web site hit counter Fir’aun pun Pernah Pulpitis – dental.id

Fir’aun pun Pernah Pulpitis

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

 

SEORANG pasien perempuan berusia 25 tahun datang ke klinik. Berpenampilan rapi. Rambutnya lurus agak bergelombang sedikit. Berwarna hitam lebat. Dengan kulit wajah putih nir-jerawat.

Ia mengeluh gigi belakang bawah kiri sakit hilang timbul sejak 7 hari yang lalu. Pemeriksaan klinis menunjukkan ada karies mencapai pulpa di gigi 36. Selain itu, di bagian lingual anterior terdapat banyak kalkulus.

Bagi dokter gigi konvensional, hal itu terlihat biasa-biasa saja. Sebab ada banyak pasien yang datang dengan keluhan seperti perempuan itu.

Tapi, saya heran sekali. Mengapa di zaman sekarang masih saja ada orang yang mengalami sakit gigi? Padahal, semua hal sudah berkembang pesat. Mulai dari maraknya tenaga medis, fasilkes, sikat dan pasta gigi, sampai akses medium informasi kesehatan.

Bahkan, kini penyakit karies gigi permanen diderita sekitar 2,3 milyar penduduk global(WHO, 2017).

Lantas, bagaimana di zaman dahulu, ketika semua fasilitas, ilmu dan teknologi kedokteran gigi masih sangat terbatas?.

Sekilas, jawabannya memang mudah ditebak. Tapi, atas dasar apa jawaban yang muncul dalam benak? Dan bagaimana sih kira-kira perincian gambarannya?.

Fir’aun dan Mesir Kuno

Katakanlah kita punya mesin waktu. Dan dengan mesin waktu itu kita bisa suka-suka menjelajah waktu ke masa lampau.

Mesin waktu itu adalah sisa-sisa tulang dan gigi yang telah memfosil secara alami. Dan tentu saja, Doraemon pemandu wisata masa lampau kita adalah arkeologi, paleodontologi dan sejarah.

Ketiganya sangat berjasa menyumbang pengetahuan tentang bagaimana dinamika kehidupan peradaban masa lampau. Tak sedikit temuan-temuan mereka mencengangkan publik dan komunitas ilmiah.

Karena mereka bermain dengan sisa-sisa organ tubuh, maka tentu mereka banyak berinteraksi dengan mumi. Dan karena itulah, peradaban Mesir kuno begitu penting.

Pada penggalian sebuah situs arkeologi di Mesir, ditemukan beberapa mumi dengan gigi geligi dan tulang rahang yang terawetkan cukup baik. Kondisi gigi geligi lumayan rusak. Terlihat pernah memiliki riwayat karies gigi. Sementara, kondisi tulang rahangnya mengindikasikan terjadinya abses periapikal dan periodontitis.

J. Harris, seorang peneliti, mencoba melakukan analisis proyeksi radiograf untuk melihat tanda-tanda tindakan medis. Hasilnya: nihil. Artinya, sang empunya gigi membiarkannya saja.

Setelah diidentifikasi lebih jauh, gigi dan tulang rahang itu ternyata milik dua Fir’aun (Pharaoh) Mesir: Amenhotep III dan Ramses II. Dua Firaun besar yang terpandang di masanya.

Secara garis besar, peradaban Mesir kuno mulai bangkit di bawah naungan Fir’aun sejak kesatuan politik antara Mesir Hulu dan Hilir pada 3000 SM. Sejak itu, tercatat ada 31 dinasti berkuasa sepanjang sejarah Mesir Kuno.

Tak lama setelah periode itu, Piramida Giza yang megah itu dibangun. Dengan kata lain, keduanya hidup dalam masa-masa kejayaan Mesir kuno.

Amenhotep III adalah Fir’aun kesembilan dari dinasti ke-18. Ia berkuasa sejak 1386 hingga 1349 SM. Mesir dibuat damai dan maju dalam bidang kesenian di bawah kekuasaannya.

Sementara, Ramses II adalah Fir’aun ketiga dari dinasti ke-19. Ia memerintah mulai 943 sampai 877 SM. Ramses II dianggap sebagai Fir’aun terkuat dan terpandang dalam sejarah Mesir kuno. Banyak ekspedisi militer yang gencar dilakukan. Di antaranya, memimpin penaklukan ke Yerusalem.

Jika melihat dari riwayat temuan arkeologis, bisa dipastikan keduanya pernah mengalami pulpitis irreversible symptomatic yang menyakitkan. Barangkali, dalam sebuah gelora ekspedisi penaklukan, sang Fir’aun Ramses II pernah meringkuk kesakitan di perjalanan.

Segarang-garangnya sosok Fir’aun, toh akhirnya terbukti ia takluk juga oleh Streptococcus mutans. Berengsek betul bakteri yang satu itu. Berani-beraninya mengusik Fir’aun yang mengklaim diri sebagai Tuhan!.

Namun, di sisi lain, fakta arkeologis itu bisa dielaborasi lebih jauh. Tak tertutup kemungkinan kalau Fir’aun dinasti sebelum dan sesudahnya juga mengalami hal serupa.

Sebagaimana peradaban kuno lainnya, masyarakat Mesir kuno terbagi dalam hierarki sosial. Golongan atas (Fir’aun), menengah dan rakyat jelata. Fir’aun pasti merasakan nikmatnya kemewahan istana, dikelilingi perempuan dan budak-budak. Ia sangat jadi pusat perhatian.

