web tracker Depresi, Kecemasan, dan Stres Mahasiswa Kedokteran Gigi - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Depresi, Kecemasan, dan Stres Mahasiswa Kedokteran Gigi

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook544Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Stres adalah hasil dari faktor eksternal tertentu yang mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologis seseorang. Kuliah di kedokteran gigi dapat menjadi sumber stres yang signifikan bagi mahasiswa kedokteran gigi. Beberapa studi telah mengamati tingkat stres yang tinggi pada mahasiswa kedokteran gigi dibandingkan dengan masayarakat pada umumnya.1

Dalam review Alzahem, dkk.2 mengategorikan penyebab stres dalam lima kelompok, yaitu, akomodasi, lingkungan sekolah, personal, akademik, dan faktor klinis. Ujian dan nilai merupakan faktor yang paling banyak menyebabkan stres disertai dengan waktu yang terbatas untuk bersantai. Di Arab Saudi, berbagai studi telah menguji tingkat stres di antara mahasiswa kedokteran gigi dan stresor terkait, penyebab stres yang paling banyak adalah lama studi, status pernikahan, masalah finansial, ujian dan nilai, beban kerja, dan pasien.2

Stres jangka panjang telah dihubungkan dengan perkembangan berbagai kelainan. Studi yang dilakukan di Swedia menemukan hubungan antara berbagai tingkatan stress dengan kesehatan mental, seperti, stres yang tinggi berhubungan dengan depresi, sedangan stres yang rendah hingga sedang berhubungan dengan kecemasan.3

Alansari4 melakukan penelitian pada lebih dari 18 mahasiswa S1 di 18 negara dan menemukan bahwa depresi memiliki keterkaitan yang sangat signifikan dengan kecemasan. Kecemasan berhubungan dengan pergerakan otonom, efek terhadap otot dan tulang, pengalaman subjektif dari rasa cemas, serta didefinisikan oleh American Psychological Association sebagai “emosi yang ditandai oleh perasaan tegang, pikiran khawatir dan perubahan fisik seperti peningkatan tekanan darah”.4

Penelitian Basudan, dkk.1 menunjukkan tingkat depresi, kecemasan dan stres yang relatif tinggi dan kondisi abnormal pada lebih dari setengah mahasiswa kedokteran gigi yang menjadi responden. Hasil tersebut melaporkan tingkat kecemasan, depresi, gangguan obsesif-kompulsif, dan kepekaan interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum dan mahasiswa jurusan lain di usia yang sama.1

Tingginya tingkat depresi, kecemasan dan stres dapat dikaitkan dengan tekanan yang diberikan pada mahasiswa kedokteran gigi selama pendidikan melalui beban kerja, persyaratan kasus klinis, ujian dan nilai. Rosal dkk.5 mencatat bahwa ketika mahasiswa memasuki fakultas kedokteran, mereka menunjukkan tanda depresi. Tingkat depresi tersebut sebanding dengan populasi umum, namun tingkat depresi mereka meningkat secara signifikan selama sekolah kedokteran. Kenyataannya, mahasiswa kedokteran gigi dilaporkan lebih banyak memiliki masalah psikologis daripada mahasiswa kedokteran,6 dengan tingkat depresi yang kadang tiga kali lebih tinggi.7

Mahasiswa perempuan secara universal dilaporkan memiliki tingkat stres dan kecemasan yang lebih tinggi. Pengamatan ini dapat dijelaskan oleh perbedaan psikologis intrinsik antara jenis kelamin: perempuan lebih cenderung mengartikulasikan kekhawatiran dan emosi mereka.1

Selanjutnya, untuk memastikan identifikasi dan intervensi dini terhadap kondisi psikologis, baik mahasiswa maupun fakultas harus mengenali tanda, gejala fisik dan psikologis dari kecemasan dan depresi. Perhatian lebih harus dikhususkan untuk individu yang rentan, seperti mahasiswi. Strategi pencegahan dan penangaan stres harus diterapkan di fakultas kedokteran gigi untuk meningkatkan kesejahteraan mahasiswa, mencegah putus sekolah dan memastikan perawatan pasien yang tepat.

Sumber: Depression, Anxiety and Stress in Dental Students

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook544Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0