Apa Penyebab Bruxim Dan Apakah Bruxism Berbahaya?

Apa Penyebab Bruxim Dan Apakah Bruxism Berbahaya

Pengertian Bruxism

Bruxism adalah kebiasaan menggeretakkan (grinding) atau mengatupkan rahang atas dan bawah dengan keras (clenching) dan menggesekkan gigi yang dilakukan secara tidak sadar. Kebiasaan ini bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Jika kebiasaan ini tidak ditangani, penderita bruxism berpotensi mengalami kerusakan berat pada giginya.

Kebiasaan ini timbul pada saat gigi geligi sedang tumbuh (anak-anak) dan seiring dengan waktu, kebiasaan ini akan hilang dengan sendirinya pada saat remaja, namun ada yang menetap hingga dewasa. Menurut Rao (2008), kejadian bruxism terjadi pada anak dan dewasa sebesar 15%.

Banyak penyebab dari bruxism, tetapi berdasarkan pengalaman klinis lebih banyak faktor herediter dan faktor emosional. Contohnya pada kasus herediter adalah apabila seorang anak mempunyai kebiasaan ini, biasanya salah satu dari orangtuanya mempunyai kebiasaan yang serupa.

Pada banyak kasus, bruxism terjadi secara spontan ketika seseorang sedang berkonsentrasi, merasa cemas, atau saat mengalami stres yang berlebihan.

Bruxism mungkin awalnya tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Akan tetapi, bruxism lama-kelamaan bisa menimbulkan dampak yang lebih besar, seperti kerusakan gigi, sakit kepala, dan gangguan pada rahang yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.

Kebanyakan orang tidak menyadari bruxism sampai akhirnya timbul komplikasi. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mengetahui penyebab dan gejala kondisi ini agar terhindar dari dampak yang lebih besar.

Penyebab Bruxism

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab dari gangguan bruxism. Namun, dinilai ada kombinasi antara gangguan pada fisik, psikologis, hingga genetik. Bruxism bisa terjadi saat pengidapnya terjaga (terbangun) dan tertidur.

Ada beberapa faktor fisik dan psikologis yang bisa menjadi pemicu terjadinya bruxism, yaitu:

  • Merasa cemas, stres, marah, frustrasi, atau tegang
  • Memiliki ciri kepribadian yang agresif, kompetitif, atau hiperaktif
  • Memiliki anggota keluarga dengan bruxism
  • Memiliki gangguan tidur, contohnya sleep apnea atau sleep paralysis (ketindihan)
  • Menjalani gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, atau menggunakan narkoba
  • Menderita penyakit tertentu, seperti penyakit Parkinson, demensia, penyakit asam lambung, atau epilepsi
  • Mengonsumsi obat-obatan phenothiazine, seperti chlorpromazine, dan beberapa jenis obat antidepresan

Gejala

Seseorang dengan bruxism memiliki kebiasaan untuk menggeretakkan, menekan, atau menggesek giginya ke atas dan ke bawah, atau ke kanan dan ke kiri secara tidak sadar. Hal ini dapat memicu munculnya gejala lain, seperti:

  • Permukaan atas gigi menjadi rata (tidak bergerigi)
  • Gigi retak, patah, atau goyang.
  • Gigi menjadi lebih sensitif
  • Nyeri saat mengunyah makanan khususnya makanan¬† yang keras.
  • Otot rahang menjadi tegang
  • Wajah terasa pegal
  • Sakit kepala
  • Sakit telinga

Diagnosis 

Diagnosis Bruxism dapat diketahui laporan penderita sendiri (self-reported) dan observasi klinik adanya keausan gigi. Jika dokter mencurigai kamu mengalami bruxism, dokter juga akan bertanya mengenai riwayat kesehatan gigi, mulai dari penggunaan obat-obatan, kebiasaan aktivitas, hingga riwayat gangguan tidur yang dialami.

Untuk memastikan bruxism, ada beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter:

  • Pemeriksaan meliputi otot rahang.
  • Memastikan tidak ada kelainan gigi yang dialami.
  • Kerusakan lain pada area mulut dan gigi. Kondisi ini akan dilakukan pemeriksaan menggunakan X-Ray.

Kalian mengalami bruxism? Konsultasikan aja sekarang. GRATIS.

Klik link dibawah ini

https://senyum.asia

Pengobatan Bruxism

Pada kondisi bruxism yang ringan, tidak diperlukan pengobatan khusus. Namun, jika penyakit ini sudah menyebabkan gangguan kesehatan lain atau perilaku, maka ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan:

  • Memperbaiki Kondisi Gigi

Jika pengidap bruxism mengalami masalah kondisi gigi yang memicu gejala lainnya, perbaikan gigi perlu dilakukan untuk menurunkan risiko perburukan gejala. Pengobatan ini tidak dapat menghentikan bruxism, tetapi mencegah kerusakan gigi.

  • Penggunaan Pelindung Gigi

Pelindung mulut dan gigi bisa digunakan untuk memisahkan gigi agar tidak mengalami kerusakan akibat bruxism.

  • Mengelola Stres dengan Baik

Kondisi stres dan depresi yang tidak diatasi dengan baik memicu kondisi ini.

  • Pemasangan crown gigi baru untuk memperbaiki gigi yang sudah rusak parah
  • Pemberian obat pelemas otot untuk dikonsumsi sebelum tidur
  • Pemberian suntik botox pada rahang untuk melemaskan otot rahang yang kaku
  • Pemberian obat pereda nyeri untuk mengatasi nyeri rahang dan nyeri wajah

Selain itu, dokter akan menyarankan pasien untuk mengompres dan melakukan pijatan ringan di otot-otot yang sakit.

Seperti yang telah diketahui, bruxism dapat dipicu oleh kondisi lain, seperti penyakit atau penggunaan obat tertentu. Oleh karena itu, dokter juga akan mengatasi pemicu bruxism tersebut bila ditemukan.

Untuk bruxism yang disebabkan oleh stres atau kecemasan, beberapa terapi juga akan disarankan untuk mengurangi kebiasaan menggeretakkan gigi. Terapi yang dapat dilakukan antara lain:

  • Terapi untuk mengurangi stres dan kecemasan, seperti meditasi dan yoga
  • Terapi biofeedback dengan bantuan elektromiografi, untuk membiasakan pasien mengontrol aktivitas otot rahang setiap kali otot menegang
  • Terapi perubahan perilaku, untuk membiasakan pasien menghentikan bruxism setiap kali ia menyadarinya

Jika bruxism tidak membaik dengan terapi di atas, dokter mungkin akan merujuk pasien ke psikiater. Pemberian obat anticemas atau antidepresan jangka pendek yang disertai dengan terapi perilaku kognitif dapat membantu pasien mengendalikan kecemasan dan kebiasaannya dalam menggeretakkan gigi.

Komplikasi

Bruxism tidak menyebabkan komplikasi yang mengkhawatirkan. Meskipun begitu, ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, seperti:

  • Gigi menjadi retak, goyang, bahkan sampai copot.
  • Sakit kepala jangka panjang
  • Nyeri pada area wajah, rahang dan telinga jangka panjang
  • Peradangan atau pergeseran sendi rahang
  • Perubahan bentuk wajah
  • Insomnia
  • Infeksi gigi atau bahkan abses gigi

Dalam kasus yang ekstrem, bruxism dapat mengganggu penderitanya saat mengunyah, berbicara, dan menelan. Jika dibiarkan tidak tertangani, hal ini bisa berdampak tidak baik pada asupan nutrisi dan kehidupan sosial penderita.

Pencegahan

Pencegahan dan pengobatan bruxism dapat dimulai dari diri sendiri. Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah bruxism:

  • Kurangi stres berlebihan dengan melakukan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik, mandi air hangat, atau berolahraga.
  • Hindari mengonsumsi minuman beralkohol, merokok, atau menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Hindari minuman yang mengandung banyak kafein, seperti kopi, minuman berenergi, dan cokelat, terutama menjelang tidur.
  • Jauhkan diri dari kebiasaan menggigit-gigit pensil atau pulpen.
  • Kurangi kebiasaan makan permen karet.
  • Lemaskan rahang sebelum tidur dengan cara meletakkan handuk hangat di bagian pipi dan telinga setiap hari.
  • Berlatihlah untuk mengurangi bruxism dengan cara menjepitkan ujung lidah di antara gigi atas dan gigi bawah.
  • Jaga jadwal tidur yang sama dan waktu tidur yang cukup setiap harinya.
  • Lakukan pemeriksaan ke dokter gigi secara berkala.

Sumber :

1. https://www.alodokter.com/bruxism

2. https://www.halodoc.com/kesehatan/bruxism

3. https://www.ekahospital.com/better-healths/gigi/bruxism

(Visited 71 times, 3 visits today)