website statistics
Home > Berita > Dokter Gigi Selalu Menjadi Orang Kedua?

Dokter Gigi Selalu Menjadi Orang Kedua?

Advertisement
Advertisement

Penulis : Lusi Epsilawati

Dokter Gigi Puskesmas Mujur Lombok Tengah

Tertarik dengan artikel yang di buat sejawat Septia Indriasari dalam DENTAMEDIA No.1 Vol.5 yang menceritakan betapa ”bagusnya” Puskesmas tempat sejawat bertugas. Memang betul begitu adanya, Puskesmas tempat saya bertugaspun yang berada di Provinsi yang sama kurang lebih seperti itu kondisinya, berkeramik, dengan peralatan cukup lengkap bahkan di tempat saya ada alat rongent dan fasilitas UGD yang terbilang cukup moderen; padahal lokasinya 30 Km dari Mataram.

Namun di balik semua ”kementerengan itu” ada satu yang tak boleh dilupakan yaitu pandangan masyarakat dan ”sejawat” di luar profesi dokter gigi terhadap dokter gigi yang kurang begitu menggembirakan. Masyarakat lebih suka datang ke tukang gigi karena selain lebih murah juga lebih cepat kerjanya dibanding dokter gigi yang dianggap terlalu banyak prosedur sehingga bahkan ada yang berujar ”Ibu Dokter Bodo, kerjanya lama”. Dan yang lebih menyakitkan adalah sikap ”sejawat” yang selalu menganggap dokter gigi orang ke dua bahkan dianggap sederajat dengan profesi paramedis sehingga tidak pernah dipercaya menjadi pimpinan Puskesmas, bila dokter umumnya tidak ada maka dirangkap oleh dokter umum Puskesmas tetangga.

Bahkan dalam sebuah pertemuan seorang ”sejawat” pernah mengatakan bahwa di Puskesmas sebenarnya tidak diperlukan dokter gigi, cukup hanya perawat gigi. Menyedihkan bukan?

Tapi apa hendak dikata itulah kenyataannya, untuk mendebat selalu kalah suara karena se-Kabupaten dokter giginya hanya 5 sehingga selalu kalah suara. Satu-satunya cara agar orang lain menghargai kita adalah harus ditunjukan prestasi kerja yang optimal, oleh karena itu calon dokter gigi dan dokter gigi muda yang akan dikirim ke daerah agar tidak selalu menjadi orang ke dua hendaknya mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan berbagai kemampuan diluar ilmu kedokteran gigi seperti kemampuan manajemen dan kemampuan memahami aneka penyakit umum sehingga bisa mengerti bila diajak diskusi oleh dokter umum.

Itulah jalan satu-satunya, jangan berharap ada bantuan dari orang lain ataupun lembaga lain, organisasi macam PDGI, pengurusnya apalagi yang nun jauh di Jakarta sana tidak akan memperhatikan kita-kita yang ada di daerah.

Sumber tulisan :

http://dentamediaopini.blogspot.co.id

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Cabut Di Dokter Gigi, Bikin Gigi Palsu Di Tukang G...
views 942
Ditulis dan dipublikasikan : drg. Widya Apsari Sp.PM https://www.facebook.com Ini adalah masalah yang tidak akan (belum) ada habisnya menjadi...
Tren Terbaru : Behel Dibelakang Gigi
views 4594
image from http://www.inilahkoran.com/ Tak ingin mulut terlihat lebih maju karena penggunaan kawat gigi? Kini ada teknik anyar yang dikenalkan ke ...
Surat Edaran Tata Cara Pembayaran STR Mulai 21 Agu...
views 905
Donwload Surat Edaran Tata Cara Pmebayaran STR Bagi Dokter dan Dokter Gigi DISINI Untuk membaca dengan tampilan besar klik tanda segi empat di ...
WAJIB DIBACA : Penataan Ruang Dan Posisi Praktek Y...
views 2283
Nyeri tulang belakang merupakan jenis kelainan muskuloskeletal yang cukup sering menimpa para dokter gigi selain nyeri leher, pundak, pergelangan tang...
#UKDGI 1 : Masih Banyak Dokter Gigi Yang Tidak Lul...
views 553
Saat Uji Kompetensi, untuk pertama kalinya diselenggarakan pada tanggal 3-4 April 2007 di 11 tempat pendidikan profesi dokter gigi, banyak kalangan me...
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Pin on Pinterest0
admin
Admin website http://dental.id