web tracker Peradaban Islam: Awal Kedokteran Gigi Modern - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Peradaban Islam: Awal Kedokteran Gigi Modern

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook91Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement
Kauterisasi gigi oleh dokter gigi di masa peradaban Islam (Sumber: Pinterest)

Kita mengenal Pierre Fauchard (1678-1761) sebagai bapak kedokteran gigi modern. Namun jauh sebelumnya, di  zaman keemasan perdaban Islam yang dimulai pada abad ke-9, kedokteran Islam sangat mempengaruhi ilmu pengetahuan di Eropa. Salah satunya adalah kedokteran gigi yang berlanjut hingga periode Renaisans, hingga kedokteran gigi modern hari ini.

Diawali dengan penggunaan siwak. Anjuran bersiwak oleh Nabi Muhammad, dianggap sebagai cikal-bakal lahirnya sikat gigi yang hari ini kita pakai. Bahkan temuan seorang peneliti sejarah Islam dan Arab, Fuat Sezgin bahwa Khalifah Usman bin Affan menggunakan kawat gigi berbahan emas.

Semua tidak terlepas dari Ilmuwan Islam pada masa itu. Berikut ini nama-nama cendekiawan muslim yang berperan dalam dunia kedokteran gigi baik baik dalam bidang konservasi ataupun bidang-bidang lainnya.

Hunayn Ibnu Ishaq al-Ibadi

Sumber: Wikipedia

Merupakan seorang dokter dan ilmuwan dari Mesopotamia, yang sekarang menjadi Irak. Sekalipun dia adalah seorang dia adalah Kristen Nestorian dia terkenal dan dianggap sebagai bagian dari  Dinasti Abbasiyah. Dia menerjemahkan kitab teks Yunani klasik ke bahasa Suriah dan Arab. Dia kemudian kembali ke Irak dan pada tahun 857 dia ditunjuk menjadi dokter pribadi untuk Khalifah al-Mutawakkil (847-61).

Karyanya tentang gigi dan mulut termaktub dalam kitab hifz al-Asnan wa al-litha (tentang menjaga gigi dan gusi). Di situ tertulis imbauannya untuk membersihkan sisa makanan pada gigi dan membatasi penggunaan tusuk gigi karena dapat melukai gusi.

Hunayn juga memperingatkan tentang penggunaan siwak yang terlalu banyak, karena dapat melemahkan gigi dan membuat gigi busuk.

Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria ar-Razi

Sumber: Science Museum

Dia adalah cendekiawan muslim pada abad ke-10 masehi. Dia dikenal sebagai dokter terbaik di era tersebut.

Penemuannya adalah menyembuhkan karies dengan metode pemanasan logam (kauterisasi). Dia memasukkan asatefida atau sejenis opioid yang ke dalam karies tersebut. Dia memasukkan mur , kamfer, atau arsen. Metode tersebut diadopsi  dengan menambahkan penggunaan bur untuk membuka gigi. Hal itu dilakukan oleh Aelius Galenus, seorang dokter dan ahli bedah  Kerajaan Romawi.

Dalam kitabnya yang berjudul Al-Fahir (Gemilang), ar-Razi mengambil dan mereproduksi beberapa kutipan dari Tabit Ibnu Quorra, seorang cendekiawan asal Baghdad periode abad ke-9.

Di situ disebutkan bahwa penyebab dari karies dan gigi yang bermasalah adalah peningkatan keasaman pada gigi. Ketika gigi telah berlubang, tutup lubang tersebut. Hal itu untuk mencegah asam tersebut merusak kembali gigi juga untuk meredakan nyeri.

Dalam hal ini bahan untuk menutup lubang tersebut disebut sebagai “tancer”, yang dalam bahasa Arab berarti sebuah serbuk logam. Serbuk tersebut dapat berupa emas atau perak. Ketika jaringan gigi yang rusak tidak terlalu banyak, diajarkan untuk membuang jaringannya yang rusak, kemudian melakukan kauterisasi dengan dengan suhu panas dan minyak. Metode ini kemudian ditahun-tahun berikutnya diadopsi dalam metode penambalan gigi.

