website statistics
Home > Berita > #UKDGI 3 : OSCE : Batu Sandungan Dokter Gigi Baru Untuk Lulus UKDGI

#UKDGI 3 : OSCE : Batu Sandungan Dokter Gigi Baru Untuk Lulus UKDGI

Advertisement
Advertisement

Oleh : Vanny Putri Natasha-UNSRI

Baru-baru ini dikti melalui HPEQ-student mengadakan survei kuisioner kepada para mahasiswa kedokteran gigi diseluruh universitas di Indonesia mengenai pengadaan Uji Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (UKDGI) bagi dokter gigi baru sebagai syarat untuk mendapatkan izin praktik dokter gigi. Didalam pelaksanaan UKDGI yang mulai diadakan tahun 2007 tersebut juga disertakan OSCE yaitu ujian praktik yang langsung dipraktikkkan kepada pasien. UKDGI sendiri diselenggarakan oleh Kolegium Dokter Gigi Indonesia (KDGI) dengan tujuan melakukan standarisasi dan peningkatan mutu dokter gigi baru yang akan memberikan pelayanan medis kepada masyarakat serta memberian kepastian hukum atas segala tindakan medis yang dilakukan oleh dokter gigi kepada masyarakat sebagai pasiennya. Dengan sertifikat izin yang diberikan atas kelulusan dalam UKDGI, dokter gigi tentu memiliki payung hukum yang jelas.

Menurut website resmi Kolegium Dokter Gigi Indonesia, UKDGI adalah syarat untuk dapat memperoleh Sertifikat Kompetensi bagi dokter dokter gigi lama yang gagal memenuhi syarat minimal 30 Satuan Kredit Partisipasi (SKP) dalam Pedidikan & Pelatihan Profesionalisme Kedokteran Gigi Berkelanjutan (P3KGB) serta bagi dokter gigi yang baru lulus. UKDGI dilaksanakan di beberapa universitas di Indonesia yang telah dipilih oleh KDGI sebagai lokasi pelaksanaan UKDGI. Namun dalam pelaksanaannya tetap memiliki kriteria kelulusan dengan standar nasional. UKDGI sendiri ada 2 tipe ujian,yaitu ujian tertulis dan ujian praktik (OSCE).

Dalam ujian tertulis, peserta akan mendapatkan soal-soal untuk dikerjakan secara tertulis. Setelah ujian tertulis ada ujian OSCE yang merupakan ujian praktik yang terdiri dalam 8 soal, tiap soal dikerjakan dalam sebuah ruangan yang disebut stasiun. Soal dalam ujian praktek adalah perintah untuk melakukan tindakan yang lazim dilakukan dokter gigi, seperti mencetak, menambal,mencabut, mendiagnosa, membersihkan karang gigi, melakukan penyuluhan serta hal-hal praktis dalam praktek sehari-hari lainnya. Saat OSCE, para penguji tidak akan memberikan pertanyaan namun akan mencentang daftar penilaian yang biasanya terdiri dari 3 jenis nilai yaitu 0 apabila tidak melakukan atau melakukan dengan salah, 1 bila melakukan dengan benar tapi tidak lengkap, serta 2 bila melakukan dengan baik.

Di Indonesia, universitas yang memiliki jurusan kedokteran gigi berjumlah sekitar 70 universitas dengan kualitas dan fasilitas yang berbeda-beda. Sistem pendidikan, jumlah SDM pengajar, dokter gigi spesialis,fasilitas penunjang praktikum dan RSGM-P juga beragam disetiap universitas. Tentu ilmu dan pengalaman praktik langsung ke pasien saat menempuh kuliah pre-klinik dan klinik juga berbeda.

BACA JUGA : CURHATAN DOKTER GIGI FRESHGRADUATE

UKGDI telah berjalan hampir 6 tahun namun sulit sekali mendapatkan data kelulusan peserta di institusi yang melaksanakan UKDGI. Dari data ditahun 2010, hanya satu institusi penyelenggara yang menempelkan hasil pengumuman kelulusan UKDGI secara terbuka. Sisanya hanya memberikan informasi kelulusan dari orang perorang. Setelah dicermati hasil dari kelulusan tersebut, bisa dimengerti mengapa banyak institusi yang tidak mengumumkan secara terbuka hasil dari UKDGI. Ternyata ditahun 2010 dari delapan institusi sebagai panitia pelaksana UKDGI, rata-rata kelulusan hanya mencapai 70 %. Tentu hal yang wajar sebagian besar institusi tidak mengumumkan hasilnya secara terbuka karena akan mempertaruhkan kredibilitas fakultas kedokteran gigi di institusi tersebut.

