invisible hit counter Edukasi Masyarakat: Penyakit Phlegmon Dasar Mulut - dental.id

Edukasi Masyarakat: Penyakit Phlegmon Dasar Mulut

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Sebagian besar masyarakat tidak memahami menyoal penyakit infeksius, mulai dari sebab, gejala dan dampaknya bagi kehidupan. Terutama penyakit infeksius yang berasal dari salah satu organ penting di dalam rongga mulut yaitu gigi.

Masyarakat tentu harus memiliki pengetahuan tentang penyakit infeksius karena pada tingkat yang serius, penyakit infeksius dapat mengakibatkan kematian. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa merawat dan menjaga kesehatan, rongga mulut khususnya, adalah hal yang sangat penting.

Apa itu infeksi?. Infeksi merupakan suatu proses masuknya kuman ‘jahat’ ke dalam tubuh dan dapat menimbulkan suatu penyakit. Penyebab paling utama dari infeksi adalah mikroorganisme. Rongga mulut adalah salah satu bagian tubuh yang rentan terhadap serangan penyakit infeksius. Sebab, lingkungan rongga mulut banyak tersusun atas mikroorganisme golongan bakteri.

Di dalam rongga mulut terdapat sekitar lebih dari 400 ribu spesies bakteri yang teridiri dari bakteri aerob dan anaerob. Perbandingan antara bakteri aerob dan anaerob dalam rongga mulut adalah 10:1 hingga 100:1. Singkat kata, terdapat bakteri ‘baik’ dan ‘jahat’ di dalam rongga mulut manusia.

Pada kondisi normal, bakteri-bakteri ini hidup serasi dalam menjaga lingkungan rongga mulut. Namun pada suatu waktu, keseimbangan bakteri dalam rongga mulut dapat terganggu. Banyak sebabnya, namun sebab paling utama adalah buruknya tingkat kebersihan gigi dan mulut (Oral Hygiene).

Lingkungan mulut yang kotor menyebabkan produksi bakteri jahat meningkat dan berkembang biak melebihi batas. Perkembang biakkan bakteri jahat membuat pH lingkungan rongga mulut menjadi asam. Suasana asam ini yang kemudian membuat lapisan paling keras gigi menjadi terkikis dan menciptakan lubang pada gigi yang disebut dengan karies gigi.

Gambar Karies Gigi

Sumber: klinikjoydental.com

 

Infeksi dan Kematian Gigi 

Ketika karies gigi didiamkan dan dibiarkan saja terbuka, maka akan menjadi pintu masuk bagi bakteri untuk melakukan penjalaran. Penjalaran akan terus berlanjut ke dalam lapisan dentin gigi hingga ke tempat yang paling vital dalam gigi yaitu, jaringan pulpa.

Jaringan pulpa adalah nyawa dari organ gigi. Di dalamnya terdapat jaringan saraf dan pembuluh darah. Saat bakteri sudah mencapai pulpa maka disebut dengan istilah karies pulpa. Karies pulpa ini membuat penderita merasakan nyeri gigi yang hebat, baik secara akut ataupun kronis.

Jika penjalaran infeksi didiamkan maka lambat laun menyebabkan pulpa mengalami kematian atau dengan istilah kedokteran disebut dengan nekrosis pulpa. Tanda paling dasar dari gigi yang mengalami nekrosis pulpa adalah mati rasa dan warna gigi berubah menjadi kehitaman.

Gigi Nekrosis

Sumber: pozemedicale.org

Saat gigi sudah mati dan tidak lagi menimbulkan hantaran rasa sakit, bukan berarti proses infeksi telah berhenti. Banyak penderita yang abai pada kondisi ini. Justru, proses infeksi terus berlanjut dan semakin berbahaya. Penajalaran infeksi akan terus berkembang hingga merusak jaringan di sekitar akar gigi (periapikal) dan jaringan penyangga gigi (periodonsium). Jaringan penyangga gigi terdiri dari gusi dan tulang rahang. Dengan kata lain, sasaran dari penyakit infeksi setelah mematikan gigi adalah gusi dan tulang rahang.

Infeksi Odontogenik, Inflamasi dan Abses

Infeksi yang berasal dari gigi mati yang tidak segera dirawat disebut dengan istilah infeksi odontogenik. Infeksi ini merusak jaringan sekitar akar gigi, gusi dan pada tahap lanjut dapat berpotensi merusak tulang rahang.

Infeksi odontogenik akan membuat jaringan di sekitar gigi mengalami proses peradangan/inflamasi. Inflamasi adalah respon pertahanan yang dilakukan oleh tubuh dalam menangkal infeksi bakteri. Tanda-tanda umum dari jaringan yang mengalami inflamasi adalah panas, kemerahan, bengkak dan sakit.

Jaringan di sekitar gigi akan mengalami hal serupa. Inflamasi pada tahap yang parah akan menimbulkan pembengkakan. Pembengkakan ini terjadi karena banyak sel darah putih yang mati dan meningkatnya produksi bakteri jahat.

Sisa-sisa sel darah putih yang mati dan meningkatnya jumlah bakteri akan menumpuk dan menciptakan nanah. Jaringan sekitar gigi yang berisi nanah menimbulkan pembengkakan atau disebut dengan istilah abses periapikal dan abses periodontal.

Lambat laun, penumpukan abses akan menekan jaringan saraf di sekitar gigi dan menimbulkan rasa sakit yang hebat. Pada beberapa kasus, rasa sakit bisa berupa nyeri sampai menimbulkan sakit kepala.

Secara garis besar ada 2 jenis infeksi odontogenik yaitu, yang tidak berbahaya dan berbahaya sampai mengancam nyawa. Abses termasuk golongan infeksi odontogenik yang tidak mengancam nyawa. Infeksi odontogenik yang dapat mengancam nyawa dan paling sering terjadi adalah Phlegmon dasar mulut. Apa itu Phlegmon dasar mulut?. Mengapa ia berbahaya dan dapat menghilangkan nyawa?.

Phlegmon Dasar Mulut

Phlegmon dasar mulut/Ludwig’s Angina adalah suatu penyakit kegawatdaruratan, yaitu terjadinya penyebaran infeksi secara progresif dan cepat yang berisi tumpukan nanah pada daerah rahang bawah kanan dan kiri dan dagu serta bawah lidah.[1]

Secara sederhana, Phlegmon dasar mulut merupakan komplikasi dari abses periapikal dan periodontal yang dibiarkan dan tidak segera dilakukan penanganan. Lokasi khas tempat bersarangnya Phlegmon ini adalah rahang bawah kiri, kanan dan bawah lidah. Ketiga lokasi itu merupakan lokasi yang dekat dengan dasar mulut.

Tanda klinis yang khas dari penderita yang mengalami Phlegmon adalah bengkak pada daerah sekitar bawah rahang dan leher, lidah terangkat akibat tumpukan nanah sehingga pasien sulit berbicara. Selain itu terdapat juga beberapa tanda umum seperti, sulit membuka mulut, sakit pada daerah leher, leher  kemerahan, demam, lemah, lesu dan sulit bernapas.

Phlegmon Dasar Mulut

Phlegmon dasar mulut merupakan bagian dari infeksi odontogenik. Artinya, infeksi ini bermula dari gigi yang mengalami kematian (nekrosis). Ada banyak jenis gigi dan yang menjadi sebab utama terjadinya Phlegmon adalah gigi geraham belakang rahang bawah yaitu, gigi molar 2 dan molar 3 yang mengalami nekrosis.[2]

Selain sebab utama itu, ada juga faktor pendukung yang mengakibatkan Phlegmon bertambah parah dan sulit untuk ditangani seperti penyakit diabetes, infeksi HIV, neutropenia dan pecandu alkohol. Keempat hal tersebut dapat menurunkan sistem pertahan tubuh sehingga perluasan penyakit dapat berlangsung lebih cepat.[3]

Dari data epidemiologi, penyakit ini dapat menyerang pasien yang berusia 20-60 tahun. Artinya, penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Laki-laki lebih berisiko terserang penyakit ini dibandingkan perempuan dengan rasio 3:1 dan 4:1.[4]

Secara historis, sebelum ditemukannya antibiotik di awal abad ke-20, tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit ini mencapai angka 50%. Henti napas akibat penumpukan nanah pada jalur pernapasan adalah indikator utama yang membuat penyakit ini sangat membahayakan nyawa. Dengan demikian, penyakit Phlegmon dasar mulut ini tidak bisa dipandang remeh.

Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan nanah pada lokasi yang terinfeksi merupakan penanganan utama pada penyakit ini. Namun lebih daripada itu, upaya pencegahan tetap menjadi prioritas utama di atas tindakan pembedahan. Oleh sebab itu, masyarakat harus konsisten dalam merawat dan menjaga kesehatan mulutnya. Karena bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati.

 

Sumber :

1. Kulkarni A H, Pai S D, Bhattarai B, Rao S T, Ambreesha M. Ludwigs Angina and airway consideration: case report. Cases Journal 2008, 1:19.

2. Aditya M dan Anggraeni JW. Phlegmon Dasar Mulut Odontogenik: Laporan Kasus. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

3, Bertolai R, Acocella, Sacco R, Agostini T. Submandibular celullitis (Ludwigs Angina), Associated to a complex odontoma erupted into the oral cavity: case report and literature review. Minerva Stomatol. 2007; 56 (11-12): 639-47.

4. Soni YC, Pael HD, Pandya HB, Dewan HS, Bhavsar BC, Shah UH. Ludwigs angina: diagnosis and management- a clinical review. J Res Adv Dent. 2014 3(2s): 131-6.

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Teknologi Terbaru Kedokteran Gigi: Gigi Berlubang ...
views 1462
Di masa lalu, saat ada orang yang mengalami karies atau gigi berlubang, sebagian besar akan disarankan untuk dilakukan pencabutan sebagai solusi.T...
Bahaya Menambal Gigi Dengan Amalgam
views 1452
Tambal gigi amalgam, atau yang dikenal masyarakat sebagai tambal gigi perak, menyimpan bahaya. Sebabnya, amalgam diketahui memiliki kandungan zat merk...
CBT : Teknik Mengurangi Fobia Pasien Ke Dokter Gig...
views 1469
Beberapa orang ada yang ketakutan bukan main ketika diajak pergi ke dokter gigi. Kini, untuk menangani ketakutan tersebut, peneliti mengungkapkan bahw...
10 Reasons Why Dental Photography Should be an Ess...
views 148
Photography has always been considered an invaluable part of dentistry. With the advent of digital technology, imaging has become easier and more read...
Stress In Dentistry , It Could Kill You!
views 94912
Written by : Randy Lang. DDS, D.OrthoRecent Studies reported in dental literature confirm that dentists are subject to a variety of stress-related...
Laser: Era Baru Dunia Kedokteran Gigi
views 1045
Ditulis oleh : Drg. Eka Erwansyah, MKes, SpOrtSeringkali pasien yang telah ditambal giginya merasa telah mendapatkan perawatan dengan sinar la...
Ternyata Amalgam Masih Menimbulkan Pro Kontra Untu...
views 1054
Tambalan amalgamTambalan amalgam telah dipakai selama lebih dari 150 tahun. Tambalan amalgam terbuat dari percampuran merkuri cair (43-54%) dan be...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0