Abu Gaffar Amed Ibnu Ibrahim Ibnu abi Halid al-Gazzar

Sumber: Wikipedia

Seorang Arab yang tinggal di Afrika Utara pada abad ke-10, dia menulis kitab Zad al-Musafir wa qut al-Hadir, (Aturan untuk pengelana dan nutrisi yang adekuat), dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-11 Oleh Constantine dari Salerno dengan judul Viaticum.

Dia berbicara tentang memulihkan karies, seperti dalam kutipannya, “Pembersihan karies harus dilakukan terlebih dahulu, dan kemudian gigi bisa diisi dengan gallnut, resin tarbantin, resin dari cemara, mur, madu, atau bahan-bahan alami lainnya.

Dia juga mengatakan: cacing yang menyebabkan karies biasanya diobati dengan pengasapan menggunakan tanaman mustard, henbane atau gigi anjing. Dia juga merekomendasikan penggunaan senyawa arsenik untuk mengobati karies gigi, karies dan untuk merelaksasikan saraf akibat ketidakseimbangan cairan di dalam gigi.

Abu al-Qasim Khalaf ibnu al-Abbas Al-Zahrawi

Sumber: Muslim Heritage

Juga dikenal di Barat sebagai Albucasis, adalah seorang dokter Andalusia. Dia dianggap sebagai ahli bedah terbesar dalam tradisi medis Islam. Teks medis menggabungkan ajaran klasik Timur Tengah dan Yunani-Romawi, melahirkan adanya prosedur bedah Eropa sampai Renaisans. Sumbangan terbesarnya untuk sejarah adalah kitab al-Tasrif, koleksi praktik medis setingkat tiga puluh, yang sebagian besar diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa-bahasa Eropa lainnya.

Al-Zahrawi memiliki buku sketsa yang berisi ilustrasi alat-alat yang digunakan dalam prosedur bedah kedokteran gigi. Dia menjelaskan bagaimana prosedur pencabutan gigi. Selain itu Albucasis menjelaskan mengenai pemakaian kawat gigi ketika terdapat celah pada gigi (semisal kehilangan gigi). Juga penggunaan tulang lembu untuk menggantikan gigi yang hilang.

Abu- Ali al Husain ibnu Abdullah Ibnu Sina

Sumber : Crystalinks

Ilmuwan yang satu ini terkenal dengan nama Avicenna, lahir di dekat Bukhara pada tahun 980, dan meninggal pada tahun 1037. Dia disebut “pangeran dari dunia kedokteran” saat dia menulis kitab obat yang terdiri dari lima jilid, dan buku ini menentukan pemikiran medis dunia selama berabad-abad.

Ibnu Sina mengkhususkan banyak bab dalam bukunya berbicara tentang kedokteran gigi restoratif. Ibnu Sina mengisi gigi karies dengan cemara, rumput, mur, gallnut, belerang kuning, lada, kamfer, dan juga obat untuk melawan rasa sakit, seperti aplikasi susu serigala dan arsenik dari temuan al-Gazzar. Arseniknya direbus dengan minyak harus menetes ke dalam karies gigi.

Ibnu Sina juga dengan tegas menerapkan metoda pengasapan sebagai obat untuk cacing pada gigi, sama seperti al-Gazzar, dia mengambil empat butir biji henbane dan daun bawang serta dua setengah bawang merah, campuran tersebut diremas dengan lemak kambing sampai halus, dan campuran tersebut dibuat pil dari dalamnya dengan berat satu dirham (kurang lebih 3 gram), pil tersebut dibakar dalam corong yang dimasukkan pada pasien–setelah kepalanya ditutup.

Sumber: Muslim Heritage, JISHIM, Cambridge University Press

 

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook91Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Tags: