web tracker #doktergigimenggugat 5 : 3 Hal Yang Bisa Dilakukan Menyikapi Praktek Tukang Gigi Ilegal By drg. Sitirahma Desmarleni - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

#doktergigimenggugat 5 : 3 Hal Yang Bisa Dilakukan Menyikapi Praktek Tukang Gigi Ilegal By drg. Sitirahma Desmarleni

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook48Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Penulis : drg. Sitirahma Desmarleni

Dokter Gigi PTT Kemenkes di Puskesmas Napal Putih, Bengkulu Utara.

gambar 1Beberapa hari yang lalu, grup alumni angkatan dipenuhi oleh diskusi teman-teman mengenai praktik-praktik kedokteran gigi ilegal oleh orang yang tidak berkompetensi. Salah satunya oleh akun media sosial Instagram @jambishopmurah. Akun tersebut secara gamblang melakukan promosi perawatan gigi seperti melakukan veneer, behel gigi dan skalling. Sebuah video memperlihatkan praktek penambalan gigi dengan menggunakan mini drill yang biasa digunakan untuk pekerjaan bangunan.

Tak hanya dijambi, Salon Vanessa d Semarang dengan berani mempromosikan perawatan veneer gigi Kelinci lewat facebook. Tak tanggung-tanggung, akun facebook tersebut juga melakukan pencurian karya cipta berupa foto hasil perawatan veneer. Ini dilakukan agar calon pasien percaya dengan promosi salon tersebut.

gambar 2Tak dapat dipungkiri, Media Sosial banyak berperan dalam fenomena menjamurnya praktek-praktek kedokteran gigi ilegal. Promosi perawatan gigi ilegal ini dilakukan di media sosial tanpa ada batasan dan pihak yang dapat menghentikannya. Tidak sedikit rekan sejawat dokter gigi yang merasa geram dengan ulah oknum-oknum tukang gigi ilegal ini, mencoba memberikan penjelasan dan edukasi kepada masyarakat.

Tidak adanya tindakan tegas dari pihak terkait seperti pembiaran membuat praktek ilegal ini semakin menjamur diberbagai daerah di Indonesia. Bahwa @jambishopmurah dan Vanessa salon adalah 2 dari sekian banyak praktek tukang gigi ilegal yang ada saat ini.

Selain itu, proses pembelian alat dan bahan kedokteran yang dinilai sangat mudah, juga menjadi faktor semakin berkembangnya fenomena tukang gigi ilegal.

Kita bisa menemukan ratusan supplier alat dan bahan berjualan online lewat media sosial tanpa ada pengawasan terhadap para pembelinya. Bisnis praktek kedokteran gigi ilegal ini memang sangat menggiurkan, selain tidak perlu sekolah dan punya kompetensi, peminatnya sangat banyak.

Penulis katakan demikian karena sebagian besar pasien yang melakukan perawatan ilegal adalah pasien yang melakukan perawatan estetis dan kecantikan. Pasien dengan penuh kesadaran lebih memilih merawat giginya di praktek ilegal dibandingkan ke Dokter Gigi karena tergiur oleh biaya perawatan yang lebih murah. Tentu saja lebih murah, karena tidak punya kompetensi.

Rasanya jengkel sekali ketika mendapati pasien yang telah menjadi korban tukang gigi akhirnya datang juga ke dokter gigi dalam keadaan kondisi mulut yang sudah parah dan kompleks.

Banyak pihak yang meminta agar PDGI menindak dan melaporkan para tukang gigi ilegal tersebut. Akan tetapi, perlu kita pahami terlebih dulu, apa dan bagaimana sebenarnya tugas dan kewenangan Organisasi Profesi ini?

Menurut AD ART Organisasi PDGI Hasil Kongres XXIV tahun 2011, salah satu wewenang PDGI yaitu melakukan pembinaan dan pengawasan kepada anggotanya, dalam hal ini adalah Dokter Gigi. Jadi jelas bahwa ahli gigi, tukang gigi atau siapapun yang melakukan praktek selain dokter gigi tidak dapat ditindak dan dibina oleh PDGI. Namun disisi lain, PDGI juga wajib memberikan perlindungan dan perlindungan terhadap hak dan kepentingan anggotanya. PDGI tentu dapat melakukan sesuatu guna memberikan melindungi hak dan kepentingan para dokter gigi yang merasa dirugikan oleh keberadaan orang-orang tidak berkompeten yang melakukan praktek tersebut.

Apakah Tukang Gigi itu legal?

