website statistics
Home > Humor > Perilaku Pasien Anak yang “Membahayakan” Koas Gigi

Perilaku Pasien Anak yang “Membahayakan” Koas Gigi

Advertisement
Advertisement

 

Baru-baru ini, video audisi anak-anak yang diselenggarakan oleh produk biskuit yang bisa bikin orang jadi macan, sedang viral. Gue pun ikut serta membuat video parodi dengan mengambil potongan-potongan dari video audisi tersebut. Tingkah laku anak-anak yang ikut serta di audisi tersebut ajaibnya melampaui batas toleransi. Gue ngakak sekaligus terheran-heran. Tapi, seenggak-enggaknya pikiran gue jadi terbuka. Gue bakal selektif membolehkan anak-anak gue nanti untuk ikut audisi. Anak cewek gue nggak bakal gue bolehin ikut audisi iklan Wak Doyok. Anak cowok gue juga nggak bakal gue bolehin ikut audisi iklan sampo hijab.

Anak-anak, memang makhluk lucu dengan segala tingkahnya. Saking lucunya, kadang bisa bikin stress. Koas gigi yang pernah menangani pasien anak mungkin sepakat. Perilaku-perilaku anak-anak yang jadi pasien koas tentu tak luput dari hal-hal yang ajaib. Kali ini gue mau bahas perilaku pasien anak yang bisa “membahayakan” keselamatan koas gigi. Waspadalah.

1. Bertingkah dan bicara apa adanya

Anak-anak suka bertingkah bicara yang ceplas-ceplos dan apa adanya. Sayangnya, ceplas ceplos apa adanya yang tidak berada pada tempatnya bisa berbahaya; termasuk bagi seorang koas gigi. Pasien anak temen koas gue contohnya. Sewaktu dosen jaga; yang kebetulan rambutnya pirang, mau memeriksa anak yang jadi pasien temen koas gue, si anak nyeletuk dengan polosnya, “Wah. Rambut dokternya warna kuning. Kayak Son Goku waktu jadi super saiya. Hahahaha. Nanti kita ke Planet Namek, ya, Dokter”

Wajah temen gue mendadak pucat. Badannya kaku. Si dosen jaga tersenyum penuh arti sambil melihat wajah temen gue. Temen gue tau, itu artinya dia bakal dihukum keliling dunia untuk mencari 7 bola naga. Alhasil, gara-gara celetukan polos si pasien anak, mood dosen jaga jadi terjun bebas. Warna rambutnya yang semula berwarna emas seperti super saiya level 1, berubah warna menjadi super saiya level 5. Semua koas yang mau maju ACC, terkena kamehameha. Bumi pun dalam keadaan bahaya.

2. Kompetitif

Anak-anak, punya jiwa kompetisi yang alami dengan sesama teman sepermainannya. Jiwa kompetisi yang bagaimana? Dan bagaimana jiwa kompetisi pasien anak tersebut bisa berbahaya bagi seorang koas? Gue bakal jelaskan.

Begini, jika koas A membawa pasien A dan koas B membawa pasien B. Kemudian, di ruang tunggu, pasien mereka sempat bercengkrama begini,

Pasien A          :           Kakak A janji mau belikan aku KFC kalo kelar dirawat. Kamu dijanjiin apa?

Dan jreng jreng. Di sinilah jiwa kompetisi dan sifat nggak mau kalah anak-anak muncul.

Pasien B          :           Kakak B mau janjikan aku makan di Nobu. KFC katanya terlalu murah.

Nggak cukup sampai di situ. Pertarungan akan terus berlanjut sampai ada pihak yang kalah.

Pasien A          :           Abis makan KFC, katanya kakak A mau belikan aku mainan. Jadi, nggak apa-apa kalo nggak ke Nobu.

Pasien B          :           Wah, mainan apa? Jangan-jangan sama. Kalo kakak B, mau beliin aku PS 4.

Pasien A          :           Nggak sama, kok. Kakak A mau beliin aku Iphone 7.

Pasien B          :           Enak, ya. Untungnya Kakak B, selain mau beliin PS4, mau beliin aku motor juga.

Pasien A         :           Aku loh, mau dibeliin mobil sama kakak A. Terus mau dikasih sertifikat tanah, rumah, dikuliahkan gratis S1, S2, S3 dan kalo belum puas boleh balik ke TK lagi, tunjangan kesehatan, tunjangan kuota, gaji ke 13, dan dana pensiun.

Pasien  B         :           Aduh. Enak, ya. Aku juga mau pasien kakak A aja kalo gitu.

Kemudian datanglah koas A dan Koas B ke ruang tunggu untuk membawa pasien mereka ke ruang perawatan. Mereka nggak sadar, ada bahaya yang sedang mengancam mereka.

Pasien B          :           Kakak B, aku nggak mau jadi pasien kakak. Aku mau jadi pasien kakak A aja! Kalo kakak maksa, aku adukan ke Kak Seto!

Pasien A          :           Iya, Kakak A. Permintaan aku beli KFC aku naikkan. Kalo nggak dipenuhi, aku nggak mau dirawat!

Akhirnya, koas B kehilangan pasien dan koas A menjadi budak setan; mencari pesugihan untuk memenuhi permintaan si pasien anak. Berbahaya, kan?

3. Suka bermain-main

Memang sudah sewajarnya usia anak-anak suka bermain-main. Jadi, jika pacar kalian masih suka bermain-main perihal hubungan kalian dan belum mau serius, mungkin saja pacar kalian masih anak-anak. Pasien anak-anak yang dibawa koas juga tentunya masih suka bermain-main. Gue pernah didamprat dosen jaga gara-gara pasien anak yang gue bawa asik bermain-main dengan pasien anak temen koas gue yang lain. Ya, wajar, sih, dosen gue sampai marah. Soalnya pasien-pasien anak tersebut asik bermain sampai mengganggu ketenangan sekitar.

