web tracker Peneliti : 82% Dokter Meresepkan Atau Memberi Terapi Yang Tidak Perlu Kepada Pasien - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Peneliti : 82% Dokter Meresepkan Atau Memberi Terapi Yang Tidak Perlu Kepada Pasien

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Perlukah seorang dokter mengubah keputusan terapi dan diagnosis?

Di Belanda, Peneliti di Radboud UMC’s IQ Healthcare, Tjin Kool dan kolega membuat daftar 1.366 terapi yang belum tentu efektif secara saintifik.

Penelitian internasional telah menunjukkan bahwa hanya sekitar setengah dari keputusan dokter yang sesuai dengan ilmu sains, sedangkan setengahnya lagi hanya berdasarkan nalar, empati, enggan, ambisi atau uang, menurut NFu – organisasi yang membawahi delapan rumah sakit di Belanda.

Polifarmasi masih ada

Sepertiga keputusan yang dibuat dokter berupa diagnosis dan 40% berupa pengobatan. NFU meyakinkan bahwa menghindari terapi yang tidak penting dapat menghemat banyak uang. Ernst Kuipers, kepala rumah sakit Erasmus, mengestimasi sekitar 20 juta euro dapat dihemat.

Penelitian yang dilakukan oleh British Academy of Medical Royal Colleges┬átahun 2015 juga menunjukkan hasil serupa – 82% dokter memberi resep atau melakukan terapi yang mereka tahu itu tidak dibutuhkan. Alasannya adalah karena tekanan atau ekspektasi pasien sehingga dokter merasa perlu memuaskan mereka.

Kool mengingatkan bahwa dokter dilatih untuk memberi terapi, bukan menunggu dan melihat.

“Mereka memberi terapi karena mereka dilatih demikian atau karena temannya yang lain melakukan ini. Dan jangan lupa, pasien terkadang bisa memaksa untuk melakukan pemeriksaan. Uang juga bisa menjadi penyebab mereka memberi terapi yang tidak dibutuhkan,” katanya.

Kampanye untuk lebih banyak menginformasi pasien

Memang benar, dokter diwajibkan oleh Academy of Medical Royal Colleges melalui kampanye Memilih dengan Bijaksana, untuk lebih banyak mengedukasi pasien – terutama mengenai penyakit ringan. Kampanye global memiliki tujuan utama menghindari polifarmasi dan membantu mengadakan pendekatan pengobatan berdasarkan bukti saintifik, khususnya dalam hal menginformasikan risiko dan manfaat terapi, kemungkinan efek samping dan jika ada prosedur yang lebih sederhana dan lebih aman, baik di antara tenaga kesehatan dan pasien.

Pasien juga perlu menanyakan risiko, kemungkinan efek samping, dan pilihan yang lebih aman dengan angka pemberian intervensi yang lebih sedikit.

“Penting bagi seorang pasien untuk diedukasi sehingga mereka dapat membuat keputusan sendiri mengenai terapinya,” kata Adrienne Betteley dari UK’s Macmilan Cancer Support.
Membentuk rasa percaya
Dr Swee Liang, seorang dokter umum dari Georgetown mengomentari bahwa dokter dan pasien memiliki tanggungjawab untuk menanyakan apakah terapi ini benar-benar diperlukan baik sebagai manajemen gejala non-akut.

“Saya memberi resep minimal tetapi selalu menjelaskan alasan saya melakukannya. Dengan demikian, ini bisa membantu membentuk rasa percaya, bukan hanya menyenangkan pasien pada waktu konsultasi saja,” katanya.

Rekomendasi dari kampanye berkaitan dengan kondisi umum, seperti menggunakan air mengalir daripada menggunakan air garam untuk membersihkan luka kecil atau goresan, patahnya tulang muda pada anak-anak hanya perlu diberi penyangga, bukan gips dan anak penderita bronkiolitis – bukan asma – tidak perlu menggunakan obat karena sistem imun alami anak akan dapat melawan penyakit ini dengan sendirinya.

Terima kasih

http://today.mims.com

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Akibat Piket Hingga 33 Jam, Dokter Nurul Kecelakaa...
views 265
Akibat terlalu letih menghabiskan waktu bekerja selama 33 jam, seorang dokter meninggal dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit Universitas Sains Mal...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0