website statistics
Home > Berita > Dokter Gigi HARUS Tahu : Inilah Alasan Kedokteran dan Kedokteran Gigi Berpisah

Dokter Gigi HARUS Tahu : Inilah Alasan Kedokteran dan Kedokteran Gigi Berpisah

Advertisement
Advertisement

Dokter gigi dan dokter umum terpisah sejak dalam pendidikannya.Keduanya dianggap memiliki disiplin ilmunya masing-masing.

Secara historis, semua dimulai dari zaman pertengahan di mana terdapat istilah tukang cukur-ahli bedah (barber surgeon). Dimana tukang cukur tersebut bukan hanya bertugas memangkas rambut saja, melainkan melakukan operasi seperti: amputasi organ, bekam, hingga pencabutan gigi.

“Di Amerika Serikat, tukang cukur-ahli bedahlah yang mengawali praktek tersebut. Salah satunya adalah Paul Revere, seorang denturist—penjual perhiasan yang juga melakukan praktek kedokteran gigi,” ungkap Mary Otto, seorang penulis buku Teeth: The Story of Beauty, Inequality, and the Struggle for Oral Health in America.

James Gutman, seorang editor dari Journal of the History of Dentistry, melanjutkan bahwa pemisahan ini diawali dari Pierre Fauchard, seorang bapak kedokteran gigi modern, yang berniat mengangkat bidang kedokteran gigi ke ranah sains. Salah satunya yaitu dengan memisahkannya dari dokter, tukang cukur, dan alkemis.

Mary Otto kemudian berpendapat, dokter gigi benar-benar menjadi profesi pada tahun 1840 di Baltimore. Itu adalah ketika perkuliahan kedokteran gigi pertama di dunia dibuka dan itu berkat upaya dari beberapa dokter gigi yang berlatih mandiri. Mereka adalah Chapin Harris dan Horace Hayden.

Keduanya kemudian mendekati petinggi institusi kedokteran di University of Maryland di Baltimore dengan ide menambahkan instruksi gigi untuk kursus medis di sana, karena mereka benar-benar percaya bahwa kedokteran gigi  pantas statusnya sebagai profesi, dan program studi, memiliki izin praktek, dan berdasarkan prinsip keilmiahan. Tapi institusi kedokteran tersebut menolak usulan mereka dan mengatakan subjek kedokteran gigi memiliki ruang lingkup yang kecil.

“Penolakan itu, menjadikan secara simbolis adanya hubungan yang aneh antara kedokteran gigi dan kedokteran,” lanjutnya. Kedua disiplin tersebut kemudian berpisah secara sistem dan perawatannya di Amerika Serikat.

“Pendidikan kedokteran gigi saat itu kemudian tidak berfokus pada kesehatan, namun pada pertukangan,” ujar Gutmann.

Pada tahun 1920, begawan kimia biologi bernama William Gies mengunjungi setiap sekolah gigi di dalam negeri dan di Kanada untuk Carnegie Foundation. Dalam laporannya, Gies mengatakan bahwa kedokteran gigi harus dianggap sebagai bagian penting dari sistem kesehatan. Menurutnya, gigi tidak bisa lagi diterima sebagai teknik belaka. Dia ingin kesehatan mulut dan kesehatan secara keseluruhan untuk diintegrasikan ke dalam sistem yang sama, tapi para dokter gigi berjuang untuk menjadikan institusi dan disiplin ilmu yang terpisah.

Dari Asuransi Hingga ‘Senyum Hollywood’

Pemisahan ini berefek pada fakta bahwa tiap tahun lebih dari satu juta orang pergi ke ruang gawat darurat dengan masalah gigi. Namun pasien sangat jarang mendapatkan jenis perawatan gigi yang mereka butuhkan untuk masalah gigi mereka yang mendasari karena dokter gigi tidak bekerja di ruang gawat darurat sangat sering. Pasien mendapatkan resep untuk antibiotik dan obat nyeri dan diperintahkan untuk pergi mengunjungi dokter gigi. Tapi banyak pasien ini tidak memiliki dokter gigi. Di sini menurut Mary Otto kesenjangan terjadi.

Dia kemudian melanjutkan, “Fakta lainnya bahwa catatan medis dan catatan medis gigi kita disimpan secara terpisah. Gigi memiliki kode pengobatan, tetapi sulit untuk mengintegrasikan catatan medis umum dan gigi.” Hal yang sama pula terjadi pada pemisahan antara asuransi kesehatan umum dan gigi.

Kedokteran gigi kemudian dianggap sebagai perawatan yang tidak penting, dan dilepaskan pada pelbagai program kesehatan. Namun di satu sisi terdapat tekanan sosial untuk memiliki gigi sempurna. Kesempurnaan kemudian diistilahkan dengan ‘senyum Hollywood’. Senyum sempurna ini memiliki asal-usul pada era Depresi Besar (1929-1939) di Hollywood, saat perfilman masih cukup baru pada saat itu, seorang dokter gigi muda bernama Charles Pincus yang memiliki klinik yang dibuka di sekitar Hollywood and Vine—sebuah persimpangan di Los Angeles yang terkenal sekitar tahun 1920-an.

BACA JUGA : ARTIS HOLLYWOOD INI BERUBAH KARENA GIGI, SALAH SATUNYA TOM CRUISE

Dokter gigi tersebut memliki kebiasaan pergi ke bioskop. Di sana dia melihat aktor dan aktris film yang memiliki gigi yang menurutnya kurang bagus, seperti James Dean, Judy Garland, dan Shirley Temple. Semenjak itu dia mulai bekerja dengan rumah produksi. Dia membuatkan veener untuk Shirley Temple—yang saat itu merupakan artis cilik—sehingga kita tidak pernah melihatnya kehilangan gigi susunya. Selama bertahun-tahun aktris cilik itu memiliki sepasang gigi yang sempurna dan seputih mutiara.

Kekurangan ini menjadikan perawatan gigi—dalam hal ini perawatan gigi  kosmetik—hanya untuk orang yang kaya, sedangkan untuk orang-orang yang tidak mampu. Kedokteran gigi dianggap perawatan mahal dan sulit terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.  

Puncak pemisahan ini pada tahun 1960-an dan 1970-an, dimana kesehatan sudah diasuransikan, namun perawatan gigi tidak dimasukkan.

BACA JUGA : #UPDATE : APA SAJA SIH PELAYANAN KESEHATAN GIGI YANG DITANGGUNG BPJS?

Adapun yang melayani masyarakat tidak mampu di Amerika Serikat, yaitu tukang gigi dan perawat gigi, mendapatkan penolakan dari organisasi profesi kedokteran gigi. Menariknya, menurut Otto,  kesemua polemik tersebut disebabkan permasalahan “piring nasi” dokter gigi.

Dia menganggap hal yang aneh ketika perawatan mulut bercerai dari sistem pendidikan kedokteran, organisasi dan komunitas dokter, catatan medis, dan sistem pembayaran, sehingga dokter gigi bukan merupakan jenis khusus dari dokter, tapi profesi yang lain sama sekali.

Sama halnya dengan pernyataan David Satcher, Juru Bicara Bidang Kesehatan Angkatan Laut Amerika Serikat (Surgeon General), yang mengangkat tema, “Kesehatan Gigi dan Mulut di Amerika Serikat” pada laporannya di tahun 2000. Satcher mengatakan bahwa kesehatan gigi dan kesehatan secara umum tak dapat dipisahkan.

Ketika ditanya lanjut mengenai kemungkinan kedokteran dan kedokteran gigi dapat bersatu kembali, Marry Otto berucap, “Ketika kedokteran dan kedokteran gigi sama-sama bersepakat mengedepankan perawatan pencegahan yang  lebih murah dan dapat menciptakan kualitas perawatan yang lebih baik.”

Penulis :

Dhihram Tenrisau <dhihram.tenrisau@gmail.com>

“Dokter gigi, penggila musik, tukang nonton, dan pembaca apa saja”

Sumber : the Atlantic, Wbur

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Demi Obati Masyarakat Miskin, Dokter Ini Buka Prak...
views 368
Seorang dokter biasanya membuka praktik di tempat yang higienis, bersih, dan nyaman. Namun tidak dengan apa yang dilakukan dokter yang satu ini. ...
Data 2013 : Jumlah Dokter Gigi di Indonesia Belum ...
views 535
Jumlah tenaga dokter gigi di Indonesia masih belum mencukupi. Idealnya dibutuhkan setidaknya 23.700 tenaga dokter gigi, tetapi saat ini yang ada baru ...
HMI Kedokteran Gigi UNHAS Bagi Sembako Murah
views 16
Kegiatan Bazar Murah HMI (foto: dok. Dedy Ariwansyah) Dalam momentum Ramadan tahun ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Kedokteran Gigi ...
Dokter Gigi, Jangan Khawatir Tidak Kerja
views 577
Di tengah kerasnya iklim persaingan, Unair kembali meluluskan putra-putri hasil binaannya. Namun kali ini yang lulus bukan sembarang wisudawan, namun ...
Dicari! Dokter Gigi yang Ingin Berpraktek di Hong ...
views 2547
Dokter gigi Singapura yang melayani pasien berkebutuhan khusus. Hong Kong dan Singapura kini deifisit jumlah dokter gigi. (sumber: Straits Times) ...
Share ke Teman Sejawat....Share on Facebook352Share on Google+1Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn1Pin on Pinterest0
admin
Admin website http://dental.id