website statistics
Home > Humor > Alasan-alasan Calon Pasien Menolak Koas Gigi

Alasan-alasan Calon Pasien Menolak Koas Gigi

Advertisement
Advertisement
  1. Mahasiswa koas gigi mempunyai mental yang udah terlatih. Hal tersebut menjadikan koas gigi menjadi orang yang hebat. Bagaimana nggak hebat? Berkali-kali DITOLAK calon pasien tanpa mengalami gangguan jiwa adalah sebuah kemampuan yang luar biasa. Lah, orang-orang biasanya ditolak cinta satu kali aja, bapernya di Path bisa sampe 3 dekade. Mencari seseorang yang mau menjadi pasien koas gigi bukanlah perkara yang mudah. Koas gigi mungkin punya 1000 alasan untuk merayu, tapi calon pasien bisa punya 10.000 alasan untuk menolak. Mulai dari alasan yang masih normal sampai dengan alasan yang jauh dari rasionalitas bisa aja dialami seorang koas gigi. Gue tulis beberapa alasan yang pernah gue observasi selama ini, ya.

 

  1. Takut

 

Kebanyakan calon pasien menggunakan alasan ini; takut menjadi kelinci percobaan. Gue mau sedikit menjelaskan, selalu ada angka 1 untuk maju ke angka 1.000. Selalu ada langkah awal untuk menemukan tapak akhir. Dokter-dokter gigi hebat yang pernah kamu kenal, PASTI dibantu oleh sosok yang orang-orang sebut “kelinci percobaan”. Apakah mungkin seorang koas gigi menjadi dokter gigi tanpa ada orang yang mau jadi “pasien pertamanya”? Begini, mencintai aja selalu ada yang namanya cinta pertama. Walaupun mungkin nantinya berkali-kali gagal mencintai, bukankah cinta pertama tadi telah menjadi sosok yang mengajari kita tentang cinta? Tolong, jadi bagian yang mengajari kami menjadi sosok dokter gigi yang hebat. Jangan takut menjadi “kelinci percobaan”. Selain dipantau oleh dosen ahli, amal kalian akan selalu mengalir karena ikut andil dalam mematangkan ilmu kami. Ilmu yang nanti kami terapkan ke pasien nantinya sebagai dokter gigi, ada peranan kalian. Percayalah, tulisan-tulisan gue di atas adalah salah satu rayuan. Semoga kalian terhanyut dalam rayuan. Aamiin.

 

  1. Ekonomi

 

Pasti pernah, kan, ditolak calon pasien pakai alasan ini?? Alasan ini kadang menjadi awal untuk sebuah negosiasi. Skill persuasi koas gigi diuji. Gue kasih contoh, ya.

“Maaf, saya nggak punya uang untuk perawatan gigi.”

Negosiasi awal akan dimulai oleh koas gigi.

“Biaya perawatan sama koas gigi lebih murah dibandingkan janji-janji cowok php, loh, Mbak.”

Negosiasi terus berlanjut.

“Tapi, tetep aja. Kemahalan bagi saya. Btw, biasanya saya yang php-in cowok-cowok, Mas.”

“Hmmm. Gini deh. Bagaimana kalo saya diskon 50%. Tapi, harus punya surat keterangan tidak mampu. Tidak mampu memiliki akoh.”

“Gak deh. Makasih. Soalnya kalo cuma memiliki kamu, aku mampu.”

“Ya udah, deh, Mbak. Gini aja. Biaya perawatannya saya yang tanggung.”

Di tahap negosiasi ini, calon pasien yang mempunyai skill menawar rendah, akan takluk. Tapi, calon pasien yang punya skill menawar level expert (ex: kalo belanja di pasar bisa nawar beli minyak goreng 1 liter dapet gratis pertamax 2 jerigen), akan membuat negosiasi menjadi alot.

“Hmm. Boleh, deh. Tapi, saya berangkatnya gimana? Tarif Go-Kar lagi naik.”

“Saya kasih ongkos juga, deh. Yang penting, Mbak datang jadi pasien saya.”

