Cabut Di Dokter Gigi, Bikin Gigi Palsu Di Tukang Gigi

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

Ditulis dan dipublikasikan :

drg. Widya Apsari Sp.PM

https://www.facebook.com

Ini adalah masalah yang tidak akan (belum) ada habisnya menjadi topik di kalangan dokter gigi. Mulai dari tukang gigi yang dengan enaknya menempel akrilik putih ke atas gusi (yang ada sisa akarnya) kemudian menempelkan kembali akrilik pink ke gigi yang masih ada di kiri dan kanannya, atau sista-sista behel online yang dengan gagahnya memamerkan hasil karya power O di gigi pasien.

Anda sebagai dokter gigi geram, gemes, dan marah atas apa yang tukang gigi dan sista-sista behel online itu lakukan terhadap gigi pasien? Mayoritas mungkin jawab iya, tau mungkin sebagian tidak peduli dengan anggapan “rezeki sudah ada yang ngatur kok”. Kalau saya sih, saya gak marah, saya gak geram atas apa yang dilakukan tukang gigi dan sista-sista online shop itu, wong pasiennya mau kok.. Tapi saya lebih concern sama pertanyaan “apa ya yang salah sama dokter gigi, kok sampai harus bersaing sama tukang gigi dan sista-sista behel online itu?”

Terjun, nemplung, tenggelam, dan terjebak dalam dunia sosmed (terutama twitter) sebagai admin selama 2 tahun ini membuat saya menyadari kesalahan saya (dan mungkin juga anda) sebagai dokter gigi. Yaitu dokter gigi ternyata memiliki citra sebagai profesi yang “menakutkan, menyakitkan, nyuruh bolak-balik dateng, matre”.

 

BACA JUGA :

PROF SOEDIBYO : PASANG GIGI PALSU DI TUKANG GIGI SEPERTI PASANG RANJAU DI MULUT

image from http://ugm.ac.id
image from http://ugm.ac.id

Dokter gigi itu mencitrakan dirinya ekslusif dan tidak terjamah oleh masyarakat, kerutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Hal ini berbeda jauh sama citra yang keluar dari tukang gigi dan sista behel online. Mereka mencitrakan diri sebagai sosok yang membantu masyarakat menengah ke bawah (walaupun sebenarnya ngerusak, tapi niatnya kan membantu), mewujudkan impian pakai behel dengan harga terjangkau (walaupun akhirnya giginya jadi compang-camping, tapi harapan untuk memakai behelnya kan tercapai).

Nah, kalau sejawat gemes saya tukang gigi dan sista behel online, sebelum mencaci maki mereka coba bercermin dulu pada diri sendiri dan renungkan, bagaimana pencitraan yang anda lakukan, baik di depan pasien secara offline maupun di dunia online? Bagaimana bahasa yang anda gunakan ketika berbicara dengan pasien anda? Bagaimana gestur tubuh anda ketika berhadapan dengan pasien?

Udah saatnya dokter gigi Indonesia berbenah diri. Jangan cuma belajar bagaimana menambal gigi dengan bagus, jangan cuma belajar bagaimana mencabut gigi dengan cepat, tapi mulailah belajar memperlakukan pasien sebagai manusia utuh yang memiliki pikiran yang independen. Dan coba bermain-main ke dalam pikiran pasien untuk secara berlahan memberikan pemahaman bahwa perawatan behel dan pemasangan gigi palsu itu sama seperti memasang ring di jantung, harus dilakukan oleh seorang dokter.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI :

Sumber tulisan :
Berikan Komentar Disini
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook
Facebook
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin

admin

Admin website http://dental.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.