website statistics
Home > Ilmiah > Fakta Sebenarnya Dibalik Opini Bahaya Fluoride dalam Pasta Gigi

Fakta Sebenarnya Dibalik Opini Bahaya Fluoride dalam Pasta Gigi

Advertisement
Advertisement
image from http://almostexactlyblog.com/
image from http://almostexactlyblog.com/

Ketik kata ‘apakah itu fluoride’ pada mesin pencari di internet, maka akan muncul puluhan situs tentang bahaya fluoride. Semuanya berawal dari suatu artikel ‘ilmiah’ mengenai bahaya fluoride dalam pasta gigi. Artikel tersebut segera menjadi viral dan ditelan mentah-mentah sebagai sumber baku tentang bahaya pemakaian fluoride dalam pasta gigi.

Menggunakan judul yang bombastis dan mengutip pendapat dari banyak tokoh serta berita dari situs kelompok anti fluoride, artikel ‘ilmiah’ ini sukses mempengaruhi masyarakat awam bahkan tenaga kesehatan yang secara sadar ikut menyebarkan informasi ini.

Artikel ‘ilmiah’ tersebut menyebutkan bahwa fluoride merupakan bahan berbahaya karena digunakan sebagai bahan baku bom dan racun tikus. Perlu diketahui bahwa garam dapur (NaCL) juga merupakan salah satu unsur pembuat bom.

Kalsium yang merupakan bahan pembentuk tulang juga digunakan sebagai bahan pembuat racun tikus. Artinya bahwa bukan fluoride yang berbahaya namun dosisnyalah yang menentukan apakah fluoride berbahaya atau tidak. Dengan alasan tersebut fluoride dan beberapa mineral lainnya disebut sebagai material dose dependent.

Hasil penelusuran terhadap artikel ‘ilmiah’ bahaya fluoride didapatkan data sebagai berikut :

1. Kutipan yang diambil kebanyakan merupakan pendapat perseorangan dari Rima Laibaow, Robert Carlton, Albert Schatz, Charles Gordon, John Colquhoun yang berasal dari kelompok anti fluoridasi. Seperti kita ketahui dalam tingkatan pembuktian ilmiah (Level of evidence) , pendapat ahli tidak dapat dijadikan referensi.

2. Artikel ‘ilmiah’ banyak mengutip situs tidak resmi seperti shirley-wellness-cafe, naturalhealing, anglican communion dll dan tidak mengutip lembaga resmi seperti World Health Organization (WHO), Food and Drug Adimistration ( FDA), American Dental Association (ADA) atau   Federation dentaire internasionale/World Dental Organization (FDI).

3. Telaah pada sumber yang dicantumkan pada artikel tersebut ternyata artikel tersebut berasal dari kelompok anti fluoride mengenai bahaya fluoridasi air keran (municipal water supply/air PAM) bukan air minum kemasan atau pasta gigi.

4. Negara-negara yang dilaporkan mengalami efek samping fluoride (dental fluorosis) seperti China dan Tanzania, terjadi bukan karena penggunaan fluoride dalam pasta gigi dan bukan juga karena air minum yang diberikan tambahan fluoride tapi karena air tanah di daerah tersebut mempunyai sumber fluoride alamiah dengan kadar yang sangat tinggi.

5. Tambahan fluoride pada air minum (municipal water supply) masih berlaku di negara Amerika, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hongkong,  Malaysia dan Irlandia karena terbukti menurunkan angka karies gigi. Dengan dosis yang sesuai air minum berfluoride aman dikonsumsi.

Angka keracunan Fluoride (dental fluorosis) yang ditandai dengan perubahan pada struktur gigi dinegara negara tersebut tidak lebih tinggi dibandingkan dengan negara negara yang tidak menerapkan fluoridasi
air minum.

