invisible hit counter Mewaspadai Dokter Gigi Ilegal - dental.id

Mewaspadai Dokter Gigi Ilegal

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook123Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Ditulis Oleh : Sri Asih Gahayu,

Ketua PDGI Pengurus Wilayah Riau

 Hari jadi PDGI ke-67 tahun, pengurus besar PDGI mengusung tema “Memberdayakan dokter gigi dalam rangka memberikan  perlindungan pada masyarakat ”. Dokter gigi memberikan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan kompetensi yang dimilikinya di dapat dari pendidikan minimal selama tiga tahun di Strata 1 Fakultas Kedokteran Gigi ( FKG ) dan tingkat profesi dokter gigi minimal 2 tahun. Setelah lulus S1 dan tingkat profesi diwajibkan ujian kompetensi dokter gigi serta wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Sedemikian sulitnya untuk mendapatkan gelar profesi dokter gigi ini, karena 5-7 tahun menggapainya. Sementara di luar sana ada banyak orang yang berpura-pura jadi dokter gigi dan bebas berpraktik layaknya seorang dokter gigi tanpa melalui pendidikan kedokteran gigi.

Maraknya belakangan ini berita tentang praktik ilegal dokter gigi ataupun dalam bidang kesehatan gigi sangat membuat organisasi profesi ini merasa perlu ikut untuk turun tangan memberikan masukan dan melindungi masyarakat dari hal-hal yang ilegal untuk tidak merugikan masyarakat itu sendiri.

Praktik pelayanan kesehatan gigi oleh pemberi layanan yang menamakan salon kecantikan gigi, ahli gigi, tukang gigi, bidan gigi semakin merebak akhir akhir ini. Mereka berpromosi melalui poster-poster di pinggir jalan dan lebih marak lagi melalui akun media sosial. Facebook, instagram, path, twitter dan sebagainya. Pelayanan yang tidak memenuhi standar pelayanan dan keilmuan serta tenaga yang tidak kompeten akan membawa dampak kerugian pada konsumen, di samping juga akan berdampak pada peningkatan jenis dan jumlah penyakit atau kelainan yang timbul. Hal ini tentu akhirnya akan menjadi tanggungan dari penjamin pembiayaan (BPJS, asuransi, dan lainnya), pemerintah daerah, kementerian kesehatan dan pasien sendiri.

BACA JUGA : #DOKTERGIGIMENGGUGAT 1 : GIGI HANCUR AKIBAT TUKANG GIGI BY DRG. MULYA YESTI
Apa yang dimaksud praktik ilegal ?

Praktik ilegal adalah praktik yang tidak memenuhi mengikuti ketentuan regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah yang berujud Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) maupun ketentuan Undang Undang (UU) yang berhubungan dengan penyelenggaraan layanan kesehatan di Indonesia. Secara garis besar ketentuan tentang penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Indonesia diatur oleh UU Kesehatan, yang wajib dipatuhi oleh masyarakat penyelenggara maupun penerima layanan kesehatan. Dari hasil pengamatan di lapangan, tindakan yang dibuat para penyelenggara praktek ilegal ini sering mengatas namakan Salon gigi, dan ahli gigi. Mereka berpraktik layaknya dokter gigi, menggunakan alat alat medis kedokteran gigi tanpa didasari keilmuan. Pemasangan behel gigi paling sering ditemukan, bahkan ada juga yang melakukan pencabutan, penambalan gigi  dan skeling karang gigi.

Hal ini tentu membuat para dokter gigi merasa sangat miris melihat kondisi negatif yang sudah merebak di kalangan masyarakat. Sudah sangat banyak masyarakat yang menjadi korban praktik ilegal ini, berbagai penyakit maupun kelainan yang sering dijumpai dari pasien korban praktik ilegal ini adalah: terjadinya kelainan rahang, infeksi gusi, infeksi gigi, jamur pada gigi, tumor jinak/ ganas di rongga mulut dan lainnya. Dokter gigi jadinya hanya menampung kondisi akhir/ penyakit yang sudah parah akibat praktik ilegal ini.

