counter free hit unique webTerdoktrinisasi Pengabdian ? – dental.id
Berita

Terdoktrinisasi Pengabdian ?

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Penulis : Fakhriwardan
FK UNS

Sudah hampir 3 tahun saya berada di dunia kedokteran. Namun selama saya menjadi mahasiswa kedokteran. Nurani saya selalu janggal, memberontak pada sebuah konsep yang selalu saya dengar kapanpun dan dimanapun institusi fk tersebut berasal, sebuah konsep yang mungkin banyak sebagian dari kita termasuk saya awalnya hanya menerima apa adanya dan cenderung iya iya saja. Wajar, namanya juga mahasiswa, konsumen paling konsumtif produk produk idealisme.

Konsep dasar tersebut bernama pengabdian. Pengabdian berasal dari kata “abdi” atau dalam bahasa Indonesia berarti budak/hamba. Sebuah konsep dasar yang menekankan dokter dan mahasiswa kedokteran sebagai abdi pemerintah yang seharusnya mau dibayar murah.

Sebuah tujuan yang tinggi secara hierarki kemoralan, wajar jika konsep tersebut selalu menjadi konsep yang paling laku dan menjadi penekanan dari mulai di-ospek sampai meng-ospek, doktrinisasi tersebut sekarang telah sukses menjelma menjadi dogma yang mendoktrinisasi lebih dari 8000 mahasiswa fk setiap tahunya.

Doktrinisasi? Kedengarannya terlalu kasar dan tidak pantas disematkan didepan sebuah kosakata yang kaya akan mimpi mimpi luhur. Tapi apa benar? Mungkin, puluhan tahun lalu konsep pengabdian dokter adalah konsep paling brilian dan solutif untuk menjamin kesehatan sekolong negeri. Sukses, menyediakan dokter untuk berbagai wilyah seantero Indonesia. Namun, itu adalah kondisi beberapa tahun lalu, zaman dimana masih belum mahal nya sekolah kedokteran di Indonesia.

Namun, sekarang? Adalah suatu rahasia umum, jika UKT mahasiswa FK mencapai belasan juta atau bahkan menyentuh angka 20 jutaan padahal statusnya masih perguruan tinggi negeri. Di zaman kita, zaman dimana orang rela mati matian untuk bersaing dengan ribuan pendaftar lain di seleksi masuk kedokteran negeri hanya untuk memperebutkan kursi yang tidak banyak jumlahnya, berharap mendapat UKT berkeadilan kelak jika masuk kedokteran berstatus negeri.

Namun kenyataanya, setelah mereka dinyatakan diterima, orang tua mereka diharuskan membayar belasan bahkan puluhan juta rupiah setiap semesternya. Sungguh ironi, selamat datang fakultas kedokteran universitas negeri, selamat datang di fakultas yang beban persaingan masuknya berbanding lurus dengan mahalnya UKT yang harus dibayarkan tiap semesternya. Lantas, bagaimana nasib saudara kita yang memilih FK Swasta? berapa yang mahasiswa fk swasta harus keluarkan hari ini? Ratusan juta? Miliaran? Entahlah tapi mahalnya UKT FK di Indonesia baik swasta maupun negeri menjadi satu realitas yang tidak dapat terbantahkan.

Dua buah hal tersebut menjadikan kontardiktif, uang kuliah mahal dan konsep pengabdian dokter yang dikaitkan dengan “harus mau dibayar murah”. Kontradiktif, karena pada hakikatnya manusia cenderung untuk mendapatkan keadilan sesuai dengan A Theory of Justice, karangan John Rawls. Dimana dalam bukunya John Rawls berkata manusia berhak untuk menuntut keadilan secara ekonomi. Sebuah sifat dasar manusia yang sah sah saja juga jika dilakukan oleh seorang dokter.

Namun, akibatnya lewat doktrinisasi pengabdian ketika seorang dokter meminta haknya, meminta kesejahteraannya, maka akan dlihat sebagai individu yang cenderung materialistik dibanding dengan melihatnya sebagai sebuah gagasan keadilan. Doktrinisasi ini terus dilakukan sampai pada akhirnya sangat wajar kalo hari ini banyak yang menentang saat ada dokter yang menuntut kesejahteraannya. Sebuah konsep yang sempurna untuk merampok mahsiswa Indonesia dan menjadikan mereka budak intelektual murah untuk memenuhi kebutuhan pasar kesehatan Indonesia.

Sekali lagi kenapa saya bilang konsep pengabdian untuk dokter itu patut dikritisi? mari kita bayangkan pengabdian sebagai suatu komoditas. Setiap komoditas memiliki suatu harga tertentu. Karena kelangkaan sumber daya, baik pendapatan dan waktu, setiap orang harus memilih bagaimana ia akan mengalokasikan sumber dayanya untuk mengkonsumsi berbagai komoditas yang tersedia. Dalam konteks ini, konsumsi terhadap komoditas pengabdian akan bersaing dengan komoditas lainnya, seperti makanan, rumah, liburan, hiburan, mainan, menikah, tabungan kuliah spesialis, simposium dan jangan lupa, uang kuliah dahulu yang nominalnya fantastis.

