web tracker Calo Pasien Dokter Gigi? Ini Ceritanya - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Calo Pasien Dokter Gigi? Ini Ceritanya

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook130Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn1
Ads
Advertisement

Ditulis oleh : Hana Hanifah Misbach

Tulisan ini sedikit banyak berisi curhatan yang dapat Anda simak dan Anda beri solusi atau Anda abaikan saja jika Anda tidak berkenan.

Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya, apa sih maksudnya calo pasien? Mahasiswa kedokteran gigi tentu tidak asing dengan istilah ini. Calo pasien adalah orang-orang yang menawarkan jasa penyediaan pasien yang dibutuhkan oleh mahasiswa koas. Mereka bukan pegawai rumah sakit dan bukan pegawai kampus. Mereka akan menyediakan pasien sesuai permintaan mahasiswa koas dan memasang tarif pada tiap-tiap pasien.

Jadi misalnya mahasiswa A sedang dalam stase Bedah dan membutuhkan pasien cabut gigi, mahasiswa tersebut dapat menghubungi calo secara personal untuk dicarikan pasien yang bersedia dicabut giginya. Setelah perawatan selesai, si A wajib membayar sejumlah uang pada si calo sebagai ‘uang jasa’. Biasanya, si calo akan membagi uang tersebut dengan pasien dengan perbandingan tertentu. Jadi bagi mahasiswa koas, selain membayar ‘uang jasa’ tersebut, ia juga harus membayar uang perawatan rumah sakit.

Baca Juga : Suka Duka Saat Co Ass Dokter Gigi

Tarif yang ditetapkan si Calo pun bervariasi, tergantung jenis perawatan yang dilakukan mahasiswa. Misal, untuk perawatan cabut gigi, calo akan memasang tarif Rp100.000 per gigi yang dicabut. Perawatan lainnya seperti tambal gigi, gigi palsu, dan sebagainya berkisar tak jauh dari harga itu.

Seorang rekan saya punya pengalaman buruk dengan calo ini. Rekan saya memesan pasien untuk kasus endo tunggal. Anda harus tahu, perawatan endo tunggal membutuhkan jumlah kunjungan antara 8-10 kali. Ditambah dengan biaya perawatan dan lab yang sangat mahal. Saya sudah mengingatkannya untuk berpikir ulang menggunakan jasa calo di kasus ini, tapi dia bersikeras karena dikejar tenggat waktu.

Pada kunjungan pertama, si Calo memasang harga Rp110.000. Dan selama 8 kunjungan berikutnya, si calo menetapkan harga Rp40.000 pada tiap-tiap kunjungan. Belum lagi biaya administrasi rumah sakit sebesar Rp170.000 dan biaya lab sebesar Rp350.000. Tolong bantu saya hitung. Kalau saya tidak keliru, total biaya untuk satu requirement saja rekan saya ini sudah mengeluarkan uang sebesar Rp950.000. Padahal dalam satu stase kami diwajibkan menyelesaikan belasan requirement. Terbayang tidak apa jadinya jika setiap requirement kami selesaikan dengan menggunakan jasa calo?

Dalam beberapa kasus, kami memang sangat terbantu dengan keberadaan calo. Namun seiring waktu, ada saja oknum calo yang ‘nakal’ dan berbuat curang. Misalnya saja, pasien yang datang dengan sukarela ke RSGM seringkali dibujuk untuk menjadi pasien calo dengan iming-iming sejumlah uang. Alhasil, kami tidak mendapatkan apa yang seharusnya mendapat ‘hak’ kami.

Belum lagi banyaknya oknum calo yang ingkar janji. Perawatan jangka panjang seperti perawatan endo tunggal yang saya ceritakan di atas sangat rawan untuk dicurangi oleh calo. Pernah ada kasus, kakak tingkat saya sesama dokter muda merawat pasien calo yang perawatannya membutuhkan kunjungan sebanyak 10 kali. Di akhir kunjungan, si calo menghubungi dan mengabarkan bahwa pasien tersebut tidak dapat datang dengan alasan terusir dari rumah kontrakannya karena tidak mampu membayar, sehingga harus pulang ke kampungnya. Si calo meminta uang beberapa juta rupiah untuk membayar kontrakan rumah pasien calo tersebut agar pasien itu bisa datang untuk perawatan. Karena jika perawatan tidak selesai, kakak tingkat saya ini harus mencari pasien lain dan mengulang prosedur perawatan sejak awal. Bukan hanya rugi biaya, tapi juga rugi waktu.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI :

Keberadaan calo merupakan buah simalakama bagi kami mahasiswa koas. Kadang kami membutuhkannya, tapi kami tidak menginginkannya. Kami tidak menyalahkan mereka, karena bagaimanapun jasa mereka juga harus kami hargai. Tapi kami menyayangkan kondisi di mana mereka kadang tidak mengerti kesulitan kami.

Saya tidak mengharamkan calo. Saya tidak anti terhadap calo. Dan saya tidak munafik bahwa mungkin suatu saat saya membutuhkan jasa calo. Saya hanya butuh solusi atas sistem pendidikan kedokteran gigi yang meski sudah sangat memudahkan tetap saja sering menjadi kendala bagi kami mahasiswa koas. Rumah sakit mungkin butuh promosi yang lebih luas agar masyarakat dengan penuh kesadaran dan sukarela melakukan perawatan gigi dan mulut.

Saya sadar, mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan. Menyalahkan sistem rumah sakit juga bukan solusi yang tepat. Mengkritik sistem pendidikan? Saya rasa sistem pendidikan yang ada saat ini sudah sangat mudah dan memudahkan. Toh bagaimanapun sistemnya, tentu tujuannya tidak lain adalah untuk mencetak dokter-dokter yang handal dan mumpuni.

Perbaikan yang nyata bermula dari diri kita sendiri dan mulai dari saat ini. Saya sedang berusaha menjalin komunikasi dan relasi dengan pasien-pasien saya. Saya sedang berusaha membangun citra dan kepercayaan masyarakat terhadap RSGMP, diawali dengan bagaimana pelayanan saya terhadap pasien-pasien saya. Dan saya yakin, teman-teman sesama dokter muda juga sedang mengupayakan hal yang sama. Perubahannya mungkin tidak dapat kami rasakan sekarang. Semoga 5 hingga 10 tahun lagi, apa yang kami lakukan saat ini membawa dampak positif bagi junior-junior kami yang nanti akan menjalani koas.

Finally, kami mahasiswa koas memang belum sepenuhnya merdeka. Tapi tidak ada kemerdekaan yang didapatkan dengan keluhan dan berpangku tangan. Kami sedang memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak kami dengan menjalankan kewajiban kami dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga :

CURHATAN DOKTER GIGI FRESHGRADUATE. PERNAH MENGALAMI?

image from http://www.pizna.com/
image from http://www.pizna.com/

Terima kasih :

http://hanahanifahmisbach.blogspot.co.id/

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook130Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn1