counter free hit unique webdrg. Astrid Khatalia, SpPros : Dental Estetika Dan Identitas Yang Harus Dipertahankan - dental.id
drg. astrid khatalia, SpPros
Wawancara

drg. Astrid Khatalia, SpPros : Dental Estetika Dan Identitas Yang Harus Dipertahankan

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

drg. astrid khatalia, SpPros

Dalam dunia kedokteran gigi di ranah masyarakat sedang tren sebuah konsep baru tentang gigi. Dahulu gigi hanya berurusan dengan sakit atau perawatan dari yang rusak menjadi lebih baik. Namun sekarang ini ada tren terbaru yaitu dental estetika.

Dalam wawancara kali ini dental.id mencoba untuk wawancara dengan drg. Astrid Khatalia salah satu dokter gigi yang fokus dalam dental estetika ini. Berikut petikan wawancaranya.

1.Siapakah nama lengkap dokter dan tempat tanggal lahirnya

Astrid Khatalia

22 Februari 1980

Apakah pendidikan terakhir dokter?

Spesialis Prosthodonsia (alumni UI, lulus 2005)

Boleh diceritakan dok apakah sejak kecil memang bercita2 ingin menjadi dokter gigi?

Cerita nya klise, sama seperti pada umumnya. Anak2 jaman saya dulu kebanyakan bercita2 menjadi insinyur atau dokter. Saya sudah diterima di 2 Fakultas Kedokteran universitas swasta. Lalu saya ikut UMPTN Pilihan pertama masuk UI adalah FK dan kedua FKG. Saya memutuskan untuk memilih FKG UI. Tapi saya percaya rencana Tuhan yang terbaik, karena saya sangat bersyukur diarahkan menjadi dokter gigi seperti sekarang.

Kalau saya bisa memutar balikkan waktu, FKG akan jadi pilihan pertama saya

Apa momen yang menjadikan dokter yakin dan akhirnya bersyukur menjadi dokter gigi? Padahal dokter gigi awalnya pilihan kedua.

Saya rasa apapun pekerjaan kita, kalau kita bisa menemukan rasa suka, dan kemudian cinta, maka akan timbul rasa bersyukur. Saya menemukan itu di bidang ini.

Apalagi setelah mendalami bidang kecantikan gigi. Melihat pasien saya bisa tersenyum bahagia & percaya diri ‘value’ yang luar biasa dalam pekerjaan ini.

Saya juga banyak mendapatkan teman & sahabat baru dengan profesi ini.

Dokter mengambil spesialis kecantikan gigi? Apakah kecantikan gigi itu? Dan apakah trend kedokteran gigi sudah bergeser tidak hanya tentang kesehatan tetapi juga estetika atau kecantikan?

Spesialis saya Prosthodonsia, bertugas mengembalikan fungsi pengunyahan dan penampilan gigi. Sebenarnya kecantikan gigi ada di semua bidang pekerjaan doker gigi, namun aplikasinya di bidang saya adalah bagaimana membuat penampilan gigi baru menjadi proporsional, bersinergi dengan jaringan sekitarnya, dan tentunya harus berfungsi dengan baik.

Trend kedokteran gigi saat ini sedang meningkat ke level yang lebih tinggi, dimana pasien sudah memperdulikan ‘penampilan’ bukan hanya fungsi.

Ketika ‘penampilan’ sudah mulai menjadi tren apakah perlu ada kursus khusus untuk melayani pasien yang menginginkan?

Pasti dibutuhkan pendidikan khusus untuk semua pekerjaan spesifik. Begitu juga untuk pekerjaan ini, setidaknya supaya kita mengetahui ‘dasar’ nya untuk bekerja sesuai SOP yang benar, walaupun nanti pada aplikasi nya juga harus disesuaikan dengan keinginan & kebutuhan masing2 pasien.

Bagaimana dokter menyikapi permintaan pasien yang kadang ‘menyalahi’ standart estetika, misal permintaan gigi yang seputih cat tembok/’toilet bowl’?

Salah atau benar saat membicarakan estetika selalu menjadi kontroversial. Karena “indah/cantik” itu relatif, bisa berbeda2 tergantung darimana sudut pandangnya.

Saya akan menggunakan gambar/foto2 saat edukasi pasien. Saya katakan kepada mereka, pekerjaan ini seperti membeli lukisan, teliti dulu hasil karya dan tipe “lukisan” apa yang yang mau dibeli. Kalau mereka cocok dengan ‘lukisan’ saya mereka akan memilih saya, tapi kalau tidak, saya lebih baik mereka memilih pelukis lain dibandingkan saya harus memaksakan membuat lukisan yang bukan ‘nurani’ saya.

Dan sampai saat ini, setelah melihat perbedaan secara visual, pasien saya pasti memilih yang natural. Mereka sebenarnya juga bisa membedakan kok mana yang normal mana yang tidak.

Namun kebanyakan pasien ‘salah’ karena tidak mengerti, karena itu tugas kita sebagai tenaga kesehatan harus mengedukasi pasien.

Sebenarnya yang lebih memprihatinkan saat ini bukan ‘putih’ nya, tapi pengasahan gigi yang tidak perlu. Karena warna masih bisa diperbaiki/diganti, tapi gigi yang sudah diasah tidak dapat dikembalikan lagi.

Mana yang harus ikut? dokter yang mengikuti permintaan pasien atau pasien yang mengikuti saran dokter terkait estetika? Apakah ada dokter yan mengikuti saja keinginan pasien?

