website statistics
Home > Sosok > Drg. Tomy Aryanda: Mantan Koas Sinting, Belum Waras Saat Jadi Dokter

Drg. Tomy Aryanda: Mantan Koas Sinting, Belum Waras Saat Jadi Dokter

Advertisement
Advertisement
drg. Tomy Aryanda dan bukunya (sumber: dok. pribadi)

Ketika sebagian besar mahasiswa koass kedokteran gigi memilih fokus untuk mencari pasien dan mengerjakan refarat, beda halnya dengan Tomy Aryanda (28). Dokter gigi lulusan Universitas Sriwijaya ini memilih mengabadikan pengalamannya menjadi koass sebagai perihal yang hendak ditertawakan.

Dia menuliskan kisah masa pendidikan profesi dokter giginya dalam lima buah buku: Catatan Gila Dokter Galau (2012), KOAS (2013), Cerita Bodor Koas (2014), Dua Gigi Koplak (2015), Diary Koas Gigi Sinting (2016).

Buku Diary Koas Sinting yang ditulisnya saat menjadi dokter gigi, meroketkan namanya sebagai salah satu penulis humor dokter gigi nomor wahid di Indonesia. Kepopulerannya dapat dilihat di akun-akun sosial miliknya. Akun Instagram-nya  diikuti oleh 11 ribu orang, juga akun twitternya @koasgigisinting yang diikuti oleh lebih dari 4 ribu pengguna.

Alumni FKG UNSRI angkatan 2006 ini menjadikan medium tulisannya yang humor satir sebagai caranya menghibur rekanannya.

“Supaya jgn terlalu stress jalani koas dan tetap semangat,” tambahnya dalam sesi wawancara dengan dental.id  via WhatsApp Senin sore (15/5).

Selain itu dokter gigi yang kini bertugas di Puskesmas Lubuk Besar, Bangka Tengah, Bangka Belitung ini mempunyai tujuan awal untuk memperkenalkan dunia kedokteran gigi kepada masyarakat.

Dunia kedokteran gigi yang penuh tekanan dan cerita itu menjadi amunisinya dalam menelurkan karya-karya. Hal itu dia lakukan karena adanya tekanan yang dirasakan dia dan teman-temannya selama menjadi koas.

Inspirasinya tersebut tertuang dalam buku catatannya yang senantiasa dibawa. Sisanya kemudian dia tumpahkan dengan menarikan tangannya di atas tuts komputer atau gawai di akhir pekan. Kebiasaan tersebut dimulainya dengan menulis lewat status Twitter dan blog pribadinya.

Penulis yang terinspirasi dari Raditya Dika, Ferdiriva Hamzah, dan Pandji Pragiwaksono ini kemudian mendapat respon positif dari rekan-rekannya. Terlebih saat buku pertamanya, Catatan Gila Dokter Galau di tahun 2013. Yang di mana di tahun-tahun tersebut, genre komedi sedang digandrungi.

Dengan banyaknya bermunculan penulis dengan genre yang serupa, suami Tyas Hestiningsih membuat gaya menulis yang membuatnya berbeda.

“Komedi sarkas atau komedi satir,” imbuhnya.

Hal tersebut diakuinya untuk menggapai yang menjadi alasannya untuk menulis, yaitu membuat tertawa dan pengakuan dari para pembacanya.

Pembacanya lambat laun merambah ke banyak orang, khususnya para mahasiswa kedokteran gigi se-Indonesia. Dia memakai Facebook, Instagram dan Line sebagai media promosi.

Pria yang kerap disapa Tomy ini kemudian mencicipi kesuksesan terbesar pada buku Diary Koas Gigi Sinting pada Maret 2016. Padahal saat itu genre komedi sedang lemah-lemahnya. Konsistensi tersebut berbuah hasil. Selain menulis, Tomy kini merambah dunia video Instagram juga mengisi di kelas-kelas kepenulisan.

Dengan konsistensi dan determinasi dalam berkarya tersebut, tidak menjadikan Tomy pakem dengan genre komedi. Dia mengakui,

“Saya mencoba keluar dari zona nyaman koas, Mas. Soalnya banyak temen penulis yg menyarankan untuk nyoba keluar dari zona nyaman nulis saya.”

Hal itu kelak akan tertuang dalam rilisan novel terbarunya, Dua Sisi Cinta.  Dia mengakui bahwa novel tersebut akan berbeda dari buku-bukunya yang lain.

Terlepas dari kesemua itu, pria yang kini merintis klinik sendiri ini mengakui bahwa dia masih sinting.

“Belum banyak berubah sih, Mas. Mungkin karena karakter (baca: sinting) saya sih,” kelakarnya.

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0