web tracker Surat Terbuka Untuk Menteri Kesehatan Tentang Dokter Gigi Tidak Mau Ke Daerah - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Surat Terbuka Untuk Menteri Kesehatan Tentang Dokter Gigi Tidak Mau Ke Daerah

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook579Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Ditulis oleh :

drg. Ferizal, SpBM

  • Aktivis HAM dari Aceh Human Rights Observers (AHRO)
  • Sastrawan nasional, “Sang Pelopor Sastra Novel Dokter Gigi Indonesia”

Surat terbuka ini ditulis oleh drg. Ferizal, SpBM menanggapi pernyataan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek yang mengeluhkan masih banyaknya dokter yang enggan ke daerah terpencil, termasuk dokter gigi link disini

Baca Juga :

============================================

Yth. Ibu Menteri Kesehatan RI

Perkenalkan nama saya Ferizal. Saya hanyalah seorang warga masyarakat biasa. Saya hanya ingin menanggapi persoalan penyebaran Dokter Gigi di Indonesia yang tidak merata.

  1. Persoalan gender ikut mempengaruhi tidak meratanya penyebaran Dokter Gigi di Indonesia. Fakultas Kedokteran Gigi di Indonesia lebih banyak melahirkan Dokter Gigi perempuan. Jika mereka nantinya menikah, lalu suaminya melarang bekerja di daerah terpencil  atau mereka harus ikut suami nya, apakah itu kesalahan Dokter Gigi ?? Ataupun Dokter Gigi wanita yang masih gadis apakah keluarga nya akan mau begitu saja melepas anak gadis nya tanpa pemikiran matang matang ?
  2. Peralatan di daerah kurang memadai, tidak semua puskesmas dilengkapi dengan fasilitas pelayanan kesehatan gigi. Lalu bagaimana caranya menangani penduduk yang memiliki permasalahan pada kesehatan gigi dan mulut ???  Bagaimana Dokter Gigi bekerja jika tanpa dental chair ( tempat pasien diperiksa ), keterbatasan listrik dan obat ?

Berikut ini curhat empat orang Dokter Gigi perempuan :

a. Bgm jg drg mau ke daerah say klo sarana+alat+bahan ga ada…

b. sya di daerah loh, di PKM pertama tdk ada DU dan alat, jd dinkes memindahkan dri PKM sbelah, pindah ke PKM yg baru sma sja, ada DU tp tdk ada listrik dan Air, skrg sdh ada listrik Airnya yg blm ngalir jd pasienku kumur dgn air galon, (keren kan) DU ku blm ada saluran pembuangan jd klo kerja pasien, pasiennya cari wastafel dan sya bawa pulang alat cuci dirumah,,, so sya harus hilang apa ibu kemenkes??? Malah kt dokter gigi dilepas tanpa Peluru, di PKM ku yg baru tdk ada Tang gigi Rahang bawah. hmmmm byk skali sbenarnya keluhan tp yah sudahlah,,,

c. Bawa Alat dan Bahan dari rumah…itu sudah jadi tradisi…

d. Sy jg pnh di daerah pelosok 2 thn tanpa alat sm skl jgnkan DU, alat diagnostik pun tdk ada.. Ruangan poli gigi pun tak ada.. Akses ksana sulit jaringan seluler pun pakai antena waktu itu..

4. Peralatan untuk kesehatan gigi  tidaklah murah. Pemerintah harus menyediakan dulu peralatan praktik gigi berjalan atau portable yang bisa digunakan secara bergilir di daerah-daerah kecil.  Agar Dokter Gigi tidak kembali ke daerah perkotaan.

5. Mereka tidak ikut program Nusantara sehat karena sudah ikut PTT.

6. Berhubung mahalnya biaya pendidikan, maka Dokter Gigi  ingin kondisi yang  nyaman di bidang “keuangan”. Bukankah Dokter Gigi perlu aktif mencari dan meningkatkan kemampuan melalui seminar seminar yang juga menguras biaya ?? Agar tidak ketinggalan zaman dengan teknologi kedokteran gigi saat ini.

Demikianlah surat terbuka saya.

Baca Juga : Era JKN : Dokter Gigi Hanya Dibayar Rp 2000

Sumber tulisan :

https://indonesianewstoday.wordpress.com/2016/02/26/pernyataan-menkes-dokter-gigi-tak-mau-ke-daerah-dibantah-ferizal-aktivis-ham/

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook579Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0