Jika merujuk kepada dasar hukum, pada dasarnya keberadaan Ahli Gigi dan Tukang Gigi sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.39 Tahun 2014 tentang Pembinaan, Pengawasan dan Perizinan Tukang Gigi.  Kewenangan ini sangat terbatas, karena hanya tukang gigi yang mempunyai kemampuan yang bisa membuat dan memasang Gigi Tiruan Lepasan. Tukang Gigipun wajib memiliki Izin Tukang Gigi yang berlaku selama 2 tahun (Pasal 2 ayat (1) Permenkes 39/2014). Selain itu, juga terdapat sederet persyaratan dan aturan bagi Tukang Gigi salah satunya tidak boleh menutupi sisa akar gigi. Selain hal tersebut, Tukang Gigi DILARANG melakukan pekerjaan diluar kewenangannya.

Menyikapi masalah ini, apakah cukup bagi kita untuk berkeluh kesah saja? Apakah tidak ada tindakan nyata yang dapat dilakukan? Penulis mencoba merangkum 3 poin penting terkait apa yang bisa kita lakukan,

  1. Mendorong Pasien/Korban untuk melaporkan tindakan Tukang Gigi tersebut kepada Polisi dan menempuh jalur hukum. Apabila ada pasien yang datang kepada kita dan mengaku mejadi korban tukang gigi, kita perlu meng-edukasi Pasien selaku konsumen dapat meminta pertanggung jawaban sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Jadi, yang bisa membuat delik aduan adalah korban dengan melaporkan tindakan tersebut kepada Pihak Berwajib.
  2. Meskipun Organisasi PDGI tidak dapat menindak dan membina para Tukang Gigi, namun Organisasi berkewajiban untuk melindungi hak dan kepentingan anggotanya. Menurut hemat penulis, PDGI dapat memberikan somasi dan/atau memberikan rekomendasi kepada pihak terkait dalam hal ini, Dinas Kesehatan, untuk melakukan penertiban praktek-praktek kedokteran gigi ilegal dan memberikan sanksi sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.
  3. PDGI, Dinas Kesehatan dan Kepolisian harus bekerjasama melakukan koordinasi dalam upaya pencegahan agar tidak muncul lebih banyak lagi pasien-pasien yang menjadi korban oknum-oknum yang melangggar hukum karena bekerja tidak sesuai kompetensinya.

Untuk ke depannya, Penulis merasa pemerintah perlu membuat regulasi terkait perdagangan alat dan bahan kedokteran gigi, khususnya menyikapi tren jualan online di media sosial saat ini.

Kami mengundang teman sejawat untuk ikut program #doktergigimenggugat dengan cara mengirim artikel terkait fenomena tukang gigi ini bisa dikirimkan ke alamat email di dentalidofficial@gmail.com.

Mohon dituliskan juga :

  1. nama lengkap dan gelar
  1. bekerja dimana (kota, klinik atau instansi)

Kami tunggu kontribusi dari teman sejawat.

Satu langkah nyata lebih baik daripada seribu keinginan yang tidak terlaksana

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

#doktergigimenggugat 1 : Gigi Hancur Akibat Tukang...
views 1791
Penulis : drg. Mulya YestiSaya dokter gigi Mulya Yesti yg akrab dipanggil drg. DheaSaya pagi praktek di Klinik Medistra dan sore hari praktik ...
#doktergigimenggugat 2 : Tidak Berkompetensi Namun...
views 447
Penulis : drg. Jane K, MKesBerikut beberapa bukti bahwa banyak oknum tidak berkompetensi sebagai dokter gigi mempromosikan "jualan"nya dan ada kas...
#doktergigimenggugat 3 : Gigi Masih Banyak Yang Te...
views 278
Penulis : drg. Mardhali AffiqBekerja di Puskesmas Mardinding Kab. Karo dan Klinik Azzahra PerbaunganBeberapa hari yang lalu saya kedatangan pa...
#doktergigimenggugat 4 : Belum Selesai Pasang GTSL...
views 536
Penulis : drg. Devasari Gemi NastitiSejawat senior yg giat mengupas perihal tukang gigi salah satunya drg. Azrial Azwar, Sp.BM. saya lupa detailny...
#doktergigimenggugat 6 : Fenomena Alternatif Peraw...
views 380
Penulis : drg. Esther Esti NenobaisSekilas pemikiran sebelum tidur. Dua hari kemarin saya menyelesaikan praktek dengan agak gundah-gulana (tapi sa...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook48Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0