Untuk mendapatkan informasi tentang maraknya praktik ilegal ini sangat gampang sekali di era digital ini. Mencoba mesin pencari google atau istilahnya googling ketik “Behel shop” maka akan ditemukan para pemberi jasa ataupun penjual behel ilegal ini sebanyak 1.970.000 web. Jika ingin mendapatkan berita tentang “korban behel palsu“ alias tidak dipasang oleh orang yang kompeten sebanyak 29.600 buah. Yang paling mengenaskan adalah apabila ada tukang gigi yang melakukan pekerjaan di luar kewenangannya yaitu mencetak dan memasang gigi palsu lepasan, seperti pemasangan behel, pencabutan, penambalan, skeling karang gigi dan lainnya, Ketik “korban tukang gigi” maka akan didapatkan 480.000 beritanya. Dengan beberapa gambar penyakit dan kelainan rongga mulut yang mengerikan orang yang melihatnya.

BACA JUGA : DOKTER GIGI SERING TANGANI EFEK SAMPING KERJA TUKANG GIGI

Sangat Mengenaskan

Diskusi yang dilakukan dokter gigi dalam beberapa grup kecil maupun melalui organisasi PDGI sering dilakukan, namun sayangnya dokter gigi tidak bisa begitu banyak berbuat karena untuk melakukan penertiban adalah bukan tugas pokok/ wewenang PDGI, tapi adalah pemerintah daerah setempat. Namun para dokter gigi di bawah naungan PDGI bisa diajak kerja sama menjadi narasumber ahli dalam hal ini dan siap untuk membantu pemerintah.

Beberapa waktu lalu, ditemukan kasus ditangkapnya dokter gigi ilegal yang berpraktik selayaknya dokter gigi di Kota Pekanbaru. Berita ini menjadi viral di kalangan dokter gigi dan di kalangan para penyelenggara praktik ilegal. PDGI sangat berperan disini, karena si dokter gigi mengaku tamatan fakultas kedokteran gigi ternama di Sumatera dan seorang spesialis orthodonti. Si dokter gigi ilegal berpromosi di media sosial facebook dan instagram, meng-upload beberapa foto dan video hasil pekerjaannnya yang jauh dari standar kesehatan gigi. Organisasi PDGI Cabang Pekanbaru dan PDGI Wilayah Riau menjadi terusik, karena tidak merasa punya anggota dengan nama seperti promosinya di media sosial. Kita langsung cek lokasi/ berdialog dengan yang bersangkutan dan memang positif ini adalah praktik dokter gigi ilegal. Dengan menggaet dinas kesehatan dan kepolisian akhirnya penggerebekan dan penangkapan dilakukan. Saat ini si dokter gigi ilegal ini masih menjalani masa persidangan. Akhirnya yang dirugikan adalah masyarakat yang sudah tertipu dengan pengakuan dan prakteik ilegalnya. Semoga ini menjadi pembelajaran kepada masyarakat.

Dokter gigi sebagai salah satu profesi yang sudah mendapatkan pengakuan dalam era Masyarakat Ekonomi Asean, tentu harus berbenah diri, meningkatkan profesionalismenya dengan cara menambah pengetahuan dan keterampilannya di bidang kedokteran gigi. Selain tentunya secara administratif harus memiliki Sertifikat Kompetensi Dokter gigi, Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) dalam melakukan praktik kedokteran gigi kepada masyarakat.

BACA JUGA : PROF SOEDIBYO : PASANG GIGI PALSU DI TUKANG GIGI SEPERTI PASANG RANJAU DI MULUT

PDGI dalam hal ini sudah mengaturnya dalam suatu aturan yang mengikat, bahwa setiap dokter gigi wajib memiliki 3 jenis surat yang seperti disebutkan di atas baru bisa berpraktik.

