocrates menulis 32 paragraf menyoal gigi dan mulut.

Menurutnya, karies gigi disebabkan sisa makanan yang terselip di gigi. Ia menganggap perawatan utama sakit gigi adalah pencabutan. Namun, ia juga berpandangan kalau gigi yang sakit masih bisa dipertahankan.

Di masa itu, pandangan ini benar-benar sebuah kemajuan besar!.

Tak berhenti di situ, Hippocrates juga dengan akurat memaparkan teknik mengurangi fraktur rahang dan reposisi dislokasi mandibula. Bahkan, ia memperkenalkan teknik penggunaan kawat dalam menstabilisasi gigi yang goyang (splinting?) dan mempelajari konsep gigi susu (deciduous teeth).

Ia juga menyadari jika bau mulut merupakan kondisi tak normal. Untuk mengatasinya, ia memperkenalkan bahan-bahan pencuci mulut semacam anise seed, myrrh, dan white wine.

Jika dilihat sepintas, ada dua konstribusi Hippocrates di bidang kedokteran gigi: sudut pandang baru memandang masalah karies gigi serta perawatannya dan mengeksplor lebih jauh tentang gigi serta rongga mulut.

Kurang lebih seratus tahun kemudian, tahun 380 SM si filsuf besar (great philosophers) Yunani, Aristoteles, melanjutkan sebagian ilmu Hippocrates. Aristoteles menjawab agak lebih spesifik. Baginya, karies gigi disebabkan makanan bersifat asam dan manis. Ia juga pertama kali membuat konsep tang pencabutan khusus untuk gigi.

Sayangnya, Aristoteles tak mengeksplor lebih jauh menyoal rongga mulut selain gigi. Ia lebih keasyikan mengupas tentang filsafat, puisi, logika, retorika dan politik.

Sejauh ini menjadi jelas bahwa karies gigi bukanlah entitas yang sepele. Dan menjadi jelas juga, tanpa karies gigi, ilmu kedokteran gigi tidak akan lahir.

Bayangkan saja, peradaban manusia butuh kurang lebih 13.000 tahun untuk menyingkap fenomena karies gigi!. Ini perjalanan panjang melelahkan sekaligus menarik.

Sampai jelang lahirnya nabi Isa, barangkali pandangan Aristoteles lah yang paling mendekati rasional dalam mengungkap sebab karies gigi.

Walaupun ada banyak kemajuan, tapi di titik ini, fenomena karies gigi masih terselubung misteri. Banyak bagian puzzle yang belum lengkap. Ilmu kedokteran gigi masih berupa biji. Profesi ‘resmi’ dokter gigi pun masih gelap.

Namun, perjalanan belum selesai. Kita masih jauh dari persimpangan jalan.

Apa yang terjadi di perjalanan selanjutnya?.

Sekilas pintas, kita akan melalui abad pertengahan. Kemudian ke zaman pencerahan, berjumpa Pierre Fauchard. Dan bersama Miller serta G. V. Black, menyaksikan cikal bakal Oral Biology sebagai dasar disiplin ilmu kedokteran gigi.

***

Referensi:

Harari, YN 2011, Sapiens: Sejarah Ringkas Umat Manusia, trans. Y Musthopa, Pustaka Alvabet, Jakarta.

Hurlbutt, M, Novy, B & Young, D 2010, ‘Dental Caries: A pH-mediated diseases’, CDHA Jounal, Vol. 25, No.I, hh. 9-10.

Marya, CM 2011, A Textbook of Public Health Dentistry, Jaypee Brothers Medical Publishers, India.

Prinz, H 1945, Dental Chronology: A Record of the More Important
Historic Events in the Evolution of Dentistry, Lea & Febiger, Philadelphia.

Suddick, R & Harris, N 1990, ‘Historical Perspektives of Oral Biology: A Series’, Oral Biology and Medicine, Vol. I, Issue. 2, hh. 142-143.

Berikan Komentar Disini

Artikel Terkait

Istilah Kedokteran Gigi Galau
views 2770
1. Kurva Spee Kadang, aku merasa senasib dengan kurva spee. Soalnya, hatiku juga spee. Itu sepi, Mz! Sepi! Bisa aje lu, remah debris!   ...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.