6. Penolakan terhadap fluoridasi air minum tidak semata mata karena bahaya fluoride namun karena fluoridasi air minum dianggap pemborosan. Air minum/air keran (municipal water supply) digunakan juga untuk mandi, mencuci, bahkan mencuci mobil dan menyiram tanaman

7. Artikel ‘ilmiah’ tentang bahaya fluoride ini cenderung pada teori konspirasi. Dapat disimpulkan bahwa artikel ‘ilmiah’ mengenai bahaya fluoride dalam pasta gigi tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Di Mana Fluoride Dapat Ditemukan?

Fluoride merupakan salah satu mineral yang paling banyak ditemukan di bumi. Dengan mudah kita  bisa menemukan Fluoride dalam air sumur, air sungai, mata air, ikan laut, tempe,  mentimun, wortel, pisang, bawang, singkong, bayam, dan sebagainya.

Fluoride juga ditemukan dalam kayu siwak, air zamzam dan teh. Bahkan kandungan fluoride dalam teh dapat mencapai 9 mg/Liter atau lebih tinggi dari  batasan fluoride dalam air minum (WHO yaitu 1,5 mg/liter dan FDA 0,8-2,4 mg/Liter).

Kecamatan Asembagus di Kabupaten Situbondo merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki air tanah dengan kadar Fluoride tinggi (3,08 ppm), namun demikian kecuali wabah bercak (dental fluorosis) pada gigi geligi, belum pernah diberitakan adanya bencana atau wabah penyakit sistemik akibat kelebihan fluoride seperti dalam artikel ‘ilmiah’ tentang bahaya fluoride.

Fluoride di dalam tubuh akan diabsorbsi melalui saluran pencernaan yaitu di lambung dan usus kecil kemudian 90-95 persen akan dieksresikan melalui urine, sisanya akan dieksresikan melalui feses, air liur, dan keringat.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana pemakaian pasta gigi berfluoride yang benar dalam kehidupan sehari hari terkait risiko pemakaian fluoride?

Karies gigi dan penyakit mulut menjadi beban ekonomi yang besar bagi kesehatan dunia serta memengaruhi kualitas sumber daya manusia. Penelitian di Filipina membuktikan anak-anak di bawah usia 12 tahun dengan angka karies tinggi berkorelasi dengan indeks masa tubuh yang rendah,  maka World Health Organization (WHO), American Dental Association (ADA) dan Federation Dentaire Internasionale (FDI)  menyatakan bahwa menyikat gigi harus menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.

Dalam pertemuan bersama antara WHO, FDI dan IADR (International Association for Dental Research) dicetuskan Deklarasi Beijing pada tahun 2007 dengan tema ‘All to action to promote oral health by using fluoride in China and Southeast Asia’ menyatakan bahwa pasta gigi yang mengandung fluoride aman digunakan dan terbukti menurunkan angka karies. Berkebalikan dengan pendapat yang menyatakan bahwa pasta gigi berfluoride tidak boleh digunakan pada anak berusia kurang dari 3 tahun, ADA menganjurkan pemakaian pasta gigi berfluoride pada usia tersebut dengan tata cara yang sesuai.

Disarikan dari Basic Package Oral Care (BPOC-WHO), Guidelines of fluoride Therapy (American Academy of Pediatric Dentistry), FDI, FDA dan ADA,  begini penggunaan pasta gigi fluoride secara efektif :

1. Orang tua harus mengoleskan/menuangkan pasta gigi pada sikat gigi anak

2. Anak anak usia 0 sampai 6 tahun disikat giginya oleh orang tua

3. Anak anak di bawah usia 3 tahun menggunakan pasta gigi berfluoride untuk anak anak, ukuran pasta yang digunakan adalah seukuran biji beras (rice size amount) atau satu oles (a smear)

4. Anak anak usia 3-6 tahun apabila menggunakan pasta gigi khusus untuk anak-anak maka ukuran pasta gigi yang digunakan adalah seukuran biji polong/jagung (pea size amount), apabila menggunakan pasta gigi dewasa maka ukuran yang digunakan adalah seukuran biji beras (rice size amount) atau satu oles (a smear)