Ada pepatah bilang pemimpin adalah panutan rakyat. Jika seorang Fir’aun yang dikelilingi gelimang kemewahan saja oral hygiene-nya buruk, bagaimana dengan kondisi rongga mulut rakyatnya?.

Besar kemungkinan, prevalensi karies gigi dan periodontitis pada populasi Mesir kuno cukup tinggi. Kita juga bisa lebih yakin dengan mempertimbangkan terbatasnya tenaga medis dan teknologi kesehatan di masa itu.

Dr. Roger Forshaw, dalam jurnalnya berjudul The Practice of Dentistry
in Ancient Egypt, menyimpulkan bahwa perawatan gigi operatif di Mesir kuno, jika memang ada, sangatlah terbatas. Tidak ada bukti ditemukan kalau seorang dokter gigi Mesir kuno mengoperasi pasien secara rutin.

Sebagian besar perawatan gigi yang ada, terbatas pada sediaan farmasi alami yang diterapkan untuk jaringan gingiva dan mukosa atau digunakan sebagai obat kumur. Obat-obatan alami itu tentu tidak langsung menyentuh etiologi. Dan mungkin hanya berefek sebagai pereda nyeri sesaat.

Kesimpulan itu muncul dengan berpijak dari data 6 variabel. Empat berupa catatan: catatan hieroglif, papirus medis, non medis dan sejarawan kuno. Dua sisanya berupa: sisa-sisa alat medis dan kerangka.

Agar dapat perspektif menyeluruh, saya coba lengkapi dengan menambah variabel diet dan sisi keagamaan Mesir kuno.

Daftar menu makanan utama yang tersedia di atas meja Mesir kuno kita adalah: daging hewan (sapi, burung, ikan), sayuran (daun bawang, bawang merah-putih, lobak,timun), buah-buahan (anggur, zaitun, ara), roti dilengkapi dengan bir.

Di antara semuanya, roti dan bir adalah panganan nasional. Mengapa roti dan bir sangat laris di Mesir kuno?. Sebab produksi utama pertanian kala itu adalah gandum dan jelai. Keduanya mempunyai kandungan karbohidrat cukup tinggi.

Selain itu juga karena sifat tanaman padi-padian (gandum & jelai) yang tumbuh cepat dan bisa panen banyak dalam waktu singkat. Ternyata manusia memang sudah pragmatis sedari dulu.

Roti dan bir bahkan digunakan sebagai upah bagi pekerja-pekerja di Mesir kuno saat uang belum dimanfaatkan. Sekadar info, bangsa Mesir kuno baru menggunakan uang setelah penaklukkan oleh orang Persia sekitar 525 SM.

Hidangan lengkap makanan di atas meja Mesir kuno sayangnya hanya bisa dinikmati segelintir orang: Fir’aun dan golongan menengah. Sementara, tak sedikit rakyat yang melarat dengan makanan terbatas seadanya.

Konsekuensinya, Fir’aun pun punya kesempatan diet yang lebih bervariasi ketimbang rakyat Mesir kuno. Meskipun ya akhirnya ia juga terkena karies gigi, risiko penyakit karies gigi dan periodontitis Fir’aun cenderung lebih kecil daripada rakyatnya.

Sementara itu, dari sisi keagamaan, bangsa Mesir kuno merupakan orang yang spiritual, sekaligus materialistik. Arnold Toynbee, seorang sejarawan, dalam buku Mankind and Mother Earth menyebut mereka sangat bernafsu untuk mengekalkan kehidupan dirinya sendiri sesudah mati. Sejatinya orang Mesir kuno punya visi tentang dunia akhirat. Hanya saja cenderung materialistik. Inilah mengapa mereka melahirkan budaya mumi dan membangun piramida megah sebagai makam.

Bagi orang Mesir kuno, hidup ini fana. Karenanya, marilah bersenang-senang secara materialistik: mengumpulkan kekayaan dan banyak makan.

Maka, skenario singkat penyebab Fir’aun dan rakyatnya mengalami karies gigi dan periodontitis adalah:

Mereka pecinta makanan. Namun, rakyat jelata hanya mampu mengkonsumsi roti dan jelai sebagai makanan nasional. Mengacu ke kurva Stephan, besar kemungkinan mereka banyak ngemil roti sambil ngebir dengan intensitas sering (terutama sang Fir’aun). Di tambah dengan minimnya ilmu dan alat kedokteran gigi di zaman itu. Serta belum adanya organisasi kesehatan dan sikat gigi.

Kalau saja Fir’aun masih hidup sekarang, kira-kira dia pilih BPJS apa umum ya?.[]

Berikan Komentar Disini

Artikel Terkait

Depresi, Kecemasan, dan Stres Mahasiswa Kedokteran...
views 558
Stres adalah hasil dari faktor eksternal tertentu yang mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis seseorang. Kuliah di kedokteran gigi dapat menjadi ...
Sekilas Mengenai Ameloblastoma
views 305
Ameloblastoma merupakan tumor jaringan gigi yang terjadi lebih sering pada rahang bawah dibandingkan rahang atas. Tumor ini tidak diketahui secara pas...
Pengodean ICD dalam Kedokteran Gigi
views 3966
Berdasarkan artikel sebelumnya yang telah diterbitkan di dental.id yang berjudul ICD: Standar dalam Membuat Diagnosis yang membahas tentang Internatio...
Psikologi dan Manajemen Stres Kedokteran Gigi
views 599
Dokter hanya manusia biasa. Sama seperti kebanyakan orang, ia juga bisa mengalami stres. Secara psikologis, paparan stres berkelanjutan yang tak diman...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.