website statistics
Home > Ilmiah > Gigi yang terlepas, Apa masih bisa diselamatkan ?

Gigi yang terlepas, Apa masih bisa diselamatkan ?

Advertisement
Advertisement

Aktifitas manusia sehari-hari tidak lepas dari berbagai macam risiko. Salah satunya adalah terjadinya trauma. Trauma dapat terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, terbentur benda keras, bahkan jatuh saat bermain. Trauma pada bagian rongga mulut/gigi biasanya sering terjadi pada anak-anak/remaja dikarenakan kegiatan mereka yang sangat aktif, khususnya ketika sedang bermain.

Kasus trauma yang sering terjadi pada bagian rongga mulut biasanya meliputi fraktur gigi, goyang, cedera periodontal, posisi yang berubah/bergeser atau yang paling fatal, gigi bahkan dapat terlepas dari soketnya yang biasa kita sebut dengan Avulsi. Avulsi merupakan injuri dental yang sangat serius. Avulsi pada gigi permanen terjadi 0,5% dari 16% kejadian injuri dental (Andreasen, Andreasen, Andersson, 2007) dan paling sering terjadi pada usia antara 7-14 tahun khususnya pada gigi insisivus sentral rahang atas (Trope, 2011).

Jadi, gigi yang terlepas dari soketnya, Apa masih dapat diselamatkan ?

Apabila gigi sudah permanen dan yang terlepas adalah gigi depan, tentu akan sangat mengganggu estetis dan fungsi. Penampilan akan terlihat kurang baik dan fungsi mastikasi pun tidak optimal. Sedangkan gigi sulung tidak perlu di reimplantasi kembali karena akan diganti oleh gigi permanen, akan tetapi harus dilakukan kontrol dan rontgen foto untuk melihat kondisi benih gigi permanennya dan apakah terdapat kerusakan jaringan.

Gigi yang terlepas pada dasarnya bisa diselamatkan asal ditangani secara cepat. Jika musibah itu datang, pergi ke klinik dokter gigi tentu akan memakan waktu. Jadi beberapa hal berikut perlu dilakukan jika ada keluarga, teman atau jiran tetangga di sekitar kita yang mengalami avulsi pada lokasi kejadian dan kemudian dibawa untuk dirawat di klinik dokter gigi

  • Tenangkan pasien terlebih dahulu !

Mengapa hal ini harus jadi yang pertama ? Ketika terjadi kecelakaan, tentu kondisi emosional seseorang akan terganggu. Pasien bisa saja merasa tidak nyaman dan tidak kooperatif ketika ditangani karena sedang merasakan sakit atau menangis.

  • Temukan gigi yang lepas dan pegang bagian mahkota 

Hindari memagang akar untuk mencegah kontaminasi

  • Hindari membersihkan gigi walaupun dalam keadaan kotor karena bisa saja menghilangkan jaringan. Jika memang harus dilakukan coba bersihkan dengan air yang mengalir secara hati-hati
  • Instruksikan pasien untuk mendorong giginya kembali kedalam soket dengan menggigit saputangan/tissue untuk menahan agar gigi tetap diposisinya
  • Jika tidak memungkinkan/tidak dapat dilakukan reimplantasi, tempatkan gigi ke media penyimpanan yang sesuai, seperti :
    1. Hank Solutions (Save-A-Tooth, Phoenix-Lazerus, Inc, Pottstown, PA) : Cairan pengawet pH ini paling baik digunakan dengan alat suspensi penahan trauma. Akan tetapi jarang kita miliki dirumah.
    2. Susu : Ditunjukkan untuk menjaga vitalitas sel ligamen periodontal selama 3 jam, susu relatif bebas bakteri dengan pH dan osmolaritas yang kompatibel dengan sel vital.
    3. Saline: Saline bersifat isotonik dan steril.
    4. Air liur: Air liur membuat gigi tetap lembab; namun, ini tidak ideal karena osmolaritas, pH, dan kehadiran bakteri yang tidak sesuai.
    5. Air: Ini adalah media transportasi yang paling tidak diinginkan karena menghasilkan lisis sel hipotonik yang cepat. (Hindari air jika mungkin)
    6. Gigi juga bisa dibawa di dalam mulut dengan menjepitnya di antara geraham dan bagian dalam pipi. Jika pasiennya masih sangat muda, gigi bisa saja tertelan – oleh karena itu disarankan agar pasien meludahi wadah dan menempatkan gigi di dalamnya.
  • Segera dapatkan perawatan di klinik Dokter gigi

Biasanya perawatan lanjutan di klinik dokter gigi, meliputi : emergency visit dan diagnosis and treatment planning.

Nah, itulah tindakan awal yang dapat kita lakukan untuk menangani gigi yang avulsi. Bahkan jika kita masih berstatus mahasiswa khususnya kedokteran gigi kita wajib tau hal-hal tersebut untuk membantu bilamana terjadi dilingkungan kita. Akan tetapi, dalam menangani gigi yang avulsi, keberhasilan perawatan dari gigi yang avulsi tergantung pada beberapa hal, seperti : berapa lama terjadinya, tempat kejadian, tindakan apa yang dilakukan pertama kali ketika terjadinya gigi avulsi dan bagaimana cara penanganan gigi avulsi tersebut. Sedangkan untuk prognosis dari trauma yang pada gigi dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : tingkat kerusakan atau luas dari kerusakan yang dialami, apakah kerusakan yang dialami meliputi jaringan lain di sekitar gigi, seperti jaringan lunak maupun jaringan keras seperti tulang rahang, kualitas dan kesegeraan dari perawatan yang dilakukan setelah terjadi trauma serta evaluasi dari penatalaksanaan selama masa penyembuhan.

Semoga Bermanfaat

 

 

 

Sumber :

http://emedicine.medscape.com/article/763291-treatment

www.endopracticeus.com/ce-articles/management-avulsion-dental-trauma/

dentaltraumaguide.org/free-dental-guides/permanent-teeth/avulsion/

pauwpauw.wordpress.com/2010/06/23/23/

Sumber gambar :

http://1.bp.blogspot.com/-eOVpt9NkNPA/Vnv79Sxp4vI/AAAAAAAAAbc/d75qcE9tqiQ/s1600/cakil.bmp

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0