web tracker Gracety Shabrina : Founder Dents Do Untuk Edukasi Gigi Orang Rimba - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Gracety Shabrina : Founder Dents Do Untuk Edukasi Gigi Orang Rimba

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Gracety Shabrina

Tenaga kesehatan di daerah, utamanya pedalaman, masih minim. Salah satu penyebabnya, jarangnya tenaga kesehatan yang mau ditempatkan di wilayah pedalaman. Berbeda halnya dengan seorang Muslimah belia yang dijuluki rekan-rekannya dengan “Sang Dokter Gigi Rimba.”

Muslimah bernama lengkap Gracety Shabrina melalui komunitas Dentist Day Out yang didirikannya telah menjelajah sedikitnya 60 desa di pedalaman se-Indonesia. Mereka memberikan pengobatan gratis dan penyuluhan kesehatan kepada warga pedalaman.

Gadis belia yang akrab disapa Grace ini mengaku ingin menuntaskan skripsi kedokterannya dengan cara yang berbeda. Ia memilih melakukan penelitian di daerah pedalaman suku Badui. Ia rela mengeluarkan dana lebih serta kerja ekstra dibanding teman-temannya. Alasannya, ia ingin menebar manfaat yang lebih luas, khususnya di bidang kesehatan gigi.

“Kalau ditanya alasan yang rasional, saya tidak punya. Entah apa alasannya saya mau mengeluarkan uang lebih banyak dari teman-teman yang lain untuk melakukan penelitian yang juga lebih susah dari yang lain. Itu semua karena saya cinta sama Badui,” kata Grace.

Keinginannya untuk meneliti suku Badui sempat ditentang keluarga, dosen, hingga teman-temannya. “Saya sempat dicekal sama dosen-dosen. Katanya bahaya, nanti perut saya bisa ditusuk. Karena tidak ada penelitian mahasiswa kedokteran yang sedemikian dalam ke masyarakat Badui,” ujar Grace mengisahkan.

Namun, tekadnya sudah mantap. Setelah mendapat restu dari keluarganya, Grace pun mulai mendatangi suku Badui. Ternyata ia mendapat penerimaan sangat baik dari penduduk setempat. Lingkungan di Badui, menurut Grace, tidak seseram yang dibayangkan sebelumnya.

“Mereka itu tulus dan suka menolong. Itu membuat saya benar-benar jatuh cinta sama Badui atas kesopanan dan akhlak mereka. Ketika di sana, mereka ada masalah soal kesehatan gigi. Saya yang anak SKG rasanya malu kalau nggak ikut nolong,” jelas Grace.

Baca Juga :

Menurut Grace, suku Badui yang tinggal di pedalaman lereng Gunung Kendang tersebut sangat terbelakang soal pengetahuan kesehatan. Jangankan paham soal layanan kesehatan, soal urusan menyikat gigi saja mereka tak mengerti. “Kita tidak bisa menyamakan pelayanan kesehatan ke masyarakat adat pedalaman dengan masyarakat biasa. Jangan pikir mereka akan mengerti dengan prosedur puskesmas, BPJS, dan sebagainya,” ujar Grace.

Aturan adat setempat melarang warganya menyikat gigi dengan alat sikat gigi. Namun, Grace dan rekan-rekannya tak kehabisan akal. Grace menciptakan sabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa untuk menggantikan fungsi sikat gigi. “Walau itu sabut kelapa, pengaplikasiannya sama dengan sikat gigi. Edukasi seperti itu seru karena mereka belum mengerti dengan kesehatan mulut,” jelasnya.

Melalui penyuluhan-penyuluhan kesehatan, Grace secara bertahap mengubah paradigma buruk masyarakat setempat soal kesehatan. Misalkan, masyarakat Badui meyakini gigi berlubang karena makanan pedas. Ia meyakinkan masyarakat Badui bahwa gigi berlubang karena makanan manis.

Grace mengaku sangat menikmati perannya di tengah-tengah suku Badui. Skripsinya berjalan lancar dan ia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. “Seru dan lucu aja dikasih tantangan untuk mengedukasi mereka,” ucapnya.

Langkah yang diambil Grace pun menginspirasi rekan-rekannya. Melalui komunitas Dentist Day Out, banyak mahasiswa kedokteran di kampusnya yang turut bergabung. Satu per satu misi ke pedalaman dijalankan. Tak terasa sudah lebih 60 daerah se-Indonesia sudah mereka jelajahi. “Paling jauh ke Lampung, Kalimantan, NTB, dan banyak lagi,” ujarnya.

