web site hit counter Tukang Gigi, Si Tukang yang Bukan Dokter – dental.id

Tukang Gigi, Si Tukang yang Bukan Dokter

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Tukang gigi adalah profesi yang cukup dikenal oleh masyarakat. Wajar saja, para tukang gigi membuat pamflet praktik mereka semenarik mungkin bahkan sampai mengiklankannya ke sosial media.

Sebagian dari mereka bahkan menawarkan jasa yang tidak tanggung-tanggung seperti jasa panggil ke rumah misalnya. Bahkan sekarang tukang gigi pun sudah ada di salon kecantikan. Tarif yang ditawarkan tukang gigi juga sangat jauh lebih murah dibandingkan dengan tarif dokter gigi. Hal ini membuat masyarakat awam tertarik untuk melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut ke tukang gigi.

Nah yang jadi pertanyaan, samakah tukang gigi dengan dokter gigi?

Bagaimanapun nama atau julukan menunjukkan identitas. Dari segi julukan saja berbeda, yang satunya tukang, yang satunya dokter. Tukang gigi dan dokter gigi berbeda dan akan tetap berbeda. Tukang gigi tidak mempunyai dasar keilmuan kedokteran gigi. Mereka tentu tidak mengetahui bagaimana anatomi gigi, bagaimana penyakit gigi bisa terjadi, bahan apa yang boleh digunakan pada rongga mulut, dan sebagainya.

Lalu kalau berbeda, tukang gigi kerjanya apa?

Wewenang tukang gigi telah diatur di PERMENKES 39 tahun 2014. Pada pasal 6 ayat 2 jelas dikatakan bahwa tukang gigi hanya berwewenang membuat dan memasang gigi tiruan lepasan, tidak lebih dari hal tersebut. Kenyataannya? Sekarang tidak bisa dipungkiri tukang gigi seolah-olah telah menjelma menjadi dokter gigi. Mereka bahkan tak ragu untuk mencabut gigi, memasang kawat gigi, melakukan veneer, dan sebagainya. Melanggar peraturan? Jelas iya. Bukan kompetensi? Jelas iya. Seorang dokter gigi bahkan harus melewati 5 tahun lebih bahkan ditambah dengan pelatihan-pelatihan untuk dapat menguasai ilmu kedokteran gigi. Bahkan dokter gigi harus mengambil pendidikan spesialis untuk melakukan kasus-kasus tertentu misalnya dalam bidang pemasangan kawat gigi.

Kalau mereka gak punya ilmunya kenapa bisa masang kawat gigi dan veneer?

Iya mereka bisa melakukan pemasangan kawat gigi dan veneer. Hanya memasang tanpa mengetahui pertimbangan di masa yang akan datang.

Pemasangan kawat gigi misalnya. Fungsi utama pemasangan kawat gigi adalah mengembalikan posisi gigi-geligi ke posisi normal sehingga menjadi lebih estetik dan rongga mulut berfungsi dengan baik. Sekarang tidak dapat dipungkiri kawat gigi menjadi tren fashion tersendiri bagi masyarakat. Bahkan ada istilah “behel fashion” yang ditawarkan oleh tukang gigi yang katanya tidak menggerakkan gigi, hanya untuk fashion saja.

Namun bila kita tinjau lebih jauh, kawat yang digunakan pada kawat gigi tidak boleh sembarangan. Kawatnya harus terbuat dari bahan yang dapat diterima dan tidak berbahaya bagi jaringan gigi dan mulut. Nah, behel fashion yang murahnya terlalu murah itu terbuat dari apa? Jangan-jangan sama dengan kawat jeruji jendela. Belum lagi soal merapikan gigi ke tukang gigi. Gaya untuk menggerakkan gigi pada braket tidak sembarangan diberikan. Salah sedikit gaya malah akan salah juga susunan giginya.

Dokter gigi bahkan harus menganalisa terlebih dahulu melalui foto rontgen, model gigi, dan sebagainya untuk mempertimbangkan rencana perawatan pasien dengan keluhan merapihkan gigi. Tukang gigi tidak mempunyai dasar keilmuan bagaimana cara mengendalikan gaya braket. Jadi jangan heran, kalau kamu mau memundurkan gigi tapi malah makin maju karena masang di tukang gigi.

Soal veneer gigi tidak jauh berbeda. Beberapa waktu lalu seorang artis bernama Gusti Rosaline menyatakan penyesalannya karena telah melakukan venner di tukang gigi yang mengakibatkan hampir seluruh giginya rusak parah. Prosedur veneer tidak boleh dilakukan sembarangan, karena perlu pertimbangan seberapa yang akan dikikis untuk dilapis dengan bahan pelapis. Hal ini tentu akan berhubungan dengan ketahanan gigi kelak. Bukan hanya itu, veneer gigi kelinci menjadi tren di tukang gigi. Padahal mereka juga tidak bisa mempertimbangan bagaimana oklusi, hubungan rahang, dan keadaan sendi rahang setelah gigi kelinci yang mereka buat.

Sahabat dental.id, tidak satu atau dua kasus keganasan rongga mulut akibat tindakan tidak adekuat dari tukang gigi yang telah ditemukan. Sekarang itu tergantung pada anda, masih mau berobat ke tukang gigi?

Sumber gambar: https://m.tempo.co/read/news/2013/01/15/058454650/90-persen-tukang-gigi-tak-berizin

Berikan Komentar Disini

Artikel Terkait

MK: Tukang Gigi Harus Dibina, Bukan Dihapus
views 1058
Upaya Hamdani Prayoga memperjuangkan hak konstitusionalnya selaku tukang gigi membuahkan hasil. Hari ini (15/1), MK mengabulkan permohonan pengujian P...
Tren Terbaru : Behel Dibelakang Gigi
views 7985
image from http://www.inilahkoran.com/ Tak ingin mulut terlihat lebih maju karena penggunaan kawat gigi? Kini ada teknik anyar yang dikenalkan ke ...
Politisi PDIP : Desak Pemerintah Bebaskan Tukang G...
views 1108
image from http://news.okezone.com/ Rahmat Hermawan (27) seorang tukang gigi yang berpraktek sejak tahun 2010, ditangkap dan ditahan di Rutan Polr...
Ini Lho Pasal-Pasal Terkait Kewenangan Tukang Gigi
views 1062
POSTING TERKAIT TUKANG GIGI : Politisi PDIP : Desak Pemerintah Bebaskan Tukang Gigi Gusi Membesar Gara-Gara Cabut Di Tukang Gigi? MK: Tukang...
Prof Soedibyo : Pasang Gigi Palsu Di Tukang Gigi S...
views 11098
image from http://ugm.ac.id Tenaga yang tidak mengetahui segala pengetahuan ilmiah mengenai kesehatan jaringan rongga mulut dapat fatal ji...
Dokter Gigi Sering Tangani Efek Samping Kerja Tuka...
views 2407
Perwakilan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Harum Sasanti mengungkapkan, banyak dokter gigi yang merupakan rekan kerjanya sering menemukan efek ...
Marketing Tukang Gigi VS Edukasi Dokter Gigi
views 1288
Ditulis dan dipublikasikan : Rifqie al haris http://www.kompasiana.com Barangkali tukang foto itu beda dengan fotografer. Dan sudah pasti ...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.