Mereka berlari ke sana ke mari. Kadang berjoget bersama menirukan gerakan girlband boyband, untung saja mereka nggak bawa speaker portable biar jogetannya makin yahud ditambah musik. Sesekali, mereka bahkan sampai menirukan adegan smackdown. Namanya juga anak-anak. Kalo mereka ketemu temen sepermainan, ya, gitulah, mereka akan asik bermain-main. Lebih baik begitu, sih, daripada mereka ketemu temen sepermainan terus malah asik membahas tentang tips membangun rumah tangga untuk anak-anak SD. Pergaulan anak-anak zaman sekarang kan agak-agak mengerikan.

Cara paling efektif untuk meredam hasrat bermain mereka adalah kasih gadget dan mereka akan khusyuk bermain gadget tanpa mengganggu ketenangan sekitar. Palingan baterai gadget kalian habis dan memori gadget penuh oleh foto selfie si pasien anak. Tapi, ingat. Penting untuk diperhatikan. Jangan lupa untuk menonaktifkan paket data internet kalian. Takutnya, alih-alih main game di gadget, si pasien anak malah asik nonton Bigo.

4. Meniru sosok idola

Usia anak-anak adalah usia di mana pikiran dan perilakunya masih mudah dipengaruhi. Pikiran dan perilaku mereka juga bisa dipengaruhi oleh sosok yang mereka idolakan. Gue juga dulu, sewaktu anak-anak mengidolakan ranger merah. Dan hebatnya, ranger merah memberi pengaruh yang sangat kuat ke gue yang masih anak-anak. Gara-gara mengidolakan ranger merah, rapor sekolah gue dulu banyak yang merah. Setelah itu, gue dipaksa orang tua gue untuk mengidolakan ranger biru. Mengidolakan ranger biru nggak serta merta membuat rapor gue menjadi biru. Soalnya, mengidolakan ranger biru bukanlah passion gue.

Para koas gigi juga harus siap menghadapi pengaruh yang diberikan oleh idola pasien anak mereka. Masalahnya, sosok idola anak-anak zaman sekarang berbeda dengan zaman kita dulu. Gue pernah ketemu pasien anak yang nggak mau dijemput pakai motor biasa. Dia maunya dijemput pakai motor ninja gara-gara idolanya adalah Boy; pemeran utama sinetron Anak Jalanan, juga memakai motor ninja. Gue? Boro-boro beli motor ninja, beli motor yang gue pakai sekarang pun gue harus ngepet kanan kiri. Gara-gara harus beli motor ninja, gue pun dililit tunggakan kredit motor. Sekarang, supaya bisa bayar kredit motor ninja dan rejeki gue lancar, gue harus sering-sering nge-like postingan “Jika mau rejeki lancar, ketik amin di kolom komentar. Share status ini dan kamu akan kaya raya. Kalo tidak nge-like, komen atau share, niscaya bibir kalian akan wasir. Ini sudah terbukti!”.

Tapi, gue masih bersyukur. Seandainya pasien anak gue mengidolakan selebgram Awkiran, dia bakal minta gue jemput naik kuda. Gue wajib pake penutup muka dan pake pakaian minim sambil nyanyi, “Barararara bla bla bla BADASSSS”. Kalo itu beneran terjadi, gue harus segera mohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas kesalahan-kesalahan masa lalu yang pernah gue lakukan. Azab itu terlalu berat untuk gue tanggung.

 

Itulah beberapa perilaku pasien anak yang bisa “membahayakan” requirement koas gigi. Gue hanya bisa menulis beberapa saja. Kalo kalian punya pengalaman sendiri, mungkin bisa kalian tulis di kolom komentar untuk berbagi. Tentu banyak, kan, pengalaman lucu dan menarik yang kalian alami dengan pasien anak kalian? Yang pasti, jangan menyerah menghadapi perilaku unik pasien anak kalian. Bersabarlah. Demi terpenuhinya requirement, berjuanglah sedikit (baca:banyak. Sangat banyak). Terus semangat dan salam sinting!

 

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Survey : Kenapa Orang-orang Takut Dokter Gigi
views 1635
Tentu kita semua pernah ketemu dengan orang-orang yang takut dokter gigi. Gue juga pernah; sering bahkan. Perjalanan gue mencari pasien sebagai seoran...
Alternatif Perawatan Kecantikan Menggunakan Alat-A...
views 2676
Harga alat dan bahan di kedokteran gigi memang mahal. Terkadang, supaya bisa membeli alat dan bahan kedokteran gigi, anak FKG sering menggadaikan kebu...
Untukmu, Anak FKG yang Sedang Bersedih
views 3554
Kuliah di FKG memang berat. Kamu pasti sepakat. Jenuh, rasa ingin menyerah, kehilangan motivasi, lelah, marah dan kacau semuanya tentu sudah kita rasa...
Sajak Aku; si Mahasiswa FKG dan Temanku
views 1720
Teman... Saat aku masih antri kursi gigi, Kau mungkin sedang mengurusi kursi pelaminanmu.   Teman... Saat aku sedang melengkungkan...
Zona-zona Gagal Asmara di FKG
views 1467
1. Diktat Zone Kamu mengira dia sering meminjam diktat ke kamu gara-gara ada perasaan ke kamu. Tapi, sebenarnya dia benar-benar hanya memanfaatkan di...
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0