Komunitas Dentist Day Out didirikan Grace bersama rekan-rekannya yang punya keprihatinan sama soal rendahnya kualitas kesehatan masyarakat di pedalaman. Menurut mereka, setiap orang sama haknya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pemahaman yang baik tentang hidup sehat. Termasuk mereka yang tinggal di pedalaman.

gracety 2

Bermula dari keprihatinan tidak menemukan tempat praktik dokter gigi saat berlibur di Karimun Jawa, Gracety Shabrina tergerak mendirikan Dents Do. Komunitas yang memberikan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut di daerah-daerah terpencil di Indonesia.

“Dulu sering traveling. Maunya jalan-jalannya itu yang bermanfaat. Tapi belum menemukan maunya seperti apa. Karena basic mahasiswi kedokteran gigi, pas melihat tidak ada dokter gigi di Karimun Jawa, tergerak memberi penyuluhan,” kata Grace, pendiri Dents Do (Dentist Day Out).

Grace lalu bertanya ke penduduk setempat, apa yang mereka lakukan jika sesuatu terjadi pada giginya. “Mereka jawab pergi ke Jepara,” kata Grace. Dari Karimun Jawa ke Jepara memakan waktu enam jam. Itu juga tidak mengendarai kendaraan bermotor, melainkan menyewa kapal motor. “Biaya sewa kapal tidak murah, sebesar 2 juta rupiah,” ujar Grace.

Grace yang masih tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (FKG UNPAD) melihat ketimpangan jumlah praktik dokter gigi di Karimun Jawa dan di Bandung. “Di sana tidak ada, sedangkan di Bandung, di dekat rumah teman saya, ada empat praktik dokter gigi,” kata Grace.

Komunitas Dents Do berdiri pada 23 Oktober 2012. Kala itu jumlah anggotanya masih delapan orang. Mereka lalu menerapkan sistem kaderisasi, terkumpullah 21 anggota sampai sekarang.

Karena status Grace dan teman-temannya adalah mahasiswi Co-Ass, mereka tak punya hak untuk memberi pelayanan dalam bentuk tindakan. “Kan masih semester 2 waktu itu. Sekarang juga masih Co-Ass. Jadi lebih ke penyuluhan saja dulu,” kata Grace, 23 tahun.

Bagi Grace, harga diri seorang dokter adalah mengabdi. Dia juga percaya, ilmu yang dia dapat tidak akan berarti jika tidak diamalkan. Prinsipnya, sekecil apa pun ilmu yang dimiliki, haruslah dibagi-bagi.

“Kita berilmu saja nilainya nol. Tapi kalau diamalin bertambah jadi satu. Nilainya jadi 10, begitulah kata Rasullah,” ujar Grace dalam diskusi Dokter Gigi Peduli di Kawasan Senayan, Jakarta Selatan

“Jadi, naik gunungnya bukan sekadar naik gunung. Tapi, naik gunung sambil pengabdian ke masyarakat di kaki gunung,” jelasnya.

Ia mengajak rekan-rekannya agar tidak jadi dokter yang terbiasa nyaman-nyaman saja dalam menerima pasien. Apa salahnya sesekali kaum dokter mau turun ke lapangan untuk menjemput bola mencari pasien.

“Kita lihat dokter gigi itu jarang sekali turun ke masyarakat. Kebanyakan diam di rumah sakit atau klinik, duduk nyaman di ruangan ber-AC. Jarang yang mau panas-panasan di luar cari pasien dan diobati secara gratis,” jelas Grace.

Inilah ide awal dari komunitas yang diinisiasi Grace. Komunitas anti-mainstrem ini ingin menghadirkan pencerahan bagi orang pedalaman yang selama ini jarang mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. “Kita ingin menjemput bola. Kita yang mendatangi pasien. Kalau biasanya dokter gigi hanya nunggu pasien di klinik, kita kebalikannnya, turun ke lapangan sekaligus menebar kebaikan,” ungkapnya.

Hingga saat ini, seluruh kegiatan pengabdian yang dijalani Grace dan rekan-rekannya didanai secara pribadi. “Semuanya dari infak dan iuran kita sendiri. Syukur-syukur kalau ada donatur yang mau ikut membantu. Tapi, sampai sekarang kita tidak punya donatur tetap, baik dari personal maupun perusahaan,” jelasnya.

Saat ini Grace sedang menjalani koas untuk merampungkan gelar dokternya. Ketika ditanya, apakah akan kembali ke pedalaman untuk mengabdi, Grace dengan semringah mengiyakan. “Tentu saya pribadi sangat senang. Itu sudah masuk ke list-nya kita walau entah kapan itu tercapai. Insya Allah tekad itu sudah tertanamkan. Tentu setelah selesai urusan-urusan yang lain,” ujar Grace.

Baca Juga : Terkena Baju Ayah Perokok, Bayi Malang Ini Meninggal

Sumber tulisan :

  1. http://health.liputan6.com (dan gambar)
  2. http://www.republika.co.id
Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0