Apakah Gigi Berlubang Wajib Dicabut?
Gigi berlubang tidak hanya terjadi pada anak tetapi juga bisa terjadi pada orang dewasa yang tidak memberikan perhatian terhadap kesehatan gigi mereka.
Sayangnya, gigi berlubang yang tidak segera mendapatkan penanganan atau tidak ditangani dengan benar memicu infeksi pada jaringan tubuh. Jangan abaikan gigi yang berlubang, karena ini dampak yang akan kamu dapatkan.
1. Nyeri yang Tidak Tertahankan
Nyeri yang kamu rasakan bergantung pada seberapa besar lubang yang bersarang pada gigi. Bisa jadi, rasa sakitnya datang dan bertahan selama beberapa detik, kemudian menghilang. Namun, rasa sakit ini akan kembali datang dan dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Bukan tidak mungkin, rasa sakit ini menyalur hingga ke bagian kepala.
2. Abses Gigi
Gigi berlubang yang tidak ditangani mengakibatkan terjadinya infeksi yang menyebar ke bagian jaringan lunak dari pulp, rahang, atau mulut. Infeksi yang parah bisa menyebabkan munculnya abses atau kantong berisi nanah yang terlihat di sekitar gigi maupun gusi. Munculnya abses ini lebih karena adanya bakteri yang terakumulasi di dalam mulut.
3. Masalah Gusi
Gingivitis atau penyakit gusi muncul dengan gejala peradangan pada gusi yang diikuti dengan rasa nyeri hebat. Bahkan, penyakit ini bisa menyerang gusi sehat lainnya. Hal ini membuat gusi terlihat membengkak dan berwarna kemerahan, bahkan bisa mengeluarkan darah ketika kamu menyentuh atau menyikatnya. Pada kasus gigi berlubang yang parah, kamu pun bisa mengalami kondisi yang disebut periodontitis.
4. Penyakit Jantung dan Stroke
Apa hubungan antara gigi berlubang dan masalah jantung hingga stroke? Ternyata, gusi yang mengalami luka memicu masuknya bakteri di mulut ke dalam aliran darah, sehingga mengakibatkan infeksi pada otot jantung bagian dalam. Begitu pula dengan risiko terjadinya stroke. Baik masalah jantung maupun stroke bisa berujung pada kematian, jadi benar-benar tidak boleh kamu sepelekan.
5. Berpengaruh Terhadap Struktur Rahang
Gigi berlubang yang didiamkan dan tidak diobati dalam jangka waktu yang lama akan membuat infeksi yang terjadi semakin menyebar. Tidak hanya menyerang gigi sehat lainnya, infeksi ini juga bisa menyerang gusi. Tanpa adanya pengobatan, risiko terjadinya kerusakan tulang rahang pun sangat mungkin. Ini dapat terjadi apabila ada gigi ompong karena pembusukan gigi berlubang yang membuat gigi lain bergeser. Pergeseran ini memengaruhi struktur gigi dan rahang.
Pada dasarnya tidak semua kasus gigi berlubang itu harus dilakukan pencabutan gigi. Apabila kondisi gigi masih baik, maka akan dilakukan perawatan saluran akar.
Sebelumnya dokter gigi akan memeriksa kondisi klinis dan pemeriksaan penunjang berupa ronsen. Apabila dari gambaran ronsen dan kondisi klinis pasien masih baik dan bisa dilakukan perawatan saluran akar.
Konsultasikan Kesehatan Gigimu GRATIS DISINI
Maka dokter akan merekomendasikan untuk dilakukan perawatan saluran akar terlebih dahulu.
Setelah dilakukan perawatan saluran akar, maka akan dilanjutkan dengan penambalan permanen atau pembuatan crown (mahkota) gigi.
Nah jika tidak memungkinkan memang akan ada opsi untuk pencabutan gigi.
Cabut gigi sederhana dilakukan jika mahkota gigi yang akan dicabut terlihat atau tidak terhalang gusi. Sedangkan bila gigi yang dicabut banyak atau mahkota tidak terlihat, misalnya akibat patah atau tumbuh miring, dibutuhkan tindakan operasi cabut gigi atau biasa disebut odontektomi.
Baca : Mencabut Gigi Atas Menyebabkan Buta? Mitos Atau Fakta
Indikasi Cabut Gigi
Beberapa kondisi gigi yang umumnya harus dicabut adalah:
- Gigi berlubang yang tidak bisa lagi diperbaiki
- Gigi geraham belakang yang tumbuh miring dan menekan gigi di sampingnya
- Gigi goyang disertai infeksi, seperti infeksi gusi atau abses gigi
- Akar gigi telah mengalami kerusakan parah dan tidak dapat diseperbaiki
- Posisi gigi yang tidak normal, seperti bertumpuk, tidak rata, atau miring dan menyebabkan luka ke jaringan dinding mulut
- Infeksi gigi
- Gigi patah karena cedera berat
- Gigi terletak di dekat jaringan yang tidak normal dan harus disingkirkan
Selain kondisi-kondisi gigi di atas, beberapa tindakan medis tertentu juga mungkin memerlukan pencabutan gigi terlebih dahulu.
Peringatan Cabut Gigi
Cabut gigi mungkin tidak dapat dilakukan atau perlu ditunda apabila pasien memiliki kondisi seperti di bawah ini:
- Mengalami demam, mual, atau muntah-muntah sebelum cabut gigi
- Hamil trimester pertama atau trimester terakhir
- Mengalami retak pada rahang
- Menderita diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, atau penyakit kronis tertentu yang dalam keadaan tidak stabil atau tidak terkontrol
- Gigi yang akan dicabut berada pada gusi yang mengalami infeksi dan belum diberikan antibiotik
- Gigi yang akan dicabut terletak di area yang pernah terkena radioterapi
- Gigi yang akan dicabut dekat dengan jaringan tumor ganas
Oleh karena itu, saat sedang berkonsultasi dengan dokter gigi, pasien perlu menyampaikan semua keluhan yang sedang dialami dan riwayat kesehatan yang dimiliki. Kondisi lain yang juga penting untuk disampaikan ke dokter adalah:
- Penyakit jantung bawaan
- Penyakit tiroid
- Penyakit hati
- Penyakit ginjal
- Sistem imun yang lemah, misalnya akibat menderita HIV
- Sendi buatan, misalnya pada sendi lutut atau sendi panggul
- Pernah mengalami endokarditis karena infeksi bakteri
Pasien juga perlu menyampaikan ke dokter jika sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, termasuk suplemen, vitamin, dan produk herbal. Prosedur cabut gigi perlu dilakukan dengan lebih hati-hati jika pasien sedang menjalani pengobatan dengan bisfosfonat, imunosupresan seperti kortikosteroid, dan obat kemoterapi.
Jika sedang mengonsumsi obat pengencer darah (antikoagulan), seperti aspirin, dokter juga akan meminta pasien menghentikannya untuk sementara sebelum melaksanakan cabut gigi. Pasalnya, obat antikoagulan dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan setelah cabut gigi.
Sumber :
