counter free hit unique web Bakteri di Rongga Mulut dan Karies Gigi, Berevolusi? – dental.id
Ilmiah

Bakteri di Rongga Mulut dan Karies Gigi, Berevolusi?

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Gigi berlubang, begitu istilah awam bagi karies gigi. Sebagai sebuah entitas penyakit, karies gigi merupakan penyakit yang sering menjangkiti banyak orang. Meskipun gigi berlubang hampir diidap banyak orang, tapi tak banyak orang paham apa sebab pasti gigi berlubang.

Secara ilmiah, ada 4 pilar utama penyebab karies gigi. Keempat pilar itu mencakup host, agent, substrat dan waktu. Oleh sebab itu, karies gigi disebut juga dengan penyakit multifaktorial. Konstribusi keempatnya secara bersamaan, akan menciptakan kondisi gigi berlubang.   

Rata-rata, orang awam mengatakan, “jarang sikat gigi” dan “kebanyakan makan manis-manis”, menjadi sebab gigi berlubang. Pernyataan itu tak salah. Namun, orang banyak harus paham jika bakteri (agent) adalah salah satu faktor utama di samping faktor-faktor lain penyebab karies gigi.

Bakteri adalah mikroorganisme uniseluler. Ia dapat dijumpai di mana-mana. Mulai dari alam bebas sampai di dalam tubuh manusia. Rongga mulut merupakan rumah bagi bermacam spesies bakteri. Di sana mereka menciptakan apa yang disebut dengan ekologi rongga mulut.

Normalnya, keberadaan bakteri ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan ekologi rongga mulut. Namun, keseimbangan ini sewaktu-waktu dapat terganggu. Ketidakseimbangan ekologi rongga mulut membuat bakteri merugikan tumbuh lebih banyak.

Streptococcus mutans menjadi bakteri yang bertanggung jawab atas terciptanya gigi berlubang. Layaknya manusia, bakteri dapat tumbuh, beradaptasi dan berkembang biak. Salah satu kemampuan makhluk hidup adalah berevolusi. Apakah bakteri di rongga mulut, Streptococcus mutans khususnya, juga mengalami evolusi?.

Evolusi dan Bakteri Rongga Mulut

Secara harafiah evolusi berarti, perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (KBBI). Sementara, Oxford Dictionarymendefinisikannya sebagai: “ The process by which different kinds of living organism are believed to have developed from earlier forms during the history of the earth”.

Dalam ilmu biologi, teori evolusi berusaha menjelaskan kemampuan organisme dalam bertahan hidup lewat variasi genetik dan seleksi alam. Adanya variasi genetik, memunculkan sifat-sifat baru dalam keturunan. Selain itu, lewat seleksi alam, organisme beradaptasi dan berjuang mempertahankan hidup.

Nah, bakteri pun melakukan evolusi. Banyak bukti yang menunjukan jika bakteri mampu berevolusi. Salah satunya adalah resistensi bakteri akibat penggunaan antibiotik. Kini, banyak bakteri semakin ‘cerdas’ dalam beradaptasi dengan serangan antibiotik. Akibatnya, bakteri pun banyak yang kebal dengan antibiotik.

Dalam konteks rongga mulut, oral mikroflora pun mengalami evolusi. Hal ini dapat dilihat dari plak gigi (dental plaque) yang tersisa dan terjebak di fosil gigi manusia.

Dr Christina Adler, peneliti dari Universitas Sydney, mengatakan jika plak gigi merupakan satu-satunya sumber bakteri manusia yang bisa diawetkan. Hal itu dapat membantu kita dalam mempelajari gambaran masa lalu tentang dampak diet, perubahan kesehatan dan evolusi genom patogen mulut.     

Mempelajari oral mikroflora purba tentu sangat menarik. Ternyata tidak hanya ekologi bumi kita saja yang berubah, tapi ekologi rongga mulut kita pun juga berubah!.