“Oke. Saya mau. Eh, tapi saya juga butuh kuota buat live instagram dan BIGO-an selama perawatan giginya. Lumayan bisa dapet supercar. Bisa beliin saya kuota juga, nggak? Tapi, jangan kuota midnight, ya. Saya boboknya cepet soalnya. Terus orang –orang yang nonton BIGO kalo midnight rada-rada, gitu. Boro-boro dapet supercar, malah saya dapetnya taxi. Fake lagi.”

“……”

Kalo udah seperti itu, jangan lanjutkan negosiasi. Pasien dengan skill seperti itu, bisa dengan mudahnya membuat orang kayak Mark Zuckenberg bangkrut atau bisa bikin satu negara kayak Uni Emirat Arab mengalami krisis moneter.

 

  1. Pendidikan

 

Ada, lho, alasan satu ini. Biasanya, mau fokus sekolah atau sibuk kuliah menjadi alasan untuk menolak menjadi pasien koas gigi. Masuk akal, kan? Loh, mau fokus sekolah aja bisa jadi alasan buat menolak orang yang sayang dan rela mengorbankan apa pun untuk kita. Bisa juga dipakai untuk menolak koas gigi, kan? Tapi, kalo dipikir-pikir, bukannya tanpa sebab juga alasan seperti itu muncul. Ini pengalaman nyata. Temen koas gue dulu, pernah ngerawat pasien pedo. Bolak-balik perawatan selama jam sekolah berlangsung. Dan akhirnya, pasien temen gue, nggak naik kelas. Orang tua pasien menyalahkan temen gue tadi atas ketidaknaikan kelas anaknya. Gara-gara bolak-balik perawatan, pelajaran anaknya tertinggal. Orang tua pasien menceritakan hal tersebut ke tetangga-tetangganya. Tetangga-tetangganya ikut-ikutan melarang anaknya untuk jadi pasien koas gigi dengan alasan PENDIDIKAN lebih penting. Berita tersebut semakin menyebar ke sanak saudara mereka, sampai akhirnya diangkat jadi postingan akun instagram @lambe_turah dan menjadi viral se-Indonesia. Orang-orang menjadi semakin takut untuk datang perawatan ke koas gigi. Imbasnya, koas-koas gigi se-Indonesia banyak mengalami putus sekolah gara-gara defisit pasien. Orang tua se-Indonesia pun melarang anaknya kuliah di kedokteran gigi. Anak FKG yang sedang skripsian disuruh berhenti kuliah, pulang kampung dan nikah sama anak orang kaya. Oh, iya. Usut punya usut, pasien temen gue tadi ternyata nggak naik kelas gara-gara hampir tiap malam nonton sinetron ANAK JALANAN dan di soal ulangan kenaikan kelas nggak muncul soal, “Apakah benar kalo hujatan bala jaer yang menyebabkan Boy dan Reva nggak jadi nikah di dunia nyata?”

 

  1. Terlalu percaya diri

 

Ada jenis calon pasien yang terlalu percaya diri padahal nggak sesuai realita. Pernah ketemu calon pasien yang bilang begini pas ditawari jadi pasien koas gigi? “Wah. Nggak, deh. Soalnya gigi saya udah bagus. Hehehehe”, katanya sambil tersenyum dan menunjukkan lubang di gigi depannya yang mulai menghitam dan darah di gusinya gara-gara karang gigi yang bertumpuk. Ingin rasanya menghibahkan sebuah cermin ajaib untuknya, supaya dia bisa bertanya, “Cermin ajaib, cermin ajaib. Gigi siapa yang paling cantik di Indonesia dan  di dunia?”

“Gigi tercantik di Indonesia adalah “Gigi” Nagita Slavina. Gigi tercantik di dunia adalah Gigi Su-elli eh, maap, Gigi Hadid.”

“Nggak mungkin, Min! Nggak mungkin, Min! Gigi saya gimana?!”

Btw, saya nggak suka dipanggil “Min”. Saya bukan admin. Soal gigi kamu, begini. Kamu tahu kalo saya adalah cermin, kan?”

“Iya. Tahu, Min, eh, Cer.”

“Hmmm. Panggil aja saya “Sis”. Baiklah. Kembali ke topik. Kamu tahu kalo saya ini cermin, kan?”

“Iya, saya tahu, Sis.”

“Nah. Kalo tahu. BERCERMINLAH. Itulah faedah saya ada di dunia. Tolong, jangan membuat saya menjadi unfaedah kalo kata anak-anak kekinian.”

 

 

  1. Alasan-alasan irrasional

 

Pernah ada seorang koas gigi yang men-tag gue di akun instagram gue yang followers-nya udah 11 ribu, jangan lupa follow, comment, dan share. Ini bukan sombong, tapi promosi. Dia men-tag screenshoot percakapan dirinya dengan seseorang yang menolak datang menjadi pasien pada hari yang dijanjikan. Bunyi alasannya kurang lebih, “Saya nggak bisa datang perawatan gigi karena saya sedang sakit gigi”.

Menurut ngana? Sakit gigi harusnya jadi alasan seseorang untuk datang ngerawat giginya, bukan? Sungguh alasan yang nggak pernah terpikirkan oleh gue. Sungguh kreatif. Dibandingkan alasan tersebut, gue masih lebih bisa menerima alasan kayak gini,

“Mbak, mau jadi pasien saya, nggak? Biaya perawatannya saya yang tanggung. Terus saya anter jemput juga pas perawatan.”

“Beneran, Mas?”

“Iya, Mbak. Beneran. Gimana , Mbak? Mau? Kuy, ah.”

“Emmm.. Tapi, nggak, deh, Mas. Soalnya kamu terlalu baik buat aku.”

 

 

Kalian punya alasan-alasan penolakan yang lain yang pernah dialami, nggak? Tentu aja banyak, ya. Gue juga masih punya alasan penolakan-penolakan calon pasien yang lain kok. Tapi, gue memutuskan untuk nggak menulis semuanya di sini. Takutnya, nanti bisa menjadi referensi bagi calon pasien lain untuk menolak perawatan oleh koas gigi. Pesen gue, kalo ada calon pasien yang menolak kalian, relakanlah, mungkin dia bukan yang terbaik untuk kalian. Jangan takut, takdir selalu punya cara rahasia untuk menemukan jalannya. Kalau pun ternyata penolakan demi penolakan adalah jalan takdir kalian, maka bersucilah. Jauhi hadas besar dan #prayforkoasgigi. Sekian. Salam sinting!

 

 

Sumber gambar  :

instagram Dwi Woro Pancarwati

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Cara-cara Koas Gigi Mencari Pasien
views 1741
1. Keliling Gang FKG, dari masa ke masa dikenal dengan julukan Fakultas Keliling Gang. Julukan ini muncul dikarenakan mahasiswa koas gigi yang menc...
Alternatif Perawatan Kecantikan Menggunakan Alat-A...
views 2675
Harga alat dan bahan di kedokteran gigi memang mahal. Terkadang, supaya bisa membeli alat dan bahan kedokteran gigi, anak FKG sering menggadaikan kebu...
Untukmu, Anak FKG yang Sedang Bersedih
views 3549
Kuliah di FKG memang berat. Kamu pasti sepakat. Jenuh, rasa ingin menyerah, kehilangan motivasi, lelah, marah dan kacau semuanya tentu sudah kita rasa...
Perilaku Pasien Anak yang “Membahayakan” Koas Gigi...
views 1547
  Baru-baru ini, video audisi anak-anak yang diselenggarakan oleh produk biskuit yang bisa bikin orang jadi macan, sedang viral. Gue pun ikut ...
Zona-zona Gagal Asmara di FKG
views 1467
1. Diktat Zone Kamu mengira dia sering meminjam diktat ke kamu gara-gara ada perasaan ke kamu. Tapi, sebenarnya dia benar-benar hanya memanfaatkan di...
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook351Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0