5. Anak anak usia  6-12 tahun menyikat gigi di bawah pengawasan orang tua, ukuran pasta gigi yang digunakan adalah seukuran biji polong/jagung (pea size amount)

6. Anak berusia di atas 12 tahun, ukuran pasta gigi yang digunakan adalah seukuran biji polong/jagung (pea size amount)

7. Pemakaian pasta gigi dengan ukuran biji polong/jagung (pea size amount) hanya akan menghabiskan dua tube pasta gigi saja dalam setahun

8. Teknik menyikat gigi tidak berpengaruh banyak terhadap kebersihan gigi

9. Lama menyikat gigi minimal 2 menit

10. Cukup kumur 1 kali saja agar fluoride menempel pada permukaan gigi

11. Anak-anak yang sering menelan pasta gigi, disarankan menggunakan pasta gigi dewasa seukuran beras, dengan harapan  rasa yang lebih pedas membuat anak tidak menelan pasta gigi tersebut.

Kondisi Pasta Gigi di Indonesia

Fluoride dalam pasta gigi hanya akan efektif bila Fluoride nya terlepas dari ikatan kimia pada pasta gigi menjadi ion fluoride bebas (free fluoride/soluble fluoride) yang akan berikatan dengan permukaan email menjadi ikatan fluorapatite yang tahan asam. Kadar fluoride bebas berbeda dengan kadar fluoride  yang tertulis dalam kemasan.

Tidak semua pasta gigi mempunyai angka kecukupan fluoride bebas. Hal ini  tergantung dari bahan abrasive dalam pasta gigi (bahan abrasif berbasis silika lebih baik dibanding bahan abrasif kalsium) dan dari masa kedaluwarsa pasta gigi. Satu tahun setelah diproduksi, pasta gigi yang disimpan dalam suhu 29 derajat Celcius akan mengalami kehilangan fluoride bebas sebesar 35 persen.

Penelitian yang dilakukan oleh LKJ PIRAC (Lembaga Konsumen Jakarta) pada tahun  2002 yang meneliti kandungan fluoride pada pasta gigi berdasarkan label kemasan menunjukan kadar fluoride dalam produk pasta gigi anak di Indonesia lebih dari 1500 ppm untuk itu LKJ PIRAC merekomendasikan BPOM
untuk mengurangi kadar fluoride pada pasta gigi yang beredar di indonesia.

Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh LKJ PIRAC, penelitian yang dilakukan pada produk pasta gigi di Brunei Darusalam, Kamboja, Laos dan Suriname pada tahun 2012 di mana beberapa pasta gigi di antaranya sama dengan yang beredar di Indonesia. Dengan menggunakan gas kromatografi hasilnya menunjukkan pasta gigi yang beredar di empat negara tersebut memiliki kurang dari 50 persen ion fluoride bebas.

Kondisi ini  jauh dari hasil penelitian di Belanda yang menunjukan kadar ion fluoride bebas mencapai 94 persen dari 650-800 PPM kadar fluoride pada pasta gigi dewasa dan 250-550 ppm pada pasta gigi anak,  sebagai syarat minimal yang harus dipenuhi untuk efektivitas pencegahan karies.

Dalam memilih pasta gigi terutama untuk anak-anak, sangat penting untuk memperhatikan kandungan fluoridenya dan masa kadaluwarsa pasta gigi dibandingkan dengan rasa dan aroma yang ditawarkan.

*) drg Dhanni Gustiana, alumnus World Health Organization Collaborating Centre (WHOCC), Centre for Oral Health Care Planning and Future Scenarios College of Dental Science, St Radboud University –Nijmegen, Belanda.

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook9Share on Google+1Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn2Pin on Pinterest0
admin
Admin website http://dental.id