Selain tentunya untuk menambah pengetahuan dan keterampilan di bidang kedokteran gigi yang terus berkembang, seorang dokter gigi wajib mengikuti seminar maupun kursus-kursus di bidang kedokteran gigi yang diadakan oleh PDGI. Secara administratif hal ini dibuktikan dengan sertifikat hasil mengikuti seminar maupun kursus tersebut.

Bagi masyarakat, hal ini tentu menjadi suatu keuntungan karena akan mendapatkan pelayanan dari dokter gigi yang kompeten dan andal. Dalam beberapa waktu PDGI dalam kegiatan rutinnya 2 – 3 kali dalam setahun juga melakukan bakti sosial ke masyarakat. Kegiatan bakti sosial ini antara lain: Pemeriksaan/pengobatan gigi gratis, penyuluhan kesehatan gigi, sikat gigi masal anak sekolah sampai dengan pembagian sikat gigi gratis ke masyarakat maupun anak sekolah.

Kegiatan bakti sosial ini diberikan kepada masyarakat untuk mendekatkan diri dalam pelayanan kesehatan gigi dan mulut. PDGI membantu pemerintah dalam salah satu tujuannya yaitu meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut masyarakat.

Masyarakat tidak perlu takut ke dokter gigi, karena datang berobat ataupun kontrol kedokter gigi bukanlah suatu hal yang menakutkan, seperti mitos yang sering kita dengar. Silahkan datang memeriksakan giginya ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali untuk kelangsungan kesehatan gigi yang ada di rongga mulut.

Kebersihan dan kesehatan diri seseorang bisa dilihat dari kondisi rongga mulutnya. Beberapa penyakit sistemik seperti penyakit diabetes melitus, penyakit darah (leukemia, anemia, dan lainnya),tumor atau kanker, penyakit ginjal, maupun penyakit pada saluran pencernaan dapat dilihat dari kondisi rongga mulut.

Terima kasih

http://www.riaupos.co

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Dokter Gigi Dan MEA
views 769
Oleh : Drg. Sri Asih Gahayu,M.Kes( Ketua PDGI Pengurus Wilayah RIAU )Organisasi PDGI yang menghimpun dokter gigi se Indonesia dan lahir di...
Dokter Gigi : Hanya Dengan Kompetensi dan Profesio...
views 653
Ditulis oleh : Martin Febrian (Dentistpreneur Indonesia) Dalam beberapa bulan terakhir, banyak diadakan seminar tentang bagaimana dokter gigi/dokter ...
Dokter Gigi : Pelayanan VS Balik Modal
views 1455
Ditulis oleh : Arbi Wijaya, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia, Angkatan 2011“Biaya pendidikan dokter gigi yang mahal ditam...
Lulusan Dokter Gigi Dianggap Lulusan Dokter Yang K...
views 1016
Ditulis oleh :I Wayan Agus Wirya Pratama Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati DenpasarDokter gigi ? Itulah sebuah pro...
Bantahan Keras (Direktur BPJS Salahkan Dokter Pusk...
views 2349
Ditulis oleh : Dr.Patrianef SpB. SpB(K)V Diterbitkan di http://www.kompasiana.comSekali lagi masyarakat dikagetkan oleh pernyataan seorang dire...
PDGI dan Energi Besar dari Bu Risma
views 121
Foto diambil dari http://www.kompasiana.com/ Ditulis oleh :Rustan Ambo AsseDipublish di KompasianaPerempuan itu bernama Tri Rismaharini...
Hypnodontia Oleh drg. Imel Yusra
views 105
Oleh : drg. Imel Yusra Pagi ini kedatangan dua orang spesial. Bunda nya temen lama waktu di sma, anak nya jd pasien yg unik. Ya unik karena dia ter...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook123Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

admin

Admin website http://dental.id

You may also like...