Wah ini pertanyaan yang sulit, hidup itu selalu ada pilihan, dan semua keputusan tergantung pribadi masing2, tidak bisa dikatakan salah atau benar karena pasti masing2 punya pertimbangan.

Tapi kalau saya pribadi akan memilih untuk mengedukasi pasien, karena semua pekerjaan saya yang menempel di mulut pasien adalah sama saja dengan ‘identitas’ saya.

Dan saya akan berusaha keras untuk mempertanggung jawabkan hasil kerja saya. Bukan hanya berdasarkan ‘asal pasien jadi’ tapi juga kepuasan diri sendiri bahwa saya sudah berusaha bekerja dengan benar.

Bagaimana dokter melihat masa depan dental estetika ini ketika urusan gigi bagi sebagian masyarakat masih no 2?

Kondisinya sekarang bidang dental estetika ‘booming’ terlalu cepat.  Masih banyak yang harus ditingkatkan baik pengetahuan & kemampuan dokter giginya juga pengenalannya ke masyarakat.

Saya mengharapkan kita para tenaga kesehatan mau terus belajar untuk menjadi lebih baik lagi, karena masa depan dental estetika di Indonesia ada di tangan kita sendiri, para dokter gigi. Kalau kita bisa menjalankan nya dengan baik,masa depan dental estetika akan baik juga karena  kepercayaan masyarakat pasti akan terus meningkat & berjalan dalam jangka panjang.

Maaf dok apakah yang dimaksud dengan “booming terlalu cepat”? Dan apa akibatnya baik bagi pasien maupun sejawat dokter gigi?

Seperti kita semua tahu dan lihat sendiri, like it or not, ‘Veneer bombing is happening’. Semua menyebar seperti wabah diberbagai lapisan mayarakat, padahal kesiapan pengetahuan masyarakat masih sangat minim soal dental estetika ini. Seakan akan ‘Veneer’ adalah jalan keluar instan yang bisa menyelesaikan semua permasalahan gigi geligi.

Efeknya bagi sejawat dokter gigi, semua seperti berlomba lomba memberikan pelayanan ini, padahal diperlukan pendidikan khusus dan pengalaman yang cukup untuk bisa memberikan pelayanan dental estetika dengan SOP yang benar.

Saya sendiri baru 14 tahun mendalami bidang ini, dan masih selalu ada hal baru yang dipelajari pada setiap kasus yang saya kerjakan sampai sekarang.

Prosesnya tidak sesederhana itu, dan pasien sebagai awam banyak yang dirugikan karena baru menyadari masalah yang timbul dikemudian hari.

Masyarakat harus tahu dental estetika banyak sekali pilihannya, bukan hanya veneer. Semua harus disesuaikan dengan indikasi dan kebutuhannya.

‘Veneer is one way ticket. It’s good, but not for everybody.’

Jika memang veneer sudah boming dan dokter gigi mau tidak mau harus belajar. Apakah dari organisasi profesi juga sudah melakukan berbagai langkah untuk menyelaraskan fenomena ‘veneer bombing’?

Dari Organisasi saya rasa sudah cukup aktif ya memberikan seminar, dan sharing2 edukasi.

Hanya memang kebanyakan berfokus pada ‘Veneer’ dan langsung pada tehnik ‘pembuatan’ nya. Sedangkan lingkup pekerjaan dental estetika sangat luas, dan prosesnya juga sangat panjang dari pasien datang hingga selesai, dari diagnosa, seleksi kasus, pemilihan indikasi, persiapan s/d perawatan setelah pemasangan. Saya rasa bagian itu yang masih harus banyak ditingkatkan lagi supaya kita para tenaga kesehatan bisa lebih selektif memilih dan melaksanakan sesuai SOP jenis perawatan terbaik untuk pasien sesuai kebutuhannya.

Ini pertanyaan terakhir. Apa harapan dokter terkait veneer bombing bagi teman sejawat dan masyarakat secara umum agar ketika waktu veneer bombing yang ‘seharusnya datang’ sudah bisa dipersiapkan?

Harapan saya, untuk para teman sejawat, para dokter gigi baru dan para calon dokter gigi, bekerjalah dengan integritas, berpikirlah memberi terlebih dahulu sebelum menerima artinya kita harus mempersiapkan sebaik-baiknya sebelum memutuskan untuk mengerjakan, gigi pasien cuma satu, yang sudah dirusak tidak dapat dikembalikan lagi. Bidang ini memang godaan nya besar sekali, tapi selalu ingatkan diri sendiri ‘If you were the patient, what will you do for yourself?’ Dengan begitu kita pasti akan memilih yang terbaik untuk pasien.

Untuk masyarakat, tetap kita harus mengingat, kesehatan adalah nomor satu. Veneer diciptakan untuk ‘memperbaiki’ bukan sebaliknya. Kalau kita bisa membuat veneer kita lebih baik dari kondisi gigi asli, lakukan, tapi kalau sebaliknya apalagi akan merusak, jangan. Banyak pilihan lain yang bisa membuat kita cantik, tapi juga sehat. Jangan ragu melakukan perawatan persiapan (seperti merapihkan gigi dengan kawat gigi) untuk mendukung hasil perawatan, menambah waktu diawal lebih baik daripada harus bolak balik ke dokter gigi karena masalah yang timbul akibat mengambil jalan pintas.

Saya percaya masa depan dental estetika ini akan baik, selama kita terus bekerja sama dengan positif.

Terima kasih dokter Astrid atas wawancaranya. Semoga misi tentang dental estetika beserta harapan-harapan yang diinginkan bisa tercapai.

Berikan Komentar Disini
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Admin website http://dental.id