web tracker Membiarkan Gigi Berlubang Seperti Menyimpan Bom Penyakit - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Membiarkan Gigi Berlubang Seperti Menyimpan Bom Penyakit

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn3
Ads
Advertisement

Banyak yang mengira, sakit gigi mesti berujung di kursi praktik dokter gigi. Kemudian dengan mudah dokter mencabutnya. Itu salah,  mencabut gigi adalah alternatif paling akhir. Nah, itu tugas dokter gigi spesialis konservasi gigi. Profesi yang dilakoni drg Irma Widyasari SpKG.

Sebisa mungkin gigi dipertahankan. Selama akar gigi masih ada dan saraf berfungsi, berarti belum saatnya gigi dicabut. Nah, tugas menambal gigi berlubang ini merupakan tugas dokter gigi spesialis konservasi gigi. Mereka menambal untuk merawat jaringan akar gigi. “Ini menjadi PR (pekerjaan rumah, Red) saya, mengedukasi masyarakat agar tidak takut mengontrol kesehatan gigi, terutama anak-anak,” ujar drg Irma Widyasari SpKG ditemui di Poli Gigi, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda.

Irma menuturkan, gigi dan mulut sehat merupakan jalan menuju kualitas hidup lebih baik. Jelas, karena gigi dan mulut merupakan jalan utama masuknya nutrisi dalam tubuh. Mulut dan gigi bermasalah, habislah sudah kesehatan.

Selain itu, gigi juga memengaruhi penampilan. Bagi Irma, bukan sekadar sehat. Berbagai perawatan gigi juga bisa membuat seseorang merasa cantik. Sebut saja, kawat gigi untuk merapikan gigi oleh ortodonti. Dalam hal ini, Irma bertugas membantu menyempurnakan bentuk gigi. Misalnya, gigi berlubang dibersihkan, disehatkan, kemudian ditambal serupa gigi sebenarnya. Masalah lain, ada orang-orang yang memiliki gigi keropos dan menghitam. Dengan spesialisasinya, Irma bisa memuluskan gigi itu. “Senang membantu orang lebih menarik, cantik,” terang dokter berkulit putih ini.

Profesinya ini memang “bersaing” dengan tukang tambal gigi. Padahal, menambal gigi bukan hal mudah secara medis. Salah-salah justru mengurung kuman di gigi dan membuat infeksi. Bukan hanya berdarah, tapi bernanah. “Kalau hanya menambal gigi, anak SMA juga bisa diajarkan,” terangnya.

BACA JUGA : ARTIKEL TENTANG TUKANG GIGI 

Ibu dua anak ini mengakui, menjadi tantangan tersendiri menghadapi kenyataan masyarakat takut mencabut gigi. Apalagi masih ada yang memercayai mitos kalau salah cabut gigi maka akan berpengaruh ke kesehatan mata dan otak.

“Dokter tidak akan mencabut gigi kalau saraf gigi masih berfungsi baik. Gigi yang sarafnya tidak mati, menjadi salah satu bagian penting untuk tubuh. Kecuali, terjadi infeksi yang menyebabkan kematian saraf gigi, baru diambil tindakan lanjut,” ucap perempuan kelahiran Pontianak, 11 Agustus 1974 ini.

Ketika fungsi saraf gigi mati, lanjutnya, maka aliran darah saraf gigi tidak jalan. Walaupun tidak sakit, kondisi ini harus ditangani.

Masalahnya, banyak yang anteng-anteng saja ketika giginya berlubang. Hanya berlubang, tidak sakit. “Sehingga banyak yang menganggap gigi berlubang tak berbahaya,” urainya. Gigi berlubang yang dibiarkan justru menimbulkan masalah lebih berat. Sehingga masalah gigi menjadi lebih kompleks dan semakin menyakitkan.

Bila gigi berlubang dibiarkan, pertama-tama infeksi akan menyebar ke jaringan sekitar gigi. Kemudian memicu peradangan yang menyebabkan bernanah dan bengkak.

“Membiarkan gigi berlubang seperti menyimpan bom penyakit, akan meledak sewaktu-waktu,” terangnya.

Itu sebabnya, gigi berlubang tidak sekadar ditambal. Harus dibersihkan terlebih dahulu, diperbaiki –jika sehat, baru ditambal. Jika asal tambal, berarti sama saja mengurung kuman di gigi berlubang. Dengan “senang hati”, kuman akan berkembang biak di gigi berlubang.

“Gigi berlubang yang tidak segera diobati berbahaya. Jaringan kuman di gigi infeksi akan terbawa dalam aliran darah menuju otak, jantung, dan paru-paru. Kalau tetap dibiarkan, bisa menyebabkan kematian,” tegas alumnus Universitas Padjadjaran (Unpad) ini.

Begitu juga gigi yang terinfeksi, nanahnya akan menyebar cepat ke bagian atas, belakang, dan bawah. “Sangat berbahaya kalau menjalar ke bawah, yaitu menuju tenggorokan dan paru-paru,” tuturnya. Bisa terjadi pembengkakan di daerah pernapasan. Leher akan tercekik dan pasien akan kesulitan bernapas.

SODA BIKIN KEROPOS

Selain Irma, di Samarinda ada beberapa rekan seprofesinya. Seperti drg Krisdianto Tjokrotekno SpKG dan drg Putra Kambaya SPKG. Sedikit menambahkan, drg Krisdianto mengatakan, gigi berlubang perlu ditambal sesuai bentuk dan perhitungan yang tepat.“Jika gigi berlubang besar, maka harus diberi fondasi lebih dulu sebelum ditambal, diberi mahkota setelahnya. Mahkota ini semacam ‘jaket’ menyelubungi gigi tambal dan membantu proses pengunyahan,” urai Krisdianto.

Ibarat rumah, lanjut Krisdianto, gigi berlubang juga perlu perawatan kembali dengan catatan saraf gigi masih berfungsi. Dengan teknik perawatan tepat secara medis, gigi yang ditambal akan kembali normal.

Menurutnya, secara umum bentuk gigi setiap orang sama. Tapi kerusakan gigi yang berbeda-beda membuat proses penambalan tidak sama. Ketahanan gigi yang ditambal pun bergantung seseorang tersebut merawat giginya.

“Mulut dan gigi adalah media masuk makanan. Pola hidup seseorang yang tidak sehat akan mempercepat kerusakan gigi. Seperti senang mengonsumsi minuman bersoda setiap hari,” tuturnya. Minuman soda, lanjutnya, mengandung zat asam yang bisa mengikis email gigi, itu membuat gigi cepat keropos.

Demi menjaga kesehatan gigi dan mulut, dianjurkan memeriksakan gigi 6 bulan sekali atau selambatnya satu tahun sekali. Pemeriksaan gigi juga harus sesuai dengan jenis kelainan dan spesialisasinya.

“Kalau orang bisa teratur servis kendaraan, harusnya juga ingat mengontrol kesehatan gigi. Jangan menunggu ada keluhan baru ke dokter, agar bisa cepat diatasi,” tutup Krisdianto.

 

Terima kasih

http://kaltim.prokal.co

 

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn3