Psikologi dan Manajemen Stres Kedokteran Gigi

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
13Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Dokter hanya manusia biasa. Sama seperti kebanyakan orang, ia juga bisa mengalami stres. Secara psikologis, paparan stres berkelanjutan yang tak dimanajemen amat berbahaya bagi kesehatan mental.

Stres bisa memicu kemunculan kondisi patologis mental, di antaranya kegelisahan (anxiety), kelelahan (burnout) hingga yang paling berat, yakni depresi (depression).

Ironisnya, profesi dokter justru berpotensi jauh lebih tinggi mengalami depresi dibanding populasi umum. Bahkan, bibit depresi ini disemai sejak masih menjadi mahasiswa kedokteran.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association(2017), para peneliti menganalisis hampir 200 studi dari 129.000 mahasiswa kedokteran di 47 negara. Hasilnya, sekitar 27% dari mahasiswa kedokteran mengalami depresi dan gejala serupa. Lalu, 11% mahasiswa dilaporkan memiliki pikiran untuk bunuh diri selama berada di sekolah kedokteran.

Pada tahun 2016, juga didapat data serupa. Ditemukan tingkat depresi yang sama sebesar 29% di antara para dokter residen, dokter baru yang terlatih di rumah sakit untuk pendidikan dokter pascasarjana setelah sekolah medis.

Iklim pendidikan kedokteran yang kompetitif dianggap sebagai salah satu faktor risiko timbulnya depresi. Ditambah lagi dengan waktu belajar dan latihan selama berjam-jam, yang tak jarang menuntut mahasiswa tetap terjaga lama (begadang).

Lantas, bagaimana dengan profesi kedokteran gigi?.

Profesi yang objek kerjanya kecil, sempit dan menuntut fokus yang tinggi. Belum lagi tuntutan ‘estetis’ berupa hasil kerja yang harus sesuai kondisi gigi normal. Plus, intaian beban hukum yang siap menjerat kapan saja. Serta beban ekonomi yang cenderung tidak ringan.

Logisnya, kondisi ini menimbulkan paparan stres yang tinggi. Artinya, dokter gigi memiliki beban stres dan faktor depresi serta gejala serupa yang sebesar dokter umum. Atau bahkan, bisa lebih. Tak bermaksud membela, namun ini adalah fakta.

Ternyata, banyak penelitian yang mendukung fakta ini. Dalam jurnal berjudul Stress, Burnout and Anxiety and Depression Among Dentists (2004) disebut bahwa profesi kedokteran gigi adalah profesi yang memiliki tingkat stres tertinggi dibanding profesi lainnya. Sebuah studi pada lebih dari 3500 dokter gigi mencatat 38% dokter gigi mengalami kekhawatiran (worried) dan kegelisahan (anxiety) yang merupakan bagian gejala stres lanjutan.

Serupa dengan dokter umum, bibit-bibit stres dan depresi dimulai sejak masih berada di tingkat perkuliahan kedokteran gigi. Di Amerika, sebuah penelitian menunjukkan peningkatan kejadian masalah stres pada dokter gigi muda dan mahasiswa. Tingkat stres semakin bertumbuh kala memasuki dunia praktek kerja sesungguhnya (clinical practice).

Kondisi paparan stres yang cukup tinggi berdampak signifikan pada kehidupan profesional dokter gigi. Sebanyak 34% dari responden mengatakan kondisi ini mempengaruhi dimensi fisik dan emosional. Sakit kepala dan punggung adalah gejala fisik yang sering dialami. Gejala ini sering menimpa dokter gigi muda yang punya jadwal praktek padat.

Dalam dimensi mental dan emosional, stres yang tak di manajemen bisa memunculkan kelelahan profesi (professional burnout). Secara psikologis, kelelahan (burnout) adalah erosi bertahap pada kepribadian. Artinya, kepribadian seseorang menjadi mudah terpecah dan kehilangan keutuhan. Kondisi ini bisa berdampak negatif pada komunikasi baik dengan pasien ataupun rekan kerja (professional relationship).