Lalu timbul pertanyaan. Mengapa angka kelulusan peserta UKDGI tergolog rendah dimasing-masing institusinya? Jawabannya ada pada perbedaan kualitas pendidikan dan pengalaman melakukan tindakan perawatan saat di pre-klinik yang harus mengadapi UKDGI dengan syarat kelulusan nasional. Setelah ditilik kembali OSCE atau ujian praktik yang memiliki porsi lebih besar sebagai faktor ketidaklulusan sebagian besar dokter gigi baru dalam melaksanakan UKDGI.

Ada sebuah cerita ketika seorang dokter gigi muda akan melaksanakan OSCE. Dia mengalami kesulitan ketika melakukan pencetakan alginat. Dia melihat takaran bahan dan air yang tersedia, sedangkan saat koas hal tersebut tidak ada, biasanya dia hanya mengucurkan air dari keran. Saat melakukan pencabutan gigi pun dia merasa grogi dan saat melakukan penyuluhan yang dianggap paling mudah, dia tidak dapat menjawab pertanyaan dari peserta penyuluhan. Mengapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Hal pertama mungkin memang karena individunya. Namun perbedaan prosedur saat koas juga memberikan peluang besar kesalahan-kesalahan saat OSCE terjadi. Karena sekali lagi, UKDGI mempunyai syarat kelulusan dengan standar nasional,bukan standar dari masing-masing institusi.

Banyak hal yang menjadi penyebab ketidaklulusan OSCE. Salah satunya dokter gigi lupa bagaimana cara tindakan perawatan yang sesuai untuk kasus pasiennya. Saat koas dulu mungkin kurang adanya pengawasaan saat di RSGM sehingga dokter gigi terbiasa dengan memberikan perawatan tidak sesuai dengan standar nasionalnya atau dulu dokter gigi jarang menemukan kasus-kasus khusus sehingga kurangnnya skill dalam melakukan perawatan kepada pasien.

BACA JUGA : BERAPA LAMA SIH BIAR JADI DOKTER GIGI?

Menjadi bijak ketika dimulai dengan penyamaan standar pelayanan dan perawatan kepada pasien saat koas. Dosen penguji harus memberikan requiment yang sesuai dengan standar perawatan gigi dan mulut diIndonesia. Tidak lagi menurut “selera” dosen penguji. Hal ini selain belum tentu sesuai standar, dapat juga membingungkan mahasiswa koas ketika harus berganti dosen penguji dengan requiment sesuai keinginan dosen penguji sebelumnya. Penyebab lain bisa karena adanya perbedaan standar prosedur antar RSGM, perbedaan istilah, serta perbedaan muatan kurikulum antar FKG/PSKG. Oleh karena itu sangat positif upaya penyamaan istilah dan kurikulum yang saat ini sedang dilakukan.

Sampai saat ini pelaksanaan UKDGI seperti 2 mata pisau. Satu sisi menjadikan upaya perlindungan kepada pasien kelak. Satu sisi lain karena kurangnya penyamaan standar perawatan di masing-masing institusi sehingga menyebabkan banyak dokter gigi baru yang tidak bisa lulus UKDGI. Sampai sejauh ini UKDGI tetap dilaksanakan. Sebagai mahasiswa kedokteran gigi tentu kami berharap dalam pelaksanaannya akan lebih baik lagi. Sekali lagi, penyamaan standar pendidikan dan tindakan perawatan diinstitusi perlu dilakukan tentu dengan bantuan dikti, kemendiknas dan semua pihak yang bertanggung jawab atas kemajuan mutu pendidikan fakultas kedokteran gigi di Indonesia sebagai upaya kita untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Indonesia.

BACA JUGA : 4 TAHAP SEBELUM KAMU MENJADI DOKTER GIGI

Artikel Terkait UKDGI :

#UKDGI 1 : Masih Banyak Dokter Gigi Yang Tidak Lulus UKDGI

#UKDGI 2 : UKDGI? Kenapa Harus Khawatir?

#UKDGI 4 : drg. Belinda : Ini Cerita UKDGI ku, Mana Ceritamu

#UKDGI 5 : UKDGI : Menegangkan, Harus Tenang, Berasa Akting

Sumber tulisan :

http://psmkgi.org

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

#UKDGI 2 : UKDGI? Kenapa Harus Khawatir?
views 239
Penulis : Oki Tristanty Universitas Syiah Kuala Pada era tahun tujuh puluhan, dokter atau dokter gigi dianggap sebagai manusia utama karena mampu m...
#UKDGI 1 : Masih Banyak Dokter Gigi Yang Tidak Lul...
views 553
Saat Uji Kompetensi, untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tanggal 3-4 April 2007 di 11 tempat pendidikan profesi dokter gigi, banyak kalangan me...
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0
admin
Admin website http://dental.id