invisible hit counter Tukang Gigi : Door to Door Tawarkan Gigi Palsu Seharga 500 Ribuan Hingga Pasien dari Inggris - dental.id

Tukang Gigi : Door to Door Tawarkan Gigi Palsu Seharga 500 Ribuan Hingga Pasien dari Inggris

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook4Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

image from www.republika.co.id

“Pekerjaan saya ini sangat dibutuhkan, orang yang enggak mampu bisalah tadinya jelek jadi cakep. Tukang gigi seperti saya ini sangat membantu. Ya enggak bisa dipasang, bisa dipasang. Saya sering sarankan kepada pasien dibuka aja deh. Enggak ada masalah. Jadi bahasanya enggak merugikan masyarakat malah menguntungkan,” ujarnya.”

Anda pasti sering melihat di pinggir jalan papan nama tukang gigi atau ahli gigi. Profesi ini sudah eksis di Indonesia sejak lama. Sempat dilarang oleh Kementerian Kesehatan, praktik tukang gigi hingga kini masih eksis. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup dari zaman ke zaman?

Tukang gigi menjadi alternatif bagi sebagian orang untuk masalah gigi mereka. Ketimbang ke dokter, mereka memilih datang ke tukang gigi pinggir jalan. Sejatinya, para tukang gigi ini hanya menawarkan jasa pembuatan gigi palsu.

Namun belakangan, mirip praktik dokter gigi di rumah sakit atau klinik, beberapa tukang gigi mampu menambal atau mencabut gigi hingga pemasangan kawat gigi atau behel. Padahal berdasarkan aturan, praktik itu dilarang, karena mereka hanya diperbolehkan menyediakan pembuatan gigi palsu. BACA : Sebenarnya Yang Boleh Dilakukan Tukang Gigi

Dari mana para tukang gigi itu bisa memiliki keahlian layaknya dokter gigi? JI (50), tukang gigi yang berada di kawasan condet Jakarta, Timur mengaku membuka jasa ahli gigi sejak tahun 1980-an. Pria asal  Jawa Timur itu menggeluti profesi tukang gigi sejak masih bujangan hingga kini punya dua anak yang telah dewasa.

Dari lokasi yang berpindah-pindah, JI, kini memiliki ‘klinik’ gigi depan rumahnya. Saat tim mengunjungi ke tempat praktiknya, ruangannya mirip di klinik gigi milik dokter resmi. Terdapat sebuah kursi khusus pasien yang mirip di klinik dan alat-alat kedokteran. Bedanya, saat berpraktik, JI tidak memakai jas dokter berwarna putih.

“Walaupun ada kursi seperti di (klinik) dokter gigi tapi saya hanya memasang gigi dan membuat gigi saja,” kata JI menerangkan kepada  tim  di ruang kerjanya, Condet, Jakarta Timur.

JI menuturkan, dari pengakuan teman-temannya sesama tukang gigi, keahlian mereka tidak didapatkan dari bangku sekolah. Sebagian otodidak atau belajar sendiri, ada yang turun temurun dari orang tuanya, tapi ada juga yang ikut pelatihan mirip kursus.

Dia sendiri mengaku ikut kursus untuk menjadi tukang gigi di kawasan Tanjung Priok pada tahun 80-an. Dia belajar membuat gigi palsu dan proses itu tidak mudah karena butuh kesabaran. “Waktu itu kan teman-teman kita banyak yang pengangguran, lulusan dari sekolahan dan ada yang menawarkan kursus. Tadinya sepertinya enggak mau ada kemauan, tapi lama kelamaan ya sudah,” ceritanya.

Saat memulai usahanya sebagai tukang gigi, awalnya JI berkeliling komplek atau perumahan menawarkan jasa tukang gigi dari rumah ke rumah. “Dulu itu keliling. Istilahnya door to door. Pertama saya merantau di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Nah di situ saya tuh sama teman-teman yang betul-betul ahli itu menawarkan dengan istilah door to door. Pada tahun 1981 itu keliling, enggak ada yang buka tempat seperti ini,” terangnya.

JI menambahkan, dia berkeliling menawarkan pembuatan gigi palsu dengan membawa peralatan yang lumayan besar dan berat. Sebesar kotak mesin jahit. Jika ada pelanggan yang mau, proses pembuatan gigi palsu pun dilakukan di rumah pelanggannya.

