website statistics
Home > Sosok > drg Dewi Pratiwi Putri : Perjuangan “Melawan” Dukun Diganjar Tenaga Kesehatan Teladan

drg Dewi Pratiwi Putri : Perjuangan “Melawan” Dukun Diganjar Tenaga Kesehatan Teladan

Advertisement
Advertisement

Minggu-minggu pertama bekerja di Puskesmas Mendahara, jangankan 10, satu pasien memeriksakan gigi saja sudah luar biasa bagi dokter gigi Dewi Pratiwi Putri. Minimnya jumlah tenaga kesehatan, membuat sebagian besar masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi lebih mempercayakan kesehatannya kepada dukun daripada tenaga medis.

Awal ditugaskan sebagai dokter gigi PTT di 2014, wanita yang akrab disapa Puput ini kaget melihat kondisi masyarakat di sana. Berada di daerah terpencil dan minimnya jumlah dokter gigi, membuat kepercayaan masyarakat pada dukun amat tinggi.

“Saya pernah lihat pasien disembur dengan air atau dielus-elus pipinya biar sembuh oleh dukun,” kata Puput
“Jika pun memang sembuh itu kebetulan saja atau bisa karena sugesti pasien sembuh,” tutur Puput kepada Liputan6.com.

Salah satu kejadian menarik saat ada warga yang pipinya bengkak sudah seminggu, namun dengan beragam alasan pria berumur 40-an tahun ini enggan ke puskesmas. Hal ini pun membuat wanita lulusan Universitas Sumatera Utara ini berkunjung ke rumah pasien tersebut. Pada saat bersamaan ada dukun yang menjampi-jampi pria ini.

“Selesai dukun jampi-jampi, saya kemudian cek kondisinya. Ternyata memang bengkak sekali, meradang begitu. Saya juga bawakan obat serta beliin obat kumur biar sembuh,” cerita Puput.

Bahkan Puput pun meminta pasien tersebut harus mengonsumsi obat di depannya. Puput juga mengompres pipi bengkak sang pasien. “Saya katakan padanya jika memang mau sembuh, harus makan obat dan dikompres. Yang saya perlakukan padanya seperti saudara bukan pasien,” kata Puput.

drg-puput

Tentu saja, cara pengobatan dokter gigi dan dukun berbeda. Bahkan bertentangan.

“Dukun ini mengatakan kepada orang tersebut bila ingin sembuh jangan kena air. Jika kena air nanti hantunya (yang membuat bengkak) marah sehingga tak kunjung reda bengkaknya. Padahal menurut saya selain mengonsumsi obat, kondisi seperti ini baiknya dikompres dengan air hangat,” kata dokter Puput.

Setelah beberapa hari mengikuti saran Puput, bengkak di pipi pria ini mereda. Tak lama kemudian sembuh. Mulai muncullah kepercayaan satu pasien terhadapnya. “Bahkan tak lama, dia dan istrinya datang ke saya untuk minta dibersihakan karang gigi,” cerita Pipit.

Artikel Populer Minggu Ini

Tak Antidukun

Kepercayaan masyarakat yang begitu kuat kepada dukun, tak serta merta langsung ditentang oleh Puput. Ia menyadari butuh waktu secara perlahan-lahan untuk mengubah pola pikir masyarakat di area ini.

“Saya tidak boleh menolak dukun, yang saya dilakukan adalah perlahan-lahan masyarakat didekati. Saya mengatakan boleh pakai dukun, tapi tetap pengobatan dari saya,” kata wanita berjilbab ini.

Berbagai cara Puput lakukan agar mempercayai kemampuannya sebagai tenaga medis. Seperti aktif dalam kegiatan masyarakat seperti pengajian, berkumpul dengan ibu-ibu, para guru juga ia rangkul.

Misalnya saat ibu-ibu berkumpul ia akan menyelipkan informasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Lalu jika terjadi sesuatu alangkah baiknya dibawa ke dokter gigi.

“Pelan-pelan saya masukkan tuh, bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut itu perlu,” katanya.
Puput pun tak mau diam duduk di Puskemas saja. Ia aktif ke enam desa yang masuk dalam cakupan Puskesmas Mendahara.

Kontur wilayah yang rawa-rawa, membuat Puput harus menggunakan speed boat atau nampak saat memberikan penyuluhan. Belum lagi harus memperhatikan kondisi pasang surut air.

“Tapi kalau saya hanya duduk manis di Puskesmas, mau kapan perubahan itu terjadi,” tegas Puput.

Selain memberikan penyuluhan pada orang dewasa, Puput pun aktif memberikan edukasi tentang kesehatan gigi dan mulut di sekolah-sekolah. Penyuluhan yang diberikannya dengan bermain dan bernyanyi sehingga tidak seperti digurui.

“Kalau anak-anaknya sudah kita ‘tangkap’, mereka pun akan mengenalkan pada orangtuanya. ‘Itu lho, Mak, dokter gigi di puskesmas’,” katanya.

Perubahan Kecil Nampak

Upaya Puput dalam mengubah pola pikir dengan cara aktif berkegiatan masyarakat lalu menganggap pasien sebagai keluarga menampakkan hasil. Hal ini terlihat dari angka kunjungan ke dokter gigi Puskesmas Mendahara.

Bila di awal ia praktek akhir 2014, hanya ada satu atau dua anak yang memeriksakan diri di 2015 sudah ada 5-10 pasien anak-anak per harinya. Lalu, orang dewasa juga memeriksakan kesehatan pun meningkat menjadi 10 orang.

“Saya senang ketika ilmu saya dihargai masyarakat, peningkatan jumlah pasien juga berarti tingkat pengetahuan mereka sudah meningkat. Ini bukan masalah uang yang didapat, melainkan kesenangan bertambahnya kepedulian mereka akan kesehatan gigi dan mulut,” tutur wanita ini.

Berkat kerja kerasnya meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, Puput terpilih menjadi satu dari 216 Tenaga Kesehatan Teladan 2016 dari Kementerian Kesehatan pada Agustus lalu.

image from http://www.pontianakpost.com/
FUAD GANDHI RIZAL : DIFABEL DOKTER GIGI DAN PENELITI DI JEPANG

Sumber tulisan :

http://health.liputan6.com

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn1Pin on Pinterest0
admin
Admin website http://dental.id