web tracker Ekavianty Prajatelistia : Temukan Obat Alami Atasi Gigi Sensitif Di Korea - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Ekavianty Prajatelistia : Temukan Obat Alami Atasi Gigi Sensitif Di Korea

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Mahasiswa Indonesia berkibar dimana-mana, termasuk di Korea Selatan. Salah satunya menemukan obat gigi yang cespleng. Dubes RI di Seoul pun tidak segan menyanjungnya.

Pernah merasakan gigi ngilu saat menikmati minuman yang panas atau dingin? Bila rasa nyeri itu sering terjadi, mungkin Anda termasuk orang yang memiliki gigi sensitif atau dentine hypersensitivity.

Gigi sensitif terjadi akibat pengikisan lapisan luar gigi atau enamel. Akibatnya, dentin yang berada di lapisan dalamnya akan terekspos ke cairan liur atau saliva dalam mulut. Dentin memiliki banyak pori-pori yang terhubung dengan saraf, sehingga pergerakan saliva atau rangsangan panas/dingin tersebut akan menuju langsung ke saraf sehingga gigi Anda akan terasa nyeri dan ngilu.

Untuk mengatasi rasa ngilu tersebut, maka diperlukan remineralisasi atau menumbuhkan kembali mineral yang hilang untuk menutup pori-pori dentin yang terekspos.

Saat ini banyak produk komersial yang dikonsumsi untuk mengatasi rasa ngilu pada gigi sensitif seperti diantaranya berbahan dasar oxalate, hydroxyethyl methacrylate hydroxyapatite, dan glutaraldehyde.

Sayangnya, dari kebanyakan produk komersial tersebut mempunyai kandungan bahan aktif yang berkonsentrasi tinggi. Bahkan, beberapa di antaranya berbahaya bagi tubuh bila dipakai berlebihan.

iamge from http://health.detik.com/
iamge from http://health.detik.com/

Adalah Ekavianty Prajatelistia, salah seorang mahasiswa S3 asal Indonesia yang tergabung dalam Laboratory for Biomimetic and Environmental Materials (LBEM), Pohang University of Science and Engineering (POSTECH), Korea Selatan, berhasil memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan bahan alami. Adapun bahan alami yang digunakan berasal dari tunicate, salah satu hewan laut dan merupakan makanan yang lazim dimakan di restoran-restoran seafood di Korea.

“Capaian Ekavianty ini termasuk hal yang langka dan sekaligus membanggakan. Saya harap, mahasiswa Indonesia bisa berprestasi dan aktif melakukan penelitian. Selamat buat Ekavianty. Lanjutkan,” ujar Dubes John A Prasetio serius.

Tunicate ini sangat unik karena memiliki kemampuan menyembuhkan luka di tubuhnya sendiri. Inilah yang menginspirasi Eka melakukan penelitian tentang bagaimana tunicate menyembuhkan dirinya sendiri untuk kemudian diaplikasikan ke gigi manusia agar dapat menumbuhkan mineral yang hilang pada gigi secara alami.

TOPA atau 3,4,5-trihydroxyphenylalanine yang terkandung dalam tunicate akan membentuk kompleks dengan metal ion dan menjadi lapisan pada gigi sekaligus menutup pori. Selanjutnya kalsium pada saliva akan ditangkap oleh kompleks tersebut dan membentuk hydroxyapatite sebagai mineral pembentuk gigi dan tulang.

Baca Juga :

Hasil penelitian Eka di bawah bimbingan Professor Hwang Dong Soo ini telah terbit di jurnal Advanced Healthcare Materials. Penelitian tersebut, yang bahkan telah dipatenkan di Korean Patent, juga tidak luput dari liputan media-media di Korea Selatan seperti KBS, MBC, dan YTN.

“Penelitian ini menarik karena dengan memakan tunicate, dipadu dengan bahan makanan yang mengandung metal ion seperti yang terkandung dalam vitamin dan suplemen, dengan konsentrasi rendah, dapat menutup pori-pori dentin hanya dalam waktu 4 menit dengan cukup berkumur,” terang Eka menjelaskan hasil penelitiannya.

Bahan aktif tersebut akan membentuk senyawa kompleks dan menutup pori-pori dentin sebanyak ~50%. Lalu, tanpa berkumur, liur atau saliva dalam mulut akan membantu menumbuhkan mineral gigi selama 7 hari, dan pada akhirnya, sebanyak ~87% pori-pori dentin yang terekspos tersebut akan tertutupi dengan mineral pembentuk gigi.

Menariknya, ternyata lapisan yang terbentuk tidak merusak warna gigi, sehingga tidak merusak estetika pada gigi. Eka berharap penelitian ini dapat membuka wawasan untuk studi-studi lain dan dapat diterapkan pada produk komersil.

“Eka bekerja di lab secara bersungguh-sungguh sehingga dapat menghasilkan hasil penelitian yang baik,” ujar Professor Hwang Dong Soo saat ditanya mengenai sosok Eka yang tergabung dalam grupnya.

Selain menjadi mahasiswi dan peneliti, Eka juga berperan ganda mengasuh putrinya, Kayyisha (3 tahun), dan menjadi istri dari Andrieanto, mahasiswa Indonesia di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) yang juga sedang melanjutkan studi S3. Eka dan Andri pun aktif bergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (PERPIKA).

Baca Juga : Fuad Gandhi Rizal : Difabel Dokter Gigi dan Peneliti Di Jepang

Sumber tulisan :

http://health.detik.com

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0