“Dulu saya tawarkan seperti ini ‘pak mau pasang gigi pak? Kayak gini bentuknya’. Jadi kalau pun misalnya jodoh, nyetaknya (gigi palsu) di rumah dia dan pasangnya juga di rumah dia. Alatnya dulu kita pikul kayak mesin jahit. Jarang dulu orang mau pasang gigi itu,” tuturnya.

Saat itu, kata JI, harga gigi palsu yang ditawarkan mulai Rp 2.500 sampai Rp 3.000 per gigi. “Tapi pada saat itu belum canggih. Dilukis dulu, dibentuk, direbus. Kalau sekarang kan kita tinggal menerapkan saja,” ungkapnya.

Pekerjaan sebagai tukang gigi terus ditekuni JI tanpa dibantu asisten. Bahkan sejak pindah ke Condet dan membuka klinik pada tahun 1995 hingga sekarang, dia selalu bekerja sendiri.

“Pekerjaan saya ini sangat dibutuhkan, orang yang enggak mampu bisalah tadinya jelek jadi cakep. Tukang gigi seperti saya ini sangat membantu. Ya enggak bisa dipasang, bisa dipasang. Saya sering sarankan kepada pasien dibuka aja deh. Enggak ada masalah. Jadi bahasanya enggak merugikan masyarakat malah menguntungkan,” ujarnya.

Saat ini, untuk pembuatan gigi palsu, JI memasang tarif bervariasi tergantung dari bahan dan kualitas gigi yang diinginkan pelanggan. “Ada kualitas yang bagus. Pasaran Rp 100 ribuan, kemudian Rp 200 ribuan dan paling bagus Rp 500 ribuan. Dan saya juga berikan jaminan atau garansi,” kata JI yang juga menjabat Ketua Serikat Tukang Gigi Indonesia wilayah DKI Jakarta.

Dan dari penghasilannya sebagai tukang gigi, JI bisa menguliahkan kedua putrinya. Bahkan salah satunya sudah ada yang menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Sementara tukang gigi lainnya, DWS (47) mengaku memiliki keahlian secara otodidak. “Ya memang tukang gigi itu otodidak. Dan dasarnya turun temurun dari orang tua atau paman. Jadi kita sebagai penerus,” terang DWS yang ditemui di tempat praktiknya di Rusun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

DWS mengaku pasiennya tak hanya dari Jakarta. “Saya tidak mau menyebut mereka pasien. Saya menyebut mereka costumer. Bukan dari dalam negeri saja, juga ada dari luar negeri seperti Inggris dan negara lain,” ujarnya.

Terima kasih :

Sumber gambar dan artikel : https://www.merdeka.com

Ket : Diubah seperlunya

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Berita
views 23
Dapatkan berita terbaru kedokteran gigi di SINI
Dokter Ini Gagal Cabut Gigi Pasien, Malah Disuruh ...
views 1596
Pasien Puskesmas Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak merasa tidak dihargai oleh dokter gigi yang bertugas. Sebab, pasien sempat disuruh mencari dokter d...
7 FKG Universitas Negeri Terbaik Di Indonesia
views 35058
Kedokteran gigi adalah ilmu mengenai pencegahan dan perawatan penyakit atau kelainan pada gigi dan mulut melalui tindakan tanpa atau dengan pembedahan...
Apakah Bahaya Fluoride Itu Fakta Atau Hoax?
views 2036
Fluoride, adalah satu kata yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi teman-teman dentist, apalagi zat ini terdapat dalam pasta gigi (odol) yang pastin...
Nama Dan Alamat Kampus FKG Di Indonesia
views 21576
Update 26 Juli 2017Berikut ini daftar nama dan alamat FKG seluruh Indonesia1. FKG Universitas AirlanggaAlamat : Jl. Mayjen. Prof. Dr. Moes...
Mahasiswa FKG Juara Di 8th Dentistry Scientific Me...
views 191
Mahasiswa Kedokteran Gigi UNSOED kembali torehkan prestasi membanggakan. Kali ini giliran Adrian Permadi, Nasriana Stephanie Manurung dan Yunia Amina ...
3 Mahasiswa FKG UNEJ Juara Kompetisi Oral Session ...
views 357
Mahasiswa Fakuktas Kedokteran Gigi Universitas Jember (FKG Unej), Provinsi Jawa Timur, Amalia Rahmaniar Indrati berhasil menjuarai penelitian kategori...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook4Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

admin

Admin website http://dental.id

You may also like...