web tracker Apa Itu Green Dentistry? - dental.id
Download! Download Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter Gigi Dari PB PDGI

Apa Itu Green Dentistry?

Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook3Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Ads
Advertisement

Kebanyakan dari kita sering mempermasalahkan masalah limbah rumah tangga dan pabrik yang telah banyak merusak lingkungan. Namun kita tidak menyadari bahwa tempat praktik dokter gigi dapat berpotensi sebagai asal limbah yang tak kalah membahayakan bagi lingkungan bahkan dapat menyebabkan penyakit menular. Limbah berbahaya tersebut dapat berupa limbah infeksi dan limbah kimia.

Limbah infeksi adalah limbah yang dapat menularkan penyakit seperti darah dan jaringan, yang dapat menularkan penyakit seperti demam berdarah, diare, hepatitis dan flu burung. Sedangkan limbah kimia adalah limbah yang dapat merusak lingkungan seperti limbah tambalan amalgam (berwarna hitam) yang mengandung merkuri sebanyak 40-50 persen, limbah pencucian film X-ray yang mengandung silver,hydroquinone dan chromium, limbah bahan sterilisasi alat yang mengandung alkohol, glutaraldehydedan ortho-phthaldehyde, dan cairan bleaching dengan konsentrasi tinggi.

Selain kedua jenis limbah tersebut, bahan-bahan dan obat yang selalu dipakai dokter gigi dalam praktiknya juga dapat mengganggu lingkungan, seperti jarum suntik, masker, sarung tangan, alat-alat pemanas, obat-obat pulpa dan sinar halogen serta laser. Jika tidak ditampung di tempat khusus, bahan-bahan tersebut dapat ikut aliran pembuangan selokan lalu ke sungai dan ke laut atau bisa juga mengendap di sekitar saluran pembuangan. Sehingga dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan menimbulkan penyakit yang menular seperti demam berdarah, diare, hepatitis dan flu burung.

 

image from http://klinikjoydental.com
image from http://klinikjoydental.com

Di Indonesia keadaan ini masih sangat memprihatinkan dan perlu mendapatkan perhatian serius. Oleh karena itu, saat ini Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), tengah gencar menyuarakan Green Dentistry, sebuah pendekatan yang menggabungkan praktik kedokteran gigi dengan pemeliharaan lingkungan. Untuk mendukung kegiatan tersebut praktik dokter gigi perlu menggunakan bahan kedokteran gigi yang non-toksik, untuk mengurangi limbah.

Baca Juga : Green Dentistry: Sebuah Konsep Praktik Dokter Gigi Ramah Lingkungan

“Dokter gigi diharapkan mempunyai tanggungjawab dalam memelihara atau melindungi lingkungan tempat praktiknya, mulai dari perlindungan kepada pasien, klinik dan alam sekitar sebagai sumbangan kepada sistem lingkungan hidup sehat,” ujar Prof Siti Mardewi S A, anggota PDGI yang aktif menyuarakan Green dentistry, saat ditemui Kompas.Com.

Beberapa cara untuk mengurangi toksik adalah dengan mengurangi atau menghentikan penggunaan bahan berbahaya, seperti menyiapkan alat pembuangan yang aman bagi lingkungan dan menggunakan bahan lain yang lebih aman seperti menggunakan tambalan composite resin (berwarna putih), penggunaan digital X-ray, netralisasi alat dengan glycine dan penurunan konsentrasi kurang dari 1 persen pada cairan bleaching.

Ini merupakan masalah yang penting karena itu harus melibatkan berbagai pihak mulai dari lembaga pendidikan khususnya kesehatan, lembaga pemerintahan, lembaga tata kota dan lingkungan hidup. Masyarakat sebagai pasien juga harus dapat berperan aktif, dengan memberikan perhatian dan pengawasan pada peralatan atau bahan-bahan yang digunakan dokter gigi. ¨Bayangkan jika green dentistry tidak dilakukan dari sekarang, global warming pasti segera mengancam manusia dan lingkungan,” tambah Siti Mardewi.

Baca Juga : Polisi Menggerebek Klinik Gigi Yang Mempekerjakan Dokter Asing

Sumber tulisan :

http://dentistrymolar.com/

Berikan Komentar Disini
Advertisement
Advertisement

Artikel Terkait

Green Dentistry: Sebuah Konsep Praktik Dokter Gigi...
views 557
Green Dentistry adalah pemberian pelayanan kesehatan gigi mulut menggunakan teknologi prosedur, dan bahan yang memelihara kesehatan lingkungan dan mem...
Share ke Teman Sejawat....
Share on Facebook3Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0