Tidak ada harga komoditas yang senantiasa tetap. Ia akan berubah mengikuti situasi dan kondisi, khususnya kondisi pasar dan kebijakan pemerintah. Hal ini pun berlaku bagi pengabdian. Sebagai ilustrasi, ketika seorang dokter di Indonesia masih muda, hidup sendirian tanpa tanggungan, atau bahkan masih hidup bersama dan disokong oleh orang tuanya, konsep pengabdian mungkin masih akan terkesan menarik. Gajinya memang tidak banyak, tetapi karena hidupnya disubsidi dan biaya kesempatannya (opportunity costs) belum terlalu tinggi (pekerjaan lain misalnya tidak menawarkan gaji yang berbeda terlau jauh), si dokter masih akan memilih pengabdian dan memuaskan dirinya dengan perasaan senang karena bisa mengabdi.

Namun suatu hari nanti ia mungkin akan berkeluarga, ada keinginan untuk melanjutkan ke PPDS yang juga tidak murah, sokongan orang tua berakhir dan jangan lupa keinginan untuk mengembailkan biaya yang dikeluarkan orang tua saat berkuliah di kedokteran ( yang nominalnya sangat besar), lalu akan ada pekerjaan lain yang menawarkan penghasilan yang jauh lebih tinggi. Semakin lama, biaya aktual dan biaya kesempatan untuk mengkonsumsi pengabdian akan bertambah semakin besar, dan harganya pun menjadi semakin mahal. Beberapa orang bisa jadi tetap memilih untuk mengkonsumsi pengabdian dalam jumlah yang tetap. Namun karena pendapatannya tidak bertambah cukup banyak untuk menyokong konsumsi produk lainnya, ia harus mensubstitusikan produk lainnya dengan pengabdian, yang berarti konsumsi atas produk lain akan menurun.

Alternatif lainnya, ia justru memilih untuk mengurangi konsumsi terhadap pengabdian, dan untuk itu, ia akan mengambil alternatif, meminta kenaikan upah (dari pasien) atau mencari pekerjaan yang memberikan pendapatan yang lebih baik sehingga ia bisa mengkonsumsi produk lainnya lebih banyak.

Pertanyaannya, secara statistik, mana yang lebih banyak di Indonesia, manusia yang memilih opsi pertama (pertahankan konsumsi pengabdian) atau opsi kedua (kurangi konsumsi pengabdian)? Ini pertanyaan paling penting yang harus dijawab oleh semua orang yang sibuk mendukung konsep dokter sebagai pengabdian, karena implikasinya luar biasa.

Saya yakin kita semua sepakat bahwa investasi kesehatan adalah hal yang maha penting. Ini berarti bahwa seharusnya orang-orang yang menjadi dokter adalah orang-orang terbaik yang bisa ditemukan sekolong negeri karena mereka nantinya akan berperan penting dalam menentukan nyawa rakyat banyak dan kualitas kesehatan dari rakyat yang akan menjadi fondasi bangsanya. Apakah dengan sistem saat ini, kita sudah memastikan bahwa fakultas kedokteran kita sudah dipenuhi dengan orang-orang terbaik? Nyatanya, hari ini sistem kita yang secara sengaja ataupun tidak telah mengganti meraka yang terbaik dengan mereka yang termapan. Tingginya biaya kuliah dan besarnya tuntutan pelayanan dokter sehabis mereka lulus serta kurangnya penghargan dari pemerintah sehinga dokter harus mau dibayar murah 2000 rupiah, menjadikan konsep pengabdian dokter sekarang ini tidak lebih dari cerita komedi.

Sebagai penutup, kemarin saya sempat membaca berita seorang dokter yang mengabdi ke pedalaman dengan gaji pas pasan. Sampai wafat, ia masih aktif mengobati. Orang memuji-muji si dokter karena sudah mengabdi demikian dahsyat dan menyatakan agar si dokter dijadikan contoh. Saya heran bukan kepalang. dokter itu sungguh kesusahan, dan yang ia dapatkan cuma tepuk tangan? Luar biasa jeniusnya bangsa ini. Saya sungguh berharap agar jangan sampai tindakan-tindakan yang mengalienasi politisi dari membiayai kesehatan(supaya menjadi lebih murah bagi orang yang membutuhkan) tersebut dilakukan sekedar untuk memuaskan perasaan superior secara moral karena merasa sudah bersih dari nilai-nilai duniawi. Karena kalau benar, harganya mahal sekali demi memuaskan preferensi moral tersebut.

Terima kasih

Keterangan :

  • Featured image hanya ilustrasi
Berikan Komentar Disini
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Admin website http://dental.id