Di bidang kedokteran gigi, professional burnout dipicu oleh beberapa faktor. Diantaranya; beban waktu kerja, hubungan bermasalah antara pasien-dokter dan manajemen kerja yang tidak terkontrol. Sebuah studi menunjukkan, dokter gigi umum dan bedah mulut memiliki professional burnout yang paling tinggi. Kemudian, diikuti bidang ortodontik yang professional burnout-nya terendah.

Secara umum, jika disederhanakan, para peneliti beranggapan ada dua sumber stres dalam profesi kedokteran gigi: eksternal dan internal. Dalam jurnal Stress in Dentistry, It Can Kill You! (1984), Randy Lang, dokter pengajar spesialis ortodontik senior di Universitas Toronto dengan gamblang menjabarkan masing-masing sebab stres.

Sebab eksternal mencakup:

Isolation

Dokter gigi cenderung bekerja dan berlatih sendiri. Konsekuensinya, waktu untuk menyelesaikan sebuah masalah bersama rekan-rekan amat sedikit. Masalah isolasi ini makin kompleks ketika dokter gigi terbiasa dengan iklim kompetitif.

Ironisnya, iklim kompetitif adalah produk dari budaya pendidikan kedokteran gigi itu sendiri. Kini, banyak para lulusan justru bersaing ketat yang makin menyuburkan iklim kompetitif tersebut.

Stress of Perfection

Dokter gigi dituntut bekerja sesempurna mungkin. Dalam hal melakukan restorasi, misalnya. Semakin sempurna atau estetis suatu restorasi maka semakin tinggi cost yang dibayar. Namun, dibalik itu, ada implikasi psikologis yang juga mesti ditanggung; frustrasi.

Apabila pekerjaan kita tak sesuai dengan kesempurnaan, rasa frustrasi akan menghinggapi. Apalagi, jika hal ini terjadi berulang-ulang. Di sini perlu disadari bahwa dokter gigi hanya bisa melakukan yang terbaik, bukan yang paling sempurna.

Economic Pressure

Sudah rahasia umum jika sekolah kedokteran gigi membutuhkan banyak biaya. Akibatnya, pasca lulus, yang terpikir adalah bagaimana agar semua pengeluaran itu kembali?. Pola pikir ini mendorong dokter gigi bekerja rutin untuk menutupi biaya pendidikan dan mendirikan klinik pribadi.

Tekanan ekonomi memaksa dokter gigi bekerja keras. Bahkan, banyak kasus ada yang sampai melampaui batas toleransi fisiknya.

Hasil lain dari tekanan ekonomi praktik adalah dokter gigi tidak boleh merasa sakit atau berlibur. Dokter gigi yang bekerja sepanjang waktu dan tidak pernah mengambil cuti mungkin mendapatkan penghasilan yang banyak.

Namun, dibalik itu, ada harga lain juga yang harus dibayar, yakni kelelahan (burnout). Dan ketika dokter gigi kelelahan, baik secara emosional dan mental, akan mengembangkan sikap negatif, acuh tak acuh atau sinis terhadap pasien dan staf mereka.

Time Pressure

Mencoba untuk tetap sesuai jadwal dalam praktik gigi yang sibuk merupakan sumber stres kronis. Dalam kedokteran gigi, sayangnya, tampaknya diatur oleh Hukum Murphy: If any thing can go wrong, it will go wrong and usually at the worst possible time.

Selain itu, dokter gigi sering menemukan bahwa 90% pertama dari prosedur gigi yang rumit membutuhkan 90 % dari waktu yang ditentukan dan 10% terakhir membutuhkan 90% lagi. Dan seperti yang kita semua tahu, setelah kita terlambat, tidak ada cara untuk mengejar ketinggalan.

Compromise Treatment Frustation

Seorang dokter gigi menghabiskan waktu +/- 6 tahun mempelajari perawatan yang sempurna dan “ideal” bagi pasiennya. Namun, realitasnya berbeda. Banyak pasien, entah karena hambatan biaya, sistem asuransi yang buruk atau penghargaan rendah terhadap perawatan gigi berkualitas, menolak rencana perawatan gigi “ideal”.

Akibatnya, secara emosional, dokter gigi merasa tanggung jawabnya tak terpenuhi seperti yang di idealkan.

Patient Anxiety

Bekerja dengan pasien yang mudah khawatir dan takut, membuat dokter gigi stres. Banyak bukti bahwa dokter gigi mengalami pola respon stres fisiologis (peningkatan denyut jantung, tekanan darah tinggi, berkeringat, dll.) yang paralel dengan respon khawatir dan cemas pasien ketika melakukan prosedur perawatan gigi. Pada titik ekstrem, ini bisa menyebabkan serangan jantung awal bagi dokter gigi.

Kemudian, sebab internal:

Lack of Exercise

Rutinitas klinik dan jadwal yang padat membuat banyak dokter gigi kurang memperhatikan kesehatan fisik dan mentalnya. Sebuah penelitian dari The Pankey Institute in Miami pada 2400 dokter gigi menunjukkan mengalami Dormancy, Degeneration dan Stress. Pembangunan fisik mencakup olahraga ringan dan olah mental mindfullnes jarang diperhatikan oleh dokter gigi.

Sampai di sini, penjabaran Dr. Randy Lang cukup membantu. Namun, bagi saya masih terdapat beberapa kekurangan.

Ia tak menjabarkan lebih jauh dan mendalam apa itu stres dan depresi. Oleh karena itu, di sini diperlukan sebuah pendekatan psikologis.

Stres dan Depresi

Sebelum diulas lebih jauh, saya ingin memberi sebuah konsep agar mempermudah pemahaman.

Stres itu ibarat plak. Jika didiamkan, lama kelamaan ia akan menumpuk dan menjadi (sebut saja) “kalkulus pikiran”.

Kalkulus pikiran adalah sebuah kondisi patologis dari pikiran. Dalam bahasa psikologis dan psikitaris, kondisi ini disebut sebagai depresi.

Jika kalkulus mengakibatkan kualitas Oral Hygiene jadi buruk, maka depresi membuat kualitas Mental Hygiene menjadi tak optimal sehingga hidup pun dapat terganggu.

Perlu diketahui, stres adalah suatu kondisi alamiah (mirip plak). Tak ada hidup tanpa keberadaan stres. Dengan kata lain, semua makhluk hidup dapat mengalami stres.

Dalam Kamus Psikologi (Kartini Kartono dan Dali Gulo), stres adalah suatu stimulus yang menegangkan daya psikologi atau fisiologis dari suatu organisme. Sebagai sebuah stimulus dan respon, stres dibutuhkan oleh organisme, khususnya manusia.

Secara psikologis, Lazarus (1984) membagi stres dalam dua kategori: Eustress dan Distress. Stres yang tidak mengganggu, masih dapat dimanajemen dan memberi perasaaan nyaman disebut dengan Eustress. Ini adalah jenis stres yang positif. Jenis stres ini terdapat pada setiap manusia. Ia berguna untuk menyeimbangkan keadaan jiwa manusia.

Stres yang mengganggu dan tidak terkelola disebut dengan Distress. Inilah jenis stres negatif yang dapat berkembang menjadi depresi dan berbagai kelainan psikologis lainnya.

Kini, menurut WHO, hampir lebih dari 300 juta orang hidup dalam depresi. Parahnya, persentase meningkat lebih dari 18% dari tahun 2005-2015. Depresi adalah salah satu gangguan mental terbesar yang diidap seluruh penduduk dunia. Ia terjadi di populasi umum, tak terkecuali dokter gigi.

Depresi sendiri merupakan fenomena yang kompleks. Namun, ada gejala-gejala umum pada orang yang mengalami depresi. Gejala itu di antaranya, kesedihan, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau rendah diri, tidur terganggu atau nafsu makan, perasaan lelah, dan konsentrasi yang buruk. Kondisi demikian berlangsung selama lebih dari 2 minggu.

Depresi bisa dibilang mirip dengan karies gigi: penyebabnya multifaktorial. Namun, banyak penelitian psikologi dan psikiatris menunjukkan jika stres yang tak terkelola menjadi salah satu faktor risiko penyebab terjadinya depresi.

Nah, jika Oral Hygiene dapat dipelihara dan dijaga dengan menyikat gigi, maka bagaimana menjaga dan memelihara Mental Hygiene agar tak mengalami depresi dan gejala kelainan mental lainnya, khususnya bagi dokter gigi?.

Jalan Keluar

Sejauh ini dapat disimpulkan jika dokter gigi adalah profesi yang amat rentan mengalami stres. Banyaknya sumber paparan stres bisa membuat seorang dokter gigi kehilangan kemampuan untuk melakukan manajemen stres.

Kegagalan memanajemen stres berdampak fatal bagi kehidupan personal dan profesional dokter gigi. Berbagai kelainan mental dapat dialami dokter gigi, mulai dari tingkat ringan hingga berat seperti depresi.

Seperti saran banyak peneliti, manajemen stres dapat dimulai dengan mengenal sumber-sumber stres. Oleh karena itu, dokter gigi mesti mempunyai pengetahuan psikologis yang mendukung.

Dalam kehidupan personal, menurut psikolog klinis, Melanie Greenberg Ph.D, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan:

  1. Try to find ways to view your stressors as manageable challenges, show up and contribute, control what you can, and let go of what you can’t.
  2. Accept the inevitability of change and uncertainty in life. Stop thinking that the world needs to be a certain way (e.g., fair or kind) in order for you to be happy. Learn to go with the flow.
  3. Think about what role avoidance plays in your life and how it holds you back, and then think about how your life might change for the better by actually taking risks and putting yourself out there.
  4. Find your own solutions, and adapt strategies to suit your lifestyle and personality. Don’t compare yourself to others, and don’t look to others to solve your problems. While it’s good to reach out, you’re the only one who can take it to the finish line.
  5. To be successful requires a huge amount of hard work and perseverance; talent and potential alone are not enough.

Dalam lingkup kerja profesional manajemen stres dapat dilakukan dengan:

  1. Menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan manajemen yang baik.
  2. Membangun kepercayaan kuat antara teman sejawat lewat komunikasi yang terbuka, efektif dan harmonis.
  3. Berkonsultasi dengan tenaga profesional lain seperti psikolog dan psikiater.

Di Amerika dan Kanada, para dokter gigi telah difasilitasi konseling dan dibekali pelatihan psikologi manajemen stres. Lantas, bagaimana di Indonesia?. Sepertinya, kita belum berpikir hingga sejauh itu. []

*Note: beberapa kalimat dibiarkan dalam bentuk bahasa Inggris agar tak mengurangi dan merubah esensi ide pokok yang ingin disampaikan.

Berikan Komentar Disini

Artikel Terkait

Depresi, Kecemasan, dan Stres Mahasiswa Kedokteran...
views 599
Stres adalah hasil dari faktor eksternal tertentu yang mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis seseorang. Kuliah di kedokteran gigi dapat menjadi ...
Sekilas Mengenai Ameloblastoma
views 337
Ameloblastoma merupakan tumor jaringan gigi yang terjadi lebih sering pada rahang bawah dibandingkan rahang atas. Tumor ini tidak diketahui secara pas...
Pengodean ICD dalam Kedokteran Gigi
views 4297
Berdasarkan artikel sebelumnya yang telah diterbitkan di dental.id yang berjudul ICD: Standar dalam Membuat Diagnosis yang membahas tentang Internatio...
Fir’aun pun Pernah Pulpitis
views 457
  SEORANG pasien perempuan berusia 25 tahun datang ke klinik. Berpenampilan rapi. Rambutnya lurus agak bergelombang sedikit. Berwarna hitam le...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
13Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.