website statistics
Home > Berita > Perawat = Pembantu Dokter?

Perawat = Pembantu Dokter?

Advertisement
Advertisement

Ditulis oleh : by Naela Mustika Khikmah, Ns dan dr. Hafiidhaturrahmah

Perawat, siapa yang tidak kenal dengan profesi luar biasa ini. Bahkan tidak jarang pasien lebih ingat akan perawat daripada dokternya karena pasien lebih berinteraksi dengan para perawat yang memang mempunyai waktu lebih banyak dibanding dokter.

Ketekunan juga kesabaran perawat dalam merawat pasien hingga sembuh merupakan hal luar biasa. Sama juga akan perkenalan saya dengan Naela Mustika Khikmah, Ns perawat muda yang mengabdikan diri di lereng Bromo. Program Pencerah Nusantara menjadi wadah bagi kami para tenaga kesehatan untuk menyamakan visi misi dan mengutamakan pasien.

Pasalnya paradigma miring bahwa perawat adalah orang nomer dua yang seolah-olah hanya menjadi pembantu dokter sudah terlalu lama bergulir. Tidak jarang karena pola pikir seperti inilah maka harmonisme antara dokter dan perawat sering berada di ujung tanduk.

Dokter terkadang merasa perawat bekerja di luar wewenangnya dan perawat pun merasa dokter hanya dapat memerintah saja tanpa berbagi kesejahteraan dengan adil. Padahal, sungguh kami para dokter tidak akan mampu mengobati dan melayani pasien tanpa peran serta dari perawat.

Oleh karenanya, dalam satu ruangan IGD pastilah perbandingan jumlah dokter dan perawat akan sangat menyolok. Dokter bertugas memeriksa pasien dan memberikan terapi sementara perawat berpusat pada hal terkait dunia “perawatan” pasien. Dalam hal ini tentu saja peranan perawat lebih besar dibandingkan peranan dokter di awal.

Jika pasien sudah tertangani kondisi kegawatdaruratannya namun tidak mendapatkan perawatan yang maksimal setelahnya maka jangan harap akan bertahan lama. Itulah peran besar perawat yang sering kali tidak terlihat, dimana para perawat menghabiskan waktu lebih lama bersama pasien untuk sekadar mendengarkan kisah pasien.

Namun, bukan hal mudah melakukan kolaborasi dalam berbagi tugas antara dokter dengan perawat karena sejak di bangku kuliah belum ada universitas di Indonesia yang menggabungkan dunia pendidikan keperawatan dengan kedokteran.

Saya sendiri pun merasakan adanya jurang pemisah tersebut semenjak mahasiswa. Saya masih beruntung dapat berinteraksi dengan para sejawat perawat dengan menjadi asisten dosen dan berbagi ilmu dengan para perawat. Tentu saja itu belum cukup karena perlu mata kuliah khusus yang menggabungkan berbagai macam tenaga kesehatan untuk saling menghargai sejak dari bangku kuliah.

Tidak Mudah Menjadi Perawat

Jika selama ini anda menganggap perawat hanya tenaga kesehatan kelas dua yang dengan mudah lulus, maka saya katakan bahwa anda salah besar. Menjadi perawat bukan hal mudah. Proses pembelajaran di bangku kuliah terkadang nyaris sama lamanya dengan dokter. Pendidikan untuk perawat pertama kali dimulai di Indonesia dengan adanya SPK (Sekolah Petugas Kesehatan), setingkat SMA namun dengan penjurusan kesehatan. Namun saat ini jalur keperawatan melalui SPK sudah dihapus oleh Kemenkes dan pendidikan keperawatan dimulai dari jenjang D3 dengan gelar AMD,Kep hingga jenjang ners dengan gelar Ns. Itu artinya butuh minimal 3 tahun untuk menjadi perawat D3 dan jika mengambil jenjang sarjana dengan profesi sekaligus maka totalnya 4 tahun.

Sama dengan dokter yang dapat melanjutkan sekolah spesialisasi, para perawat pun dapat melanjutkan pendidikan ke spesialis keperawatan di bidang bedah, maternal, anak, jiwa, dan juga komunitas. Bahkan jenjang melanjutkan kuliah di luar negeri pun banyak tersebar untuk para perawat.

Hal tersebut diharapkan dapat memacu para perawat untuk terus meng-update terus ilmu yang dimiliki melalui jurnal dan berbagai media lainnya.

Tugas saat di bangku kuliah keperawatan pun tidak mudah karena hampir sebagian besar laporan perawatan pasien harus ditulis dengan tulisan tangan untuk menghindari plagiasi alias copy paste.

Belum lagi tugas di bangku profesi yang berinteraksi langsung dengan pasien. Dimulai dari hal sederhana merapikan tempat tidur pasien, memandikan pasien, memastikan pasien makan dengan baik dan benar, hingga membersihkan kotoran pasien. Tidak jarang karena lebih banyak berinteraksi dengan pasien, maka perawat menjadi garda terdepan dalam menerima kemarahan serta segala uneg-uneg pasien. Tentunya bukan hal mudah melewati 4 tahun dan bekerja dengan tetap harus selalu tersenyum dan ramah. Memang bukan hal mudah menjadi perawat.

Perawat Masa Lampau

Jika anda pernah mengenal Florence Nightingale, beliaulah ibu keperawatan modern yang mengubah citra perawat dari pekerjaan yang hina menjadi profesi yang terdidik dan dihargai.

Wanita kelahiran 12 Mei 1820 ini tidak pernah menikah dan memutuskan membaktikan dirinya di dunia keperawatan hingga meninggal di usia 90 tahun. Nightingale dikenal sebagai The Lady with The Lamp karena Ia selalu membawa lentera ke bekas medan pertempuran untuk menolong para prajurit. Nightingale mempunyai cita-cita untuk memajukan dunia keperawatan karena pengobatan dan perawatan tak dapat dipisahkan. Keduanya laksana dua sisi koin yang saling terkait.

Oleh karenanya mengadopsi Sumpah Hipokrates yang digunakan para dokter, ada pula Sumpah Nightingale untuk para perawat yang digunakan pertama kali di tahun 1893, tiga tahun setelah Nightingale meninggal dunia. Hingga kini, 12 Mei selalu dikenang sebagai Hari Perawat Sedunia atas jasa mulia Nightingale.

“I solemnly pledge myself before God and in the presence of this assembly, to pass my life in purity and to practice my profession faithfully.

I will abstain from whatever is deleterious and mischievous, and will not take or knowingly administer any harmful drug. I will do all in my power to maintain and elevate the standard of my profession, and will hold in confidence all personal matters committed to my keeping and all family affairs coming to my knowledge in the practice of my calling. With loyalty will I endeavor to aid the physician in his work, and devote myself to the welfare of those committed to my care.”

Perawat Masa Depan

Dengan jumlah Akademi Keperawatan (Akper) yang lebih dari 1.000 dan sudah berdiri sejak 20 tahun yang lalu, jumlah total perawat di Indonesia kini mencapai 225.000 orang.

Tentu saja Perawat masa depan diharapkan yang mengetahui peran, tanggung jawab, dan wewenangnya supaya tidak menyalahi aturan namun tetap bisa memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat, baik yang sehat maupun yang sakit.

Perawat profesional juga harus bekerja sama dan berjalan sinergi antar kelompok, baik dari pendidik, peneliti, pengelola, maupun pelayan. Setiap kelompok saling menghargai supaya tidak lagi saling menyalahkan. Semuanya dapat memajukan dunia keperawatan di ranah masing-masing. Begitu juga hubungan dengan profesi lain dalam tim kesehatan.

Setiap profesi mempunyai peran, tanggungjawab dan wewenang masing-masing. Alangkah baiknya jika kita setiap profesi berintegrasi agar tercapai kepuasan pasien dan juga kepuasan tim tenaga kesehatan. Tindakan terintegrasi dapat tercipta jika setiap profesi saling memahami dan menghargai peran dan tanggungjawab perawat .

Selain itu, tak akan ada lagi rasa bersaing antar tenaga kesehatan karena setiap profesi mempunyai lahan praktik masing-masing. Dokter mengobati penyakit, perawat mengatasi respons terhadap penyakit, dan profesi lain juga mempunyai identitas khas profesinya.

Mungkin anda pernah mendengar kasus tuntutan hukum terhadap perawat di daerah terpencil yang memberikan pengobatan karena tidak adanya dokter di tempat tersebut. Atau mungkin anda pernah mendengar perawat senior yang terkenal dengan sebutan “Mantri” dengan mudah membuka praktek berpalang sementara dokter harus melalui rangkaian panjang mendapatkan surat izin praktek untuk sebuah pemasangan palang.

Tentu saja kita tidak ingin perawat disalahkan karena perbedaan wewenang tidak diimbangi oleh kecukupan tenaga kesehatan lainnya. Kita juga tidak ingin oknum perawat melakukan yang bukan kompetensinya jika ada yang lebih berkompetensi supaya tidak tumpang tindih dan terjadi gesekan.

Oleh karenanya, penting untuk membuat aturan supaya perawat nyaman dalam melakukan tugasnya dan tidak terbayangi oleh ketakutan atas tuntutan hukum yang harusnya tidak perlu terjadi.

Hingga saat ini draft RUU Keperawatan sudah ditandatangani oleh Susilo Bambang Yudhoyono melalui komisi IX DPR. Kami berharap dengan adanya Undang-Undang Keperawatan, tugas dan wewenang perawat makin jelas, konsil keperawatan tercipta, serta ada payung hukum bagi perawat yang ada di daerah sulit akses akan pelayanan kesehatan. Tentu saja supaya harmonisasi perawat dengan dokter serta tenaga kesehatan lain makin baik.

Selamat memahami masing-masing profesi dan tidak menutup diri untuk selalu belajar ilmu terbaru.

Selamat Hari Perawat Sedunia

Jaya Terus Perawat Indonesia.

Salam Indonesia Sehat

Tulisan ini merupakan kolaborasi antara perawat dan dokter Pencerah Nusantara Tosari

Sumber tulisan :

https://www.facebook.com

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0
admin
Admin website http://dental.id