Tim peneliti dari Universitas Adelaide, Australian Center for Ancient DNA (ACAD), mengumpulkan sampel plak gigi dari fosil ratusan bahkan 6000 tahun yang lalu. Analisis terhadap DNA, menunjukan 2 hal.

Pertama,  kondisi bakteri rongga mulut purba lebih beragam daripada bakteri di mulut manusia modern. Hal ini cenderung disebabkan oleh perubahan pola makan.

Saat manusia mulai bertani dan memakan gandum, ekologi rongga mulut berubah. Kondisi ini memungkinkan spesies bakteri penyebab penyakit gusi berkembang.

Ketika manusia mulai memakan tepung terigu dan gula, ekologi rongga mulut pun berubah lagi. Spesies bakteri gigi berlubang menjadi lebih dominan.

Kedua, seiring terjadinya perubahan pola makan, keanekaragaman ekologi rongga mulut pun menurun pesat.  Ternyata, semakin beranekaragam jenis bakteri di rongga mulut, maka rongga mulut akan lebih sehat!. Hal inilah yang tidak terjadi pada rongga mulut manusia modern. Oleh sebab itu, manusia modern cenderung rentan mengalami penyakit gigi.

Kepala peneliti, direktur ACAD, Profesor Cooper menjelaskannya dengan gamblang. Menurutnya,  “The composition of oral bacteria changed markedly with the introduction of farming, and again around 150 years ago. With the introduction of processed sugar and flour in the Industrial Revolution, we can see a dramatically decreased diversity in our oral bacteria, allowing domination by caries-causing strains. The modern mouth basically exists in a permanent disease state.”

Jika komposisi bakteri ekologi mulut dapat berevolusi, bagaimana dengan bakteri karies gigi?. Logikanya, bakteri karies gigi pun pasti juga bisa berevolusi. Tapi, bagaimana mekanismenya dan apa dampaknya?.

Marc Simon, Profesor di Universitat Autonoma de Barcelona, menyatakan studi tentang Streptococcus mutans dalam perspektif evolusi, sangat penting. Hal ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa yang memicu evolusinya.

Tahun 2007, Simon dan tim peneliti berhasil mengekstrak DNA Streptococcus mutansdari 10 kerangka manusia purba. Kerangka berasal dari Eropa dan Amerika.

Mereka meneliti hanya dari satu fragmen genom. Hasilnya, diketahui bahwa ia dapat membawa virulensi atau kemampuan menyebabkan penyakit. Di samping itu, S. Mutansjuga berevolusi secara netral. Apa maksudnya?.

Simon menjelaskan, evolusi netral berarti perubahan terjadi karena mutasi gen secara acak dan tidak memberikan keuntungan khusus pada suatu organisme.

Namun, Simon menambahkan jika sampel yang digunakan masih dalam lingkup yang sempit. Ia dan tim ingin menguji lebih banyak sampel S. Mutans untuk memberikan sudut pandang yang lebih luas.

Lebih daripada itu, bagi Simon dan tim, penyebab sakit gigi semakin beragam seiring berjalannya waktu. Bakteri telah mampu menjadikan manusia sebagai ‘ladang percobaan’. Mereka bisa mencoba beberapa mutasi baru dan tetap terus bertahan hidup.

***

Berikan Komentar Disini

Artikel Terkait

Kondisi Rongga Mulut Penderita Diabetes
views 237
Diabetes melitus atau penyakit gula adalah salah satu penyakit kronis akibat dari kadar glukosa di dalam darah yang melebihi batas normal. Kelebihan k...
Kanker Lidah Mengintai Masyarakat
views 172
Manusia berubah, zaman berubah. Keduanya bagai pilinan benang tak terpisahkan dan selaras. Berubahnya zaman selalu menciptakan sebuah kebiasaan pe...
Siwak, Rasul dan Rongga Mulut
views 118
Upaya manusia dalam merawat dan menjaga kesehatan rongga mulut telah dilakukan sejak peradaban manusia itu pertama kali muncul. Salah satu upaya yang ...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *