web tracker Adakah Garansi Dalam Perawatan Kedokteran Gigi? - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Adakah Garansi Dalam Perawatan Kedokteran Gigi?

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn19
Ads
Advertisement

Setiap membeli barang elektronik, pasti anda akan diberi kartu garansi oleh si penjual. Kalau produk elektronik itu rusak, selama masih masa garansi, anda berhak meminta servis bahkan menukarnya dengan yang baru. Bagaimana dalam dunia kesehatan gigi? Apakah dokter gigi ngasih garansi pada pasien yang melakukan perawatan gigi?

Ambil contoh kasus perawatan gigi yang sering dikeluhkan oleh pasien ke dokter gigi. “Dok, tambalan gigi saya copot. Padahal kemarin baru aja pasang. Saya sebel deh, makanya saya ogah balik ke dokter gigi itu. Sekarang saya mau tambal lagi nih. Usahakan yang bagus ya Dok, jangan cepet copot kayak kemarin. Saya dapat garansi kan Dok?..”

Garansi dalam dunia kesehatan, khususnya kedokteran gigi bisa dibilang mustahil. Ilmu kedokteran nggak bisa menjanjikan kepastian. Dokter hanya menjanjikan proses setelah pasien berobat. Kemungkinannya ada 5 hal. Pertama, sembuh. Kedua, sembuh dengan komplikasi. Ketiga, sembuh dengan sequele (gejala sisa). Keempat, nggak sembuh. Kelima, meninggal.

Meski bidang kedokteran gigi nggak seekstrim bidang kedokteran umum, namun karena bagian integral dari konsep medis, tetap aja kemungkinan dari 5 hal di atas selalu ada. Boleh ambil contoh tentang komplikasi cabut gigi atau kanker di rongga mulut. Ada kemungkinan pasien mencapai taraf sembuh dengan maksimal atau yang paling ekstrim, meninggal.

BACA JUGA :

 

Menurut drg. Arnof, menambal gigi pun bisa menimbulkan keluhan. “Memang ada kemungkinan salah diagnosa, salah memilih bahan tambal, kurang dalam preparasi, atau kurang tepat dalam mengatur komposisi bahan tambal. Namun nggak jarang, lepasnya bahan tambal karena pasien itu sendiri nggak mematuhi aturan yang diberikan dokter,” papar dokter yang telah memiliki jam terbang selama 17 tahun di bidang kesehatan gigi tersebut.

Misalnya bahan tambal tertentu nggak boleh langsung digunakan untuk makan, karena kekerasannya belum maksimal. “Efeknya akan pecah jika menerima tekanan berat sebelum waktunya. Bisa juga disebabkan oleh pengerjaan yang sulit karena lidah nggak bisa diam. Ketika tempat penambalan terkena air ludah, maka bahan tambal nggak bisa melekat dengan baik pada gigi. Ada pula pasien yang pekerjaannya sibuk, memaksa untuk langsung tambal tetap, meskipun diagnosa belum bisa ditegakkan dengan tepat. Akibatnya kalau ternyata diagnosa berlanjut ke peradangan pulpa, mau nggak mau pulpa harus dirawat terlebih dahulu. Secanggih apapun tambalannya, ya terpaksa harus dibongkar ulang,” urai owner dari Klinik Gigi Global Estetik ini.

Dalam kasus lain adalah pada perawatan saluran akar. Pasien sering mengeluh karena nggak bisa sembuh dalam sekali kunjungan. Tapi memang nggak ada garansi seseorang bisa selesai perawatan dengan 2 atau 3 kali kunjungan. Siapa bisa menduga pada kunjungan kedua, pasien jatuh sakit karena daya tahan tubuhnya menurun. Yang penting dicatat, kasus setiap orang berbeda. Si A bisa selesai perawatan dalam 2 kali kunjungan, si B malah bisa dalam one visit treatment, sementara si C harus bolak-balik 5 kali. Nggak ada dokter gigi yang bisa menebak apakah seseorang bisa mempunyai saluran akar normal. Sebab ada juga dokter gigi yang hanya bisa menaksir berdasarkan persentase.

Gigi geraham atas kanan mempunyai 3 saluran akar, dengan prosentasenya 38%. Sedangkan ada sekitar 60% gigi mempunyai 4 saluran akar. Itu baru dari segi jumlah, belum dari segi bentuk saluran akar. Ada yang megar seperti huruf Y, ada yang mingkup seperti huruf O, ada yang menyatu besar di atas, dan mengecil di ujung. Lho kan dokter bisa lihat di foto ronsen?

“Memang betul saluran akar bisa dilihat di foto ronsen, tapi pernah nggak pasien mengira bahwa lain sudut pemotretan bisa lain hasil. Dua saluran akar yang bertumpuk bisa terlihat seperti satu saluran akar. Akar yang pendek, dengan salah sudut pengambilan foto bisa menyebabkan ‘elongasi’atau akar menjadi terlihat panjang,” terang dokter yang hobi banget traveling ini.

Dokter bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, lewat pengalaman yang diajarkan di klinik dan berdasarkan pengalaman yang ditimba setiap harinya di ruang praktek. Namun dalam praktek yang begitu luas, terbuka kemungkinan lebih dari 1001 macam kasus, bukan nggak mungkin diagnosa yang ditegakkan, kurang tepat atau salah.

Menurut Kajian Praktek Kedokteran Harvard yang diterbitkan di New England Journal of Medicinetahun 1991, ditemukan bahwa 4 persen pasien mengalami komplikasi sehingga lebih lama dirawat, berakibat cacat atau kematian ternyata dua pertiga dari semua komplikasi terjadi akibat kesalahan dalam pelayanan medis. Satu dari empat pasien atau 1 persen dari semua pasien mengalamai kelalaian sejati. Jadi benar bahwa semua dokter pasti pernah melakukan kesalahan.

Namun ada satu ajang tempat dokter dapat membahas segala kesalahan secara jujur. Meski bukan dengan pasien, setidaknya antara sesama dokter dalam konferensi yang membahas semua kejadian yang nggak diharapkan, kematian yang terjadi dalam pengamatan, menetapkan penanggungjawabnya, dan memutuskan apa yang harus diperbaiki di kesempatan berikutnya.

BACA JUGA

SAKIT GIGI TERNYATA BISA MEMICU SERANGAN JANTUNG

sakit-jantung

Bagaimana kalau pasien menuntut? Pasien memang bisa menuntut, tapi penelitian membuktikan bahwa upaya hukum nggak dapat mengurangi kesalahan medis. Ternyata, hanya 2 persen pasien penerima layanan di bawah standar mutu yang mengajukan tuntutan.

Bila dokter berbuat salah, alasan apapun nggak bisa membuat hatinya tenang, dengan adanya norma dan tanggung jawab pribadi. Upaya apapun yang dilakukan dokter memang terkadang, tidaklah wajar kalau ia dituntut untuk sempurna. Yang patut adalah meminta para dokter untuk nggak putus-putusnya berusaha menuju kesempurnaan.

Sebagai pasien, haruskah mereka marah-marah, menuntut ganti rugi, atau nyerah gitu aja? Menuntut, bila hal itu melegakan hati, apa boleh buat? Tentu paling asik melakukan kompromi dan mencari sebab apa yang membuat perawatan gagal. Apakah dari pemakaian gigi dengan tambalan sebelum waktunya, atau pengeburan oleh dokter gigi yang kurang, dan mencari solusi dari harga yang harus dibayar kemudian, pada perawatan ulang ini. Hal menarik yang bisa dikatakan bahwa umumnya pasien enggan menuntut dokter gigi yang simpatik, berlaku ramah, dan baik kepadanya. Meski perawatan mungkin kurang memuaskan, pasien secara sukarela menerima kekurangan itu.

Sehebat-hebatnya dokter gigi, mereka juga manusia biasa yang bisa aja salah. Ceritakan panjang lebar keluhan yang terjadi pada gigi anda. Kerjasama yang baik antara anda dengan dokter gigi, dapat mempercepat proses kesembuhan lho. Jangan lupa juga untuk meminta pertolongan pada Tuhan, karena Dia lah sebaik-baiknya pemberi garansi terhadap kesembuhan anda.

Baca Juga : Hati-hati Punggung Dokter Gigi Saat Memeriksa Pasien

Sumber tulisan :

http://tembuspandang.com

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn19