web site hit counter ICD: Standar dalam Membuat Diagnosis – dental.id

ICD: Standar dalam Membuat Diagnosis

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Saat ini, di berbagai pusat layanan kesehatan, baik di rumah sakit ataupun di puskesmas, pengkodean berbagai diagnosis penyakit termasuk penyakit gigi dan mulut, hasus disesuaikan dengan standar ICD.

Apakah ICD itu?

ICD adalah singkatan dari International Classification of Diseases, merupakan alat diagnostik standar internasional untuk epidemiologi, serta tujuan manajemen kesehatan dan klinis. Secara resmi dinamai sebagai International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems.

ICD dikelola oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). ICD dirancang sebagai sistem klasifikasi perawatan kesehatan, menyediakan sistem kode diagnostik untuk mengklasifikasikan penyakit, termasuk klasifikasi dengan berbagai tanda, gejala, temuan abnormal, keluhan, keadaan sosial, dan penyebab cedera atau penyakit luar. Sistem ini dirancang untuk memetakan kondisi kesehatan ke kategori generik yang sesuai disertai dengan variasi spesifik, menetapkan kode yang ditunjuk, hingga terdiri dari enam karakter. Dengan demikian, kategori utama dirancang untuk mencakup serangkaian penyakit serupa.

ICD diterbitkan oleh WHO dan digunakan di seluruh dunia untuk statistik morbiditas dan mortalitas, sistem penggantian, dan dukungan keputusan otomatis dalam pelayanan kesehatan. Sistem ini dirancang untuk mempromosikan komparabilitas internasional dalam pengumpulan, pengolahan, klasifikasi, dan penyajian statistik. Analoginya seperti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (yang hanya terbatas digunakan pada gangguan kejiwaan), ICD adalah proyek besar yang secara statistik mengklasifikasikan semua gangguan kesehatan, dan memberikan panduan diagnostik.

Sejarah ICD

Di tahun 1860, pada saat kongres statistik internasional yang diadakan di London, Florence Nightingale membuat sebuah proposal yang menghasilkan pengembangan model pertama pengumpulan data rumah sakit secara sistematik. Pada tahun 1893, seorang dokter Prancis, Jacques Bertillon, memperkenalkan Bertillon Classification of Causes of Death pada sebuah kongres Institut Statistik Internasional di Chicago.

Sejumlah negara dan kota mengadopsi sistem Bertillon, yang didasarkan pada prinsip membedakan antara penyakit umum dan yang terlokalisasi ke organ atau daerah anatomis tertentu, seperti yang digunakan di Kota Paris untuk mengklasifikasikan kematian. Revisi berikutnya merupakan sintesis klasifikasi untuk bahasa Inggris, Jerman, dan Swiss, yang berkembang dari 44 judul aslinya menjadi 161 judul. Pada tahun 1898, American Public Health Association (APHA) merekomendasikan bahwa Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat juga mengadopsinya. APHA juga merekomendasikan untuk merevisi sistem setiap sepuluh tahun untuk memastikan sistem tetap berjalan sesuai dengan kemajuan praktik medis. Akibatnya, konferensi internasional pertama yang merevisi International Classification of Causes of Death dilakukan pada tahun 1900, dengan revisi terjadi setiap sepuluh tahun setelahnya. Pada saat itu, sistem klasifikasi dimasukkan dalam satu buku, yang mengandung Alphabetic Index dan juga Tabular List.

Revisi yang diikuti mengandung sedikit perubahan, sampai revisi keenam dari sistem klasifikasi. Dengan revisi keenam, sistem klasifikasi diperluas menjadi dua jilid. Revisi keenam mencakup kondisi morbiditas dan mortalitas, dan namanya dimodifikasi untuk mencerminkan perubahan: International Statistical Classification of Diseases, Injuries and Causes of Death (ICD). Sebelum revisi keenam, tanggung jawab untuk revisi ICD diberikan kepada sebuah Komisi Campuran, yaitu sebuah kelompok yang terdiri dari perwakilan dari Institut Statistik Internasional dan Organisasi Kesehatan Liga Bangsa-Bangsa. Pada tahun 1948, WHO bertanggung jawab untuk mempersiapkan dan menerbitkan revisi ke ICD setiap sepuluh tahun. ICD direvisi secara berkala dan saat ini sudah sampai pada revisi kesebelas.

ICD saat ini merupakan sistem klasifikasi statistik yang paling banyak digunakan untuk penyakit di dunia. Selain itu, beberapa negara, termasuk Australia, Kanada, dan Amerika Serikat, telah mengembangkan adaptasi mereka sendiri terhadap ICD, dengan lebih banyak kode prosedur untuk klasifikasi prosedur operasi atau diagnostik. Saat ini, sistem kesehatan di Indonesia juga mulai mengadopsi sistem pengkodean ICD.

Penggunaan ICD dalam Kedokteran Gigi

ICD bertujuan untuk membingkai kesehatan global, Sustainable Development Goals (SDGs) 2016-2030 dan realitas yang terjadi di berbagai negara. Presentasi oleh WHO yang berfokus pada prioritas data global, terutama target kesehatan di era SDG, menunjukkan peningkatan perhatian terhadap penyebab kematian dan morbiditas spesifik di semua negara, dan peran dan nilai ICD dalam konteks data saat ini dan di masa depan.

Dalam dunia kedokteran gigi sendiri, pengkodean ICD masih beradaptasi pada ICD-10-CM yang diimplemetasikan sejak 1 Oktober 2015. ICD-10-CM sendiri adalah revisi ke-10 untuk International Classification of Diseases (ICD), Clinical Modification (CM). Tujuan utamanya adalah pelacakan epidemiologi penyakit dan cedera.

ICD-10-CM adalah Health Insurance Portability & Accountability Act 1996 (HIPAA) sebagai kode diagnostik standar yang ditetapkan untuk digunakan dalam transaksi elektronik seperti klaim elektronik.

Dalam pengajuan klaim gigi, kode CDT digunakan untuk menginformasikan kepada pihak yang membayar biaya perawatan tentang prosedur apa yang dilakukan. Kode diagnostik akan mengidentifikasi mengapa prosedur itu dilakukan, dengan menginformasikan pembayar tentang penyakit terkait, gejala atau kelainan yang berhubungan dengan kesehatan gigi.

Apa yang harus dokter gigi siapkan?

Dengan pemahaman bahwa kebanyakan dokter gigi pada akhirnya perlu melaporkan kode diagnosis, langkah-langkah dasar berikut disarankan untuk dilakukan:

  1. Biasakan diri Anda dengan kode ICD-10 yang paling umum digunakan dalam kedokteran gigi.
  2. Tinjau kembali dokumentasi klinis Anda. Dokumentasi klinis yang akurat penting untuk perawatan pasien dan melaporkan kode diagnosis yang benar. ICD-10 memerlukan informasi yang sangat spesifik dalam catatan klinis, bukan diskusi verbal dengan dokter gigi.

Untuk mengetahui penjelasan lebih lanjut mengenai pengkodean ICD dalam kedokteran gigi, akan dibahas dalam artikel dental.id selanjutnya.

Sumber:

International Classification of Diseases (ICD) (http://www.ada.org/en/member-center/member-benefits/practice-resources/dental-informatics/standard-terminologies-and-codes/faq-icd-10-cm)

ICD Codes in State Medicaid Dental Claims Submission (http://www.ada.org/~/media/ADA/Member%20Center/FIles/ICD_requirement_24SEP2015.pdf?la=en)

ICD-10-CM and Its Impact on Dentistry (https://sidekickmag.com/dental-continuing-education/icd-10-cm-and-its-impact-on-dentistry/)

Berikan Komentar Disini

Artikel Terkait

Pengodean ICD dalam Kedokteran Gigi
views 3961
Berdasarkan artikel sebelumnya yang telah diterbitkan di dental.id yang berjudul ICD: Standar dalam Membuat Diagnosis yang